
Rey berjalan ke kursinya tanpa mempedulikan Dion yang sudah mencium lantai akibat ulahnya,Dion hanya pasrah melawan juga percuma yang ada dia akan semakin babak belur.
" Kalau saran saya bos, bagaimana kalau bos melanjutkan pertunangan bos dengan Mona saja dulu,dengan begitu kita bisa lebih leluasa untuk mencari tahu rencana- rencana ayahnya, setelah itu kita akan menyerang mereka tanpa ampun." Ucap Dion saat sudah berdiri dan duduk di sofa .
"CK...aku bahkan tidak betah berada di dekatnya walau sedetik saja,lagian itu akan membuat Delia semakin membenciku." Ucap Rey keberatan,dia tidak akan rela memberikan posisi Delia di hidupnya walau itu hanya sandiwara sekali pun.
Dion menghela nafas berat,ingin rasanya dia membentur kan kepala Rey di tembok sekarang juga agar pikiran nya bisa terbuka sedikit.
"Ini juga demi kebaikan dan keselamatan nona Delia,lagian nona Delia untuk sementara ini bisa aman karna dia sedang bersama Ramon." Ucap Dion tanpa menyadari ucapannya barusan yang telah membuat amarah Rey kembali memuncak,Rey menatap horor Dion, sementara Dion yang baru menyadari kalau dirinya telah kecoplosan segera menutup mulutnya dengan satu tangannya dan tangan lainnya membentuk huruf V .
"Katakan apa lagi yang kamu sembunyikan,hach.." Selidik Rey dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Hanya itu bos."
Rey menatap Dion dengan tajam seolah ingin memangsanya.
"Sungguh bos,hanya itu." Dion mengangkat jarinya dan membentuk huruf V sambil tersenyum kecil,padahal hatinya sangat takut memandang mata horor bosnya itu.
"Lalu apa rencana mu?" Tanya Rey lagi .
"Yang seperti saya katakan bos."
"CK... menyebalkan." Rey beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar dan di ikuti Dion di belakang,hari ini Meraka akan memulai rencananya.
Flashback of
Rey dan Dion menghentikan langkahnya saat mereka berada di lobi, seorang wanita cantik dan seksi berjalan ke arah mereka dengan senyum tersungging di bibir seksi nya.
"Sayang ,kamu mau kemana?" Tanya Mona sambil bergelayut manja di lengan Rey.
Rey menatap ke arah Dion dengan tatapan membunuh, sedang kan Dion yang di tatap seperti itu seketika merinding,ia lalu mendekati Rey.
" Saatnya menjalankan rencana bos." Bisik Dion di telinga Rey.
Rey hanya manggut-manggut mendengar bisikan Dion dan bercampur kesal,harusnya hari ini Rey mencari Delia tapi sepertinya dia harus bersabar karna ada misi yang harus di selesaikan.
"Kenapa sih bisik-bisik." Tanya Mona penasaran.
__ADS_1
"Tidak apa-apa,Dion ingin pergi lebih dulu menemui klien." Ucap Rey dengan mimik seramah mungkin padahal hatinya begitu kesal.
"OOO baiklah."
Dion meninggalkan Mona dan Rey di lobi,hari ini ia akan ke markas rahasia mereka untuk mengatur strategi yang tepat.
Sementara Rey dan Mona keluar meninggalkan kantor,entah kemana mereka akan pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Delia baru saja berbicara dengan Ramon, membicarakan langkah yang harus di ambil untuk menyembuhkan Vio.
"Sebaiknya kita membawa Vio ke Jerman,rumah sakit di sana lebih menunjang,Karna di sini sama sekali tidak ada perubahan, secepatnya kita harus membawanya." Ujar Ramon saat mereka sedang berbincang di ruangannya.
Hanya itu saran terbaik yang bisa Ramon berikan.Delia menghela nafas berat,ia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur di kamarnya, pikiran nya benar-benar mumet.
"Membawa Vio ke Jerman pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan tabungannya sudah habis ,tidak ada pemasukan sama sekali Karna dirinya sudah tidak lagi bekerja,bukan tidak mau bekerja tapi belum ada panggilan pekerjaan untuknya.
Delia benar -benar dalam kesulitan sekarang, sedangkan Vio tidak bisa menunggu lama dalam penyembuhan nya.
Deg
"Tanda tangani itu maka kamu akan mendapatkan uangnya." Delia mengingat ucapan Rey saat itu,hatinya bimbang antara menandatangani surat ini dan mengambil cek itu yang sekaligus mengakhiri pernikahan nya bersama Rey atau mempertahankan pernikahan nya tapi Vio membutuhkan biaya untuk sembuh.
