
Revan dan Vio kini berada di apartemen,mereka sedang packing-packing untuk bersiap ke Indonesia dan memberikan kejutan untuk Delia.
Sedangkan di rumah sakit tempat Rosa di rawat,ibu Rey juga tengah bersiap untuk terbang malam ini ke Indonesia,ia harus terpaksa meninggalkan Rosa karna juga harus mengurus suami nya yang sudah pulang lebih dulu ke Indonesia.Meski sangat berat meninggalkan sang cucu dan harus dengan terpaksa menyerahkan tanggung jawab kepada pihak rumah sakit untuk mnejaga dan mengurus Rosa selama ia meninggalkan nya.
"Oma pulang dulu sayang,Oma akan kembali lagi setiap dua kali sebulan,maaf karna harus meninggalkan mu sendirian melewati masa-masa penyembuhan mu.Maaf kan Oma." Lirih ibu Rey di iringi tangisan yang tertahan karna takut Rosa akan terbangun jika mendengar Isak tangisnya,meski hal itu kecil kemungkinannya mengingat Rosa baru saja meminum obatnya yang akan menyebabkan rasa kantuk.
Ibu Rey melangkah keluar dari kamar perawatan milik Rosa dengan sesekali menoleh ke arah Rosa yang sudah terlelap akibat pengaruh obat yang baru saja di minumnya.
Ibu Rey menyeka air matanya dan berlalu meninggalkan rumah sakit dengan berat hati.Ia harus membagi waktunya antara cucu dan suaminya yang berada di negara yang berbeda.Jika saja hubungan suami dan putranya masih seperti dulu ia tak harus seperti ini .
Tak terasa ibu Rey tiba di bandara , sebelum turun dari mobil ibu Rey mengusap lembut wajahnya dan mengatur nafas agar sesak di dadanya tak lagi nampak.
Ibu Rey berjalan memasuki bandara dan duduk di kursi tunggu ,di samping nya terdapat dua orang wanita dan pria yang juga sedang duduk menunggu jadwal penerbangan mereka.
Sejenak ibu Rey melirik ke arah dua orang yang sedang bercanda dengan sesekali tertawa,melihat itu ibu Rey tersenyum tipis.
"Maaf, apakah anda ingin ke Indonesia juga?" Tanya seorang wanita muda nan cantik yang tadi duduk di samping nya bersama seorang pria yang lebih muda.Ibu Rey tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sang wanita.
"Anda sendirian?" Tanya wanita itu lagi,wanita yang tak lain adalah Vio dan Revan,ya mereka akan ke Indonesia setelah mendapat izin dari dokter Revan ,mereka ingin memberikan kejutan kepada sang kakak.
"Iya,kalian adik kakak?" Tanya ibu Rey dengan senyum hangat.
" Iya,ini adik saya."
" Kalian sedang berlibur atau memang tinggal di sini?"
__ADS_1
" Oh,tidak saya sedang berobat dan Alhamdulillah sudah sehat sekarang,kami ingin memberikan kejutan untuk kakak dan kakak ipar di Indonesia mereka belum mengetahui kalau saya sudah sehat,dan adik saya ini sedang kuliah di sini." Jelas Vio.Vio yang sejatinya memang bukanlah wanita pendiam,dia wanita yang selalu ingin berbicara, mulutnya sulit untuk diam dan saat melihat seorang wanita paruh baya terlihat sedang sedih,Vio berinisiatif untuk mengajak nya mengobrol agar ibu Rey tak larut dalam kesedihannya.
Karna obrolan mereka terlihat begitu asyik, sampai-sampai mereka tak menyadari jika pesawat mereka sudah siap untuk lepas landas dan seluruh penumpang di harapkan untuk segera masuk ke dalam pesawat.
"Kak ayo,itu sudah ada panggilan." Ucap Revan sambil berdiri dari duduknya.
Vio dan ibu Rey pun beranjak dari duduknya mengikuti Revan yang sudah berjalan terlebih dahulu, kebetulan mereka berada dalam satu pesawat.
Di sebuah ruang keluarga yang terletak di lantai dasar mansion ,terlihat Delia sedang bolak balik keluar masuk kamar mandi,sejak pagi tadi ia terus merasakan mual dan pusing, sedangkan Rey tak berada bersamanya karna Rey dan Dion saat ini tengah berada di luar kota karna ada urusan pekerjaan .
Hoek....Hoek....
Delia masih terus saja mual,tak ada asupan yang masuk kedalam perutnya sejak pagi,semua pelayan yang berada di mansion itu terlihat begitu khawatir,Pak Bian yang sangat cemas berulang kali menelfon Rey dan Dion tapi ponsel keduanya tidak bisa di hubungi.
