Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode ,162


__ADS_3

," Kalia." Ucap Ramon saat memasuki apartemen ya dan mendapati kedua orang tuanya sudah duduk di sofa ruang tamunya.


Kedua orang tua Ramon menatap putra mereka dengan tatapan penuh pertanyaan,Ramon berjalan menghampiri keduanya dengan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kenapa tidak memberitahu ku kalau kalian akan berkunjung kemari." Tanya Ramon sambil duduk di sofa yang berada di depan kedua orang tuanya.


"Kemana saja kamu dua hari ini?" Tanya ibu Ramon tanpa menjawab pertanyaan dari putra sulungnya itu.


"Aku sibuk ,Ma.." Elak Ramon beralasan sambil memakan cemilan yang ada di atas meja.


Ibu Ramon memutar bola matanya jengah, selalu saja putra menjawab dengan jawaban sibuk untuk mematahkan berbagai macam pertanyaan yang selalu di tujukan padanya.


"Sesibuk apa sih kamu,sampai_sampai calon istrimu sakit kamu tak punya waktu untuk menemaninya ,malah kamu justru mengirim asisten rumah tangga untuk menemaninya di rumah sakit,kamu harusnya..."


"Sudah Ma , aku lelah besok kita mengobrol lagi." Potong Ramon lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan kedua orangtuanya begitu saja di ruang tamu,ia lalu naik ke kamarnya di lantai dua.


"Lihat putramu Pa,anak itu benar-benar keterlaluan." Kesal ibu Ramon sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sudahlah Ma, jangan memaksa nya terus menerus,bisa - bisa dia tertekan karena tekanan,biarkan dia menjalani hidupnya seperti yang dia inginkan." Ujar Papa Ramon bijak.


Sejak awal ayah Ramon memang tak pernah sepenuhnya menyetujui perjodohan itu karena ia bisa melihat jika putranya itu tidak bahagia dengan hubungan itu.


"Papa ini,bukannya membantu mencari jalan keluar malah bikin Mama tambah kesal." Ibu Ramon pun beranjak dari sofa dan meninggalkan suaminya sendirian.


Ayah Ramon menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil menatap dengan pandangan kosong kedepan seolah memikirkan sesuatu tapi entah apa.


"Dokter Vio kenalkan , ini dokter Farhan , beliau dokter spesialis jantung, dan sudah beberapa tahun ini beliau juga sering berkunjung ke desa ini untuk memeriksa jantung warga di sini, karena sarana transportasi belum memadai untuk ke kota jadi kebanyakan warga yamg meninggal dadakan warga selalu menyimpulkan mereka kena santet padahal mereka terkena serangan jantung, beliau sangat berjasa di desa kami." ucap ucap kepala desa saat memperkenalkan Vio dan seorang dokter pria yang baru saja tiba di desa itu untuk menjalankan kegiatan rutinnya ke desa in"Vio." Ucap Vio memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya dengan tersenyum ramah


"Farhan." Balas dokter Farhan membalas uluran tangan dari Vio.


"Baiklah karena kalian sudah saling mengenal,kami berharap kalian bisa b kerja sama untuk kebaikan desa kami,kami sangat senang dengan kedatangan para dokter terbaik di desa kami ini." Jelas kepala desa penuh haru.

__ADS_1


Vio dan Farhan tersenyum bahagia karena di terima sangat baik di desa ini.


Tanpa mereka sadari sejak tadi seseorang memperehatikan mereka dari jarak jauh sambil mengambil gambar mereka tanpa mereka ketahui.


Tangan Ramon terkepal kuat saat sebuah pesan masuk di ponselnya,matanya menatap tajam kedepan dengan sebuah ponsel di tangannya.


"Pesankan tiket untukku sekarang juga." Perintah Ramon saat menelfon Rendi sang asisten


"Baik bos." Jawab Rendi tanpa bertanya tiket untuk tujuan kemana,ia hanya mengiyakan saja tapi tanpa bertanya pun ia pasti sudah tahu kemana tujuan bosnya itu.


