
Delia dan Rey tiba di sebuah pemakaman kedua orang tua Rey.Mereka berjalan memasuki area pemakaman itu dengan saling bergandengan tangan.
"Ini makam Mommy dan ini Daddy." Ucap Rey sambil menunjuk dua makam yang saling berdampingan dengan rumput hijau yang indah menghiasi makam itu.
Delia terduduk di samping makam dan di ikuti oleh Rey,mereka lalu meletakkan bunga diatas makam itu.
"Selamat pagi,Daddy dan Mommy.Maaf karena baru menjenguk kalian...aku membawa wanita yang Rey cintai,istri Rey ,aku yakin kalian akan menyukainya,dia wanita yang baik dan dia mengurus Rey dengan sangat baik."Ucap Rey masih memegang erat tangan Delia, sedangkan Delia begitu terharu mendengar ucapan suaminya itu.
"Besok kami sudah akan kembali ke Indonesia,tapi Rey janji Rey dan Delia akan selalu mengunjungi kalian." Lanjut Rey lagi.
Setelah merasa cukup lama di pemakaman Rey dan Delia memutuskan untuk pulang.
"Sayang,kita mampir kerumah sakit sebentar,boleh?" Bujuk Delia sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya dalam perjalanan menuju mobil yang di parkir di halaman pemakaman,di sana sudah ada sang sopir yang menunggu dengan setia.
Rey hanya terdiam mendengar keinginan Delia,tak nampak keinginan untuk mengiyakan atau pun menolak.
"Kamu marah pada kakek nya,kenapa melampiaskannya pada anak kecil yang tidak tahu apa pun,boleh ya sebentar saja,aