Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 149


__ADS_3

memandang wajah Delia dengan datar,tak ada ekspresi di yang nampak di wajahnya.


"Untuk terakhir kalinya mas,ayo kita mengantarkan Rosa ketempat peristirahatannya,demi Tosa."


Lama Rey terdiam mendengar kan segala bujukan istrinya .


"Baiklah." Rey mengangguk pelan menyetujui saran dari istrinya dan hal itu membuat Delia bernafas lega,ia pun kembali memeluk sang suami.


"Ayo,kita siap-siap." Ajak Delia lalu berdiri dari tempatnya dan menarik tangan Rey yang membuat Mau tak mau Rey terpaksa berdiri mengikuti langkah Delia, seperti anak kecil yang yang mengikuti ibunya.


Vio berdiri di ruang keluarga saat Delia dan Rey baru saja keluar dari ruang kerja Rey,Delia mengangguk ke arah Vio saat mata mereka saling bertemu,Vio pun tersenyum lebar saat mendapati kode dari Delia dan bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rey


Di Jerman tepatnya di kediaman orang tua Rey,begitu ramai pelayat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa, kebanyakan dari mereka adalah keluarga besar mereka yang datang dari Indonesia dan London termasuk juga orang tua Ramon.


Ibu Rey terduduk lemas di depan jenasah Rosa, matanya begitu sembab akibat menangis terus menerus, matanya memandang kosong ke arah tubuh Rosa yang kaku,serasa ada yang menghujam hatinya,pada akhirnya penyakit itulah yang membawa sang cucu menghadap Tuhan di usianya yang masih sangat belia .


"Semua sudah siap,tinggal membawa jenazah saja." Ucap salah seorang kerabat.


"Tunggu dulu sebentar,Rey belum datang tunggu sebentar lagi." Ucap ibu. Rey mencegah jenasah Rosa di bawa ke.pemakamam karena Rey belum datang.


"Untuk apa menunggu nya,dia tidak akan datang." Timpal ayah Rey yang muncul dari belakang.


Ibu Rey menoleh ke arah suaminya yang berjalan mendekati nya.


"Kalau semua sudah siap tunggu apa lagi,tidak baik membiarkan jenasah menunggu." Lanjut ayah Rey lagi tepat di samping sang istri ..

__ADS_1


"Tapi pa,me...." Ibu Rey menghentikan ucapannya saat suaminya menatapnya dingin. Kekecewaan atas sikap dan keputusan suaminya itu begitu besar,bahkan kepergian Rosa tidak juga memuat hatinya melunak.


Ibu Rey hanya mampu menatap sedih,hatinya tersayat ketika Jenasah Rosa mulai di angkat,namun saat beberapa orang yang mengangkat jenasah itu langkah mereka terhenti saat di depan pintu berdiri seseorang yang baru saja datang .


"Rey..." Lirih ibu Rey saat melihat kedatangan putranya itu,ia tersenyum lega karena sang putra akhirnya datang juga,tadinya ia pun sempat berfikir kalau saja Rey tidak akan datang .


Rey melangkah pelan ,langkahnya terasa begitu lemas,saat melihat langsung jenasah Rosa ,yang berada di dalam keranda. Beberapa orang yang tadi mengangkat keranda itu pun kembali menurunkan nya di Lantai. Rey lalu mendekati nya yang di susul oleh Delia dan Vio di belakang.


Rey terduduk tepat di samping jenasah Rosa yang kini terlihat kaku dan pucat pasi.Rey mencoba untuk tetap kuat di depan keluarga nya wali di dalam hatinya begitu hancur dan terpuruk.


"Sudah waktu nya nak, ikhlaskan Rosa. dia kini sudah bahagia dan bertemu dengan orang tuanya,dia tidak akan merasakan sakit lagi." Ucap ibu Rey yang duduk di samping Rey.


Setelah beberapa saat akhirnya jenasah Rosa di bawa ke pemakaman. salah satu pemakaman elit yang ada di kota Hamburg adalah pilihan keluarga untuk tempat istirahat terakhir Rosa.


Semua keluarga yang mengantar pun satu persatu pulang meninggalkan pemakaman,dan hanya menyisakan Rey ,Delia ,Vio dan kedua orang tuanya.


"Ayo pulang mas." Ajak Delia sambil memegang bahu Rey.


""Ayo ma,pa." Ajak Delia lagi pada kedua orang mertuanya.Ibu Rey lalu beranjak dari pusara Rosa sedangkan ayah Rey masih di tempatnya memandang dalam pusara sang cucu yang baru saja di kebumikan.