Setelah menelfon Rendy, Ramon pun beranjak dari tempatnya,ia kemudian mengambil kunci mobil nya di atas tempat tidur ,setelah itu ia pun keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Mau kemana lagi kamu , Mon?" Tanya Ibu Ramon saat melihat Ramon baru saja menginjakkan kakinya ke lantai setelah melewati anak tangga terakhir.


"Aku ada kerjaan Ma, hari ini aku mau ke luar kota ada pekerjaan yang harus Ramon selesaikan " Jelas Ramon sembari berjalan menuju meja makan dimana mam dan papanya berada di sana.


"Sophiaasih di rawat di rumah sakit , Mon." Ucap ibunya mengingatkan.


"Aku pergi dulu,Ma Pa." Pamit Ramon lalu beranjak .


"Berhenti Ramon." Teriak ibu Rey dengan penuh emosi. Kali ini ia benar-benar emosi menghadapi sikap putranya itu.


Ramon menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan mamanya itu,ia kemudian memutar tubuhnya menghadap ke rah mamanya.


"Keterlaluan sekali kamu Ramon, apa kamu tidak punya hati,tunanganmu tergeletak di rumah sakit dan tak sekalipun kamueluangkan waktu untuknya, Sophia berada di negara ini karena kamu dan setelah dia di sini kamu memperlakukannya dengan tidak baik,mama benar-benar kecewa sama kamu,siapa yang mengajarimu memperlakukan wanita seperti itu terlebih wanita itu adalah calon istrimu sendiri." Ujar mama Ramon panjang lebar.


"Ramon duduk di sini." Perintah papa Ramon. Ramon pun kembli berjalan menuju meja makan dimana kedua orang tuanya duduk di sana.


"Sepenting apa pekerjaan mu sehingga kamu yang harus ke sana,bukankah Rendy bisa mewakili mu?" Ujar papa Ramon saat Ramon sudah duduk di kursi berhadapan dengan mamanya, sedangkan papanya berada di ujung meja.


"Tidak Pa, ini sangat penting harus aku yang turun tangan langsung." Ujar Ramon menatap ayahnya.

__ADS_1


Tapi Sophia masih di rawat Mon,apa tidak bisa di tunda." Potong ibu Ramon ."Apa semua pekerjaanku harus aku batalkan karena alasan Sophia sakit?" Ramon terlihat begitu kesal karena mamanya terus saja menyebut nama Sophia."


"Bukan itu maksud..."


"Pergilah,selesaikan pekerjaan mu,setelah itu kembalilah secepatnya." Ujar ayah Ramon memotong ucapan istrinya itu .


Ramon tersenyum bahagia setelah mendapat izin dari sang ayah,selama ini Ramon memang lebih nyaman bercerita dengan ayahnya di bandingkan dengan mamanya., Bukan tanpa alasan Ramon melakukan hal itu. Menurutnya ayahnya lebih mudah di ajak mengobrol dari pad sang ibu yang selalu saja membuatnya tertekan jika mengobrol dengan ibunya.


"Pa...apa maksudmu?" Ibu Ramon terlihat tidak terima dengan keputusan suaminya itu yang memberikan isin untuk Ramon pergi.


"Sudahlah Ma, putramu itu sedang bekerja,biarkan dia fokus pada pekerjaan nya, jangan mengganggu nya dengan hal- hal yang tidak penting."


"Tidak penting?"


"Ramon berangkat Pa , Ma ..." Pamit Ramon sembari beranjak dari kursinya dan meninggalkan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda satu sama lain.


Di tempat yang berbeda,Vio sedang sibuk merawat beberapa warga yang sedang jatuh sakit,saat ini klinik yang ternyata di bangun oleh Farhan di desa kecil itu terlihat begitu Rai pengunjung,karena bukan warga dari desa itu saja yang datang berobat tapi juga warga dari desa tetangga lainnya. Kehadiran kliniknitu memang sangat memudahkan warga sekitar karena mereka tidak perlu lagi ke kota untuk sekedar memeriksakan diri atau membeli obat-obatan selain jaraknya yang neitu jauh jalanan pun sangat tidak baik.


.


..


.m..


,


,\=


0


0

__ADS_1


__ADS_2