Bayangan kebersamaan Delia dan Rey berputar di kepalanya, pikirannya menerawang jauh kebelakang, kebahagiaan yang di selimuti cinta yang begitu besar, haruskah ia mengakhiri nya,toh Rey yang meminta meski dalam surat itu Rey belum menandatangani nya.
"Mungkin ini yang terbaik, berpisah dan mengakhiri segalanya,to Rey sudah bahagia dengan hidupnya sekarang,kenapa aku harus bertahan jika Rey sendiri sudah tidak menginginkan nya.Tidak ada pilihan maaf kan aku,mungkin tuduhanmu membenarkan tindakan ku ini,tapi aku tidak punya pilihan aku membutuhkan uang." Batin Delia dengan di iringi air mata yang jatuh begitu saja.
Delia berjalan ke meja rias,dan mengambil pulpen,ia menarik nafas pelan lalu menghembuskan nya pelan lalu menandatangani surat perceraian itu.Delia menangis tersedu-sedu tak pernah terbayangkan pernikahannya akan berakhir seperti ini.Setelah merasa lebih baik Delia mengusap pelan pipinya,ia lalu memasukkan dokumen itu kembali di dalam map dan mengambil cek senilai dua miliar.
"Aku harus mengirim dokumen ini ,setelah itu aku akan membawa Vio dan Revan keJerman,semoga saja disana kami bisa memulai hidup yang lebih baik." Gumam Delia yakin.
Delia keluar dari kamarnya,ia menatap sekeliling nya sunyi, seperti nya Revan belum pulang sekolah.Delia berjalan masuk ke dapur untuk memasak makan siang,dia begitu sibuk di dapur sampai -sampai tak menyadari kedatangan Revan yang sudah duduk di meja makan.
Saat membalikkan tubuhnya ,Delia di buat terkejut karena Revan tiba-tiba saja ada di dapur ,sedang mencicipi sayur bening buatan Delia.
"Baru pulang kamu?" Tanya Delia sambil berjalan membawa ikan gurame goreng di tangan nya dan meletakkan nya di atas meja tempat Revan duduk.
__ADS_1
"Iya.." Jawab Revan sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring nya.
"Kok gak salam, biasakan memberi salam." Ujar Delia sambil duduk di kursi dan mengambil makanan nya.
"Dari tadi Revan,beri salam..kakak saja yang tak mendengarkannya."
"Benarkah?"
"Hhhmmm.." Revan mengunyah makanannya dengan lahap, masakan Delia memang tak ada tandingannya.
"Setelah makan,ada yang mau kakak bicarakan." Ujar Delia .
"Ada apa kak,apa ini masalah kak Vio."
"Iya,tunggu kakak di luar ,kakak membereskan ini dulu." Delia berdiri dan mengumpulkan piring kotor dan mengangkatnya ke wastafel, sementara Revan berjalan keluar ruang tamu dan duduk di sofa menunggu pekerjaan Delia selesai.
Setelah pekerjaannya selesai, Delia berjalan menyusul Revan yang sedang asyik menonton televisi sambil menunggu Delia.
Delia keluar dengan membawa dua cangkir teh hangat dan satu piring berisi kue bolu buatannya, ia lalu meletakkan nya di meja.
"Wah enak nya." Seru Revan sambil mengambil satu kue bolu dan memakannya.
"Kita akan ke Jerman." Ujar Delia saat duduk di sofa,ia menatap Revan yang melongo dengan mulut sedikit terbuka dan kue yang ingin di makannya menggantung di tangannya saat mendengar ucapan Delia yang mengejutkannya.
"Dokter menganjurkan untuk membawa Vio ke Jerman, karena di sini tidak ada perubahan yang berarti." Jelas Delia.
"Tapi kak ..pasti itu sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit,belum lagi biaya hidup dan tempat tinggal kita nantinya."
"Tidak usah memikirkan itu,biar kakak yang mengurus nya,kamu hanya perlu bersiap."
"Kapan kita berangkat?"
"Dua Minggu lagi,bukankah Minggu depan kamu akan ujian akhir,jadi setelah kamu ujian kita akan berangkat ke Jerman,di sana kita akan memulai hidup baru."
"Maksud kakak kita akan menetap di sana."
"Kakak belum memutuskan itu,tapi melihat kondisi Vio sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama untuk pemulihannya ."
__ADS_1
Sejenak Revan dan Delia terdiam.Delia sudah memutuskan untuk membawa Vio ke Jerman dan itu artinya mengorbankan pernikahan nya bersama Rey.