"Kalian duluan saja,mama akan menyusul nanti." Ucap ibu Rey menghentikan langkahnya saat menyadari sang suami masih tak bergeming dari tempatnya.


Delia mengangguk pelan,ia lalu menggandeng tangan Rey lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil mereka dimana Vio ,Kenan dan Revan sudah menunggu di sana.


Mobil melaju meninggalkan pemakaman itu,Rey masih terdiam , sejak Rosa di makamkan Rey tak sekalipun bersuara dan Delia memahami kondisi sang suami yang masih syok dan terguncang atas kepergian Rosa. Meski mereka menyadari jika pada akhirnya Rosa akan pergi mengingat penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuhnya,tapi tetap saja, kematian Rosa adalah pukulan terberat yang menimpa mereka,rasa kehilangan itu semakin besar ketika orang yang begitu dekat dan begitu di sayangi pergi untuk selamanya apalagi disaat - saat terakhirnya kita tak berada di sampingnya.


Rey menoleh ke arah Delia yang duduk di sampingnya saat ia merasakan genggaman Delai begitu erat padanya,Rey tersenyum tipis menatap wajah sang istri yang juga tersenyum padanya,mereka saling memberi kekuatan dan dukungan satu sama lain.


"Kita langsung ke hotel saja Van." Ujar Rey pada Revan yang mengemudi mobil.

__ADS_1


"Baik kak."


"Ke hotel mas? kita tidak ke rumah mama dulu?" Tanya Delia terkejut.


"Tidak usah,aku tidak mau terjadi keributan lagi kalau aku kesana,aku tidak ingin emosi ku terpancing jika bertemu papa." Jelas Rey sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil.


Keheningan pun kembali terjadi,tak ada lagi yang melanjutkan percakapan saat mendengar keputusan Rey.Delia pun tak berani membantah keputusan Rey itu walau hatinya menyayangkan keputusan Rey.


Di kediaman orang tua Rey kini sudah kembali sepi seperti biasanya,semua keluarga dan kerabat sudah pulang kerumah masing-masing,hanya ibu dan ayah Rey yang tertinggal di rumah itu,serta beberapa orang asisten rumah tangga yang membantu membersihkan bekas acara tadi .


"Mau sampai kapan hatimu membatu mas?Rosa sudah pergi selamanya,masihkah itu belum membuat hatimu luluh." Ujar ibu Rey saat mereka berada di dalam kamar,ayah Rey hanya terdiam mendengar ucapan istrinya,ia hanya menatap Kilauan lampu-lampu jalan di luar saja melalui balkon kamarnya .


"Minta maaf lah pa,akhiri semua ini...buang segala amarah,kebencian dan dendam di hatimu pa. Kita sudah begitu tua mas,tak ada siapapun,entah anak atau pun cucu tak ada lagi,mereka sudah pergi meninggalkan kita selamanya pa,tidak kah kamu berfikir jika semua ini bisa saja balasan atas perbuatan mu di masa lalu pa,kita kehilangan anak,menantu dan sekarang kita kehilangan cucu,tidak kah itu membuka pintu hatimu ubtuk merenunginya. lalu apa lagi yang tersisa,tidak ada." Isak Ibu Rey yang terduduk lemas di lantai, hatinya hancur ,tubuhnya seakan remuk redam saat ini.


Butiran air mata ayah Rey pada akhirnya jatuh juga saat mendengar ucapan yang di lontarkan istrinya itu,ia pun membenarkan ucapan istrinya itu,jika apa yang terjadi pada mereka sekarang adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu.


Ayah Rey lalu merengkuh tubuh istrinya itu kedalam pelukannya,mereka saling berpelukan melepas segala beban yang selama ini menghimpit mereka .


"Maaf .."Hanya itu yang mampu ayah Rey ucapkan,tak ada lagi kata yang bisa ia ucap kan selain kata maaf.


"Minta maaflah pada Rey pa,perbaiki semuanya, agar hidup kita bisa tenang dan damai,dan jika saat maut menjemput tak ada lagi beban yang menyusahkan kita kelak."


Hati ayah Rey terguguh mengingat semua semua perbuatan jahatnya di masa lalu. Hanya karena cinta dan harta dirinya rela berbuat kejam kepada kakaknya.


Ayah Rey mengangguk pelan menyetujui keinginan istrinya itu.


"


"

__ADS_1


"


__ADS_2