Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 126


__ADS_3

Vio dan Ramon sedang mengatur rencana untuk memulai misi mereka,saat ini Ramon tengah mengurus segala prosedur untuk perpindahan tugas sementara mereka di rumah sakit tempat Viola di rawat,dan untungnya rumah sakit itu adalah rumah sakit milik keluarga Sophia jadi mereka mudah untuk bergabung di rumah sakit itu dan ditambah dengan keahlian dan kecerdasan mereka yang memang merupakan salah satu dokter terbaik di salah satu rumah sakit terbaik di kota Berlin.


Dan pagi ini Vio dan Ramon baru saja akan berangkat kerja,ini adalah hari pertama mereka bertugas sebagai dokter sementara di rumah sakit itu.


"Dengar,aku sudah mengatakan segalanya pada direktur rumah sakit,jadi kalian langsung masuk saja." Ujar Sophia saat mereka sedang berkumpul di meja makan.


"Thanks Piu." Ucap Ramon sambil mengunyah roti sandwich miliknya.Sedangkan Vio hanya diam mendengarkan pembicaraan antara Sophia dan Ramon.


Piu adalah panggilan kesayangan Ramon pada Sophia,panggilan itu ia sematkan sejak mereka masih kecil,karna dulu Ramon yang begitu sulit menyebut nama Sophia akhirnya mencari nama yang mudah untuk Sophia,entah apa sebabnya akhirnya nama Piu itu ia berikan pada Sophia.


"Baiklah,kalian pakai mobilku saja,aku tidak bisa mengantar kalian jadi bawa mobil sendiri saja ya,hari ini aku harus bertemu dengan klien penting." Ujar Sophia lalu menyerupuk jus yang ada di gelasnya .


"Lalu kamu pakai apa berangkat kerja nya?" Tanya Ramon.


"Ada kok mobil lain,tadi sudah di antar sopir dari rumah papi."


Ramon manggut-manggut mendengar kan Sophia,ia lalu berdiri dari kursinya dan di ikuti oleh Vio dan Sophia.


Mereka berjalan keluar dari apartemen dan berpisah di area parkir setelah memasuki mobil masing-masing,Ramon dan Vio berangkat bersama dan Sophia berangkat sendiri karna arah mereka berbeda.Sophia bekerja sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan terbesar di kota Hamburg,ia lebih memilih bekerja di perusahaan lain daripada mengurus perusahaan ayahnya,untunglah dia mempunyai seorang kakak laki-laki jadi dia tak harus dipaksa untuk mengurus bisnis sang ayah.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit Ramon dan Vio tiba di rumah sakit dimana mereka akan bekerja sementara waktu.Keduanya pun keluar dari mobil dan memasuki lobi rumah sakit itu,dari luar bangunan rumah sakit itu berdiri kokoh dengan segala kemegahannya,salah satu rumah sakit terbaik dan tempat orang-orang elit di rawat .

__ADS_1


"Selamat datang tuan dan nona, selamat bergabung di rumah sakit kami." Ujar direktur rumah sakit saat menyambut Ramon dan Vio di ruangannya sambil mengulurkan tangannya kepada Ramon lalu berpindah pada Vio.


"Terimakasih atas sambutan hangat anda,kami sangat senang bisa bergabung di rumah sakit ini." Ujar Ramon sambil tersenyum.


"Ayo , saya akan memperkenalkan kalian pada dokter lain ." Ajak Dokter Jhon lalu beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Ramon dan Vio,mereka kemudian memasuki ruang pertemuan dimana semua dokter telah berkumpul untuk melakukan briefing pagi.


"Selamat pagi semua,hari ini kita kedatangan dua dokter muda yang berbakat, mereka adalah dokter terbaik dari utusan rumah sakit X untuk membantu kita melakukan perawatan pada pasien-pasien dalam beberapa Minggu kedepan.Mereka adalah dokter bedah terbaik dari rumah sakit X.


Puk....puk....puk....riuh tepuk tangan menyambut bergabungnya Ramon dan Vio, mereka menyambut kedua dokter muda itu dengan tangan terbuka dan dengan rasa senang.


Setelah memperkenalkan keduanya pada rekan-rekan seprofesi mereka kini Ramon dan Vio berada di ruangan mereka masing-masing,ruangan mereka pun bersisian.


Di rumah sakit yang sama seorang wanita paruh baya turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan panik ia memanggil beberapa perawat yang sedang membawa tandu pasien dan berjalan dengan cepat menghampiri wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu Rey.


"Anda tunggulah di sini,kami akan memeriksa pasien dulu." Ujar salah satu perawat wanita yang menghentikan langkah ibu Rey saat ingin ikut masuk ke ruang UGD.


Ibu Rey yang tadi hendak masuk terpaksa harus menunggu di luar karena pintu ruang UGD itu ditutup .


Ibu Rey menunggu sambil mondar-mandir sambil memegang ponsel nya ,tak tenang dengan kondisi sang cucu.Berkali-kali ia menghubungi ayah Rey tapi ponsel sang suami tak kunjung aktif.


Ibu Rey lalu duduk di kursi tunggu yang terbuat dari besi,ia terlihat begitu cemas apalagi ia hanya sendiri,sang suami dari kemarin ke luar kota untuk urusan pekerjaan nya.

__ADS_1


Rosa yang harus kembali masuk kerumah sakit untuk kesekian kalinya karna tiba-tiba dirinya jatuh pingsan setelah sarapan dengan darah yang menetes di hidungnya .


"Ibu Sukma." Panggil seorang wanita yang berdiri tepat di depan ibu Rey yang sedang tertunduk sambil memegang ponselnya untuk menghubungi sang suami.


Merasa dirinya ada yang memanggil,ia kemudian mendongak dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang wanita cantik yang sangat di kenalinya meski kini sang wanita cantik itu sedang memakai baju kebesaran kedokteran nya.Ibu Rey yang tadinya begitu cemas tiba-tiba merasa senang.


"Kamu...kamu di sini?" Tanya ibu Rey lalu berdiri dari duduknya mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Vio.


"Iya,ibu ngapain di sini?"Vio lalu melangkah mendekati ibu Rey lalu mengajaknya duduk kembali di kursinya yang tadi.


"Kamu apa kabar,begitu lama kita tidak bertemu dan tanpa sengaja bertemu di sini." Ujar ibu Rey raut wajahnya kini berubah menjadi bahagia,entah mengapa ada rasa tenang yang di rasakan olehnya saat bertemu dengan Vio.


"Baik Bu,kalau ibu apa kabar dan ibu ngapain di sini?"


"Baik juga,ibu lagi menunggu Rosa, tiba-tiba kondisi Rosa drop padahal sudah beberapa bulan ini dia baik- baik saja."Ucap ibu Rey yang kembali sedih mengingat kondisi sang cucu.


"Rosa di rawat di sini?bukannya dia di rawat di Singapura?" Tanya Vio pura-pura terkejut dan tak tahu menahu perihal keluarga suami kakaknya itu.


"Tidak,sudah lima tahun ini kami pindah dan menetap di negara ini,dan Rosa juga menjalani perawatan di sini."


"Oh begitu,lalu putra ibu juga ikut pindah?"

__ADS_1


Ibu Rey menggeleng pelan,ada rasa sesak di dadanya saat Vio menyebut sang putra, hatinya kembali di rundung kesedihan.


__ADS_2