"Sudah pak,tidak usah menelfon nya,saya tidka apa-apa." Ucap Delia lemah,wajah nya sudah terlihat begitu pucat,ia bersandar di sebuah sofa yang terletak di ruang keluarga, seorang pelayan membawa teh hangat untuk Delia.
"Makasih." Ucap Delia lembut lalu meletakkan gelas itu di atas meja setelah meneguk setengah isinya.
"Saya ke kamar dulu,kepala saya rasanya mau pecah." Delia lalu beranjak dari sofa,namun baru saja akan melangkah tubuhnya terasa berat , penglihatannya seakan berkunang-kunang,langkah kakinya seakan ada yang menahan hingga akhirnya ia pun tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Bruuuuuugghhjjh.....
Tubuh Delia jatuh ke lantai dan seketika semua pelayan yang berada di situ begitu panik dan ketakutan.Seorang pelayan wanita yang tadi mengantar kan Delia segelas teh berlari kecil ke arah Delia dan segera meletakkan kepala Delia ke pangkuannya,sedangkan pak Bian yang masih sibuk memanggil nomor Rey dan berdiri di sudut ruangan dekat jendela kaca yang mengarah ke kolam renang mendengar suara pelayan yang histeris meminta tolong,ia pun segera berlari ke arah ruang keluarga dan matanya terbelalak saat mendapati istri tuannya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai .
"Apa yang terjadi?" Tanya pak Bian lalu segera membungkuk untuk membopong tubuh Delia,namun tangannya terhenti saat ingin menyentuh kaki dan pundak Delia,peringatan yang di berikan tuannya tiba-tiba muncul dalam otaknya.
__ADS_1
"Jangan pernah membiarkan orang lain menyentuh istriku,meski seujung kuku kalau sampai itu terjadi aku akan memotong tangan kalian.."Ucap Rey memperingati semua pelayan pria yang ada di mansion termasuk pak Bian sesaat sebelum dirinya berangkat keluar kota.
"Kenapa diam saja pak,ayo angkat nona kalau tuan muda tahu bisa habis kita semua." Ujar pelayan wanita itu masih dengan posisinya memangku kepala Delia.
Pak Bian lalu menghela nafas berat,ia masih duduk menatap Delia.
"Kalian semua angkatlah,hanya pelayan wanita yang boleh menyentuh nona muda." Ujar pak Bian lalu berdiri dari duduknya dan tiga pelayan wanita pun maju menghampiri Delia lalu mereka membopong tubuh Delia masuk lift, sementara itu pak Bian sudah terlebih dahulu melangkah menuju lift untuk menekan tombol.Tak membutuhkan waktu yang lama Delia pun sudah terbaring di tempat tidur di kamarnya.
Seorang dokter wanita baru saja tiba di mansion milik Rey,dokter itu kemudian memeriksa keadaan Delia yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan nona muda dok?" Tanya pak Bian cemas,ia terlihat begitu khawatir apa lagi wajah Delia begitu pucat,Rey pasti akan murka kepada mereka semua.
"Tidak apa-apa,sebaiknya nona Delia di periksa ke dokter kandungan." Ucap dokter wanita itu,sambil membereskan peralatan nya.
"Maksudnya,nona Delia hamil dok?" Tanya pelayan wanita yang membopong tubuh Delia tadi,ia begitu bahagia mendengar kabar baik itu dan semua pelayan pun ikut merasakan hal yang sama.
"Seperti nya begitu, tapi untuk lebih memastikan sebaiknya beliau di periksa oleh dokter kandungan,saya akan meresepkan kannya vitamin dan beberapa obat mual,silahkan di tebus." Ujara dokter itu lagi lalu memberikan secarik kertas kepada pak Bian dan pak Bian pun menerimanya dengan hati yang begitu bahagia .
"Baik dok."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun pamit dan di antar oleh pak Bian,begitu pun dengan pelayan yang lainnya mereka bergegas ikut keluar dari kamar Delia dan membiarkan sang nyonya rumah beristirahat.
Rey yang sedari tadi mondar-mandir tidak karuan karna jet pribadi yang ingin di tumpangi nya belum juga lepas landas karna cuaca saat itu kurang bersahabat.
"Berapa lama lagi kita menunggu, Delia sedang jatuh pingsan di sana,awas saja mereka jika terjadi sesuatu pada Delia,mereka akan menerima hukumannya." Omel Rey sambil bolak - balik di sebuah ruangan VVIP di bandara,ia begitu cemas dan khawatir saat pak Bian menelfon nya dan mengabarkan jika Delia jatuh pingsan.
__ADS_1
"Tenang bos, tunggu sebentar lagi." Ucap Dion menenangkan,tapi bulu kuduknya tiba-tiba merinding saat Rey menatapnya dengan sorot mata tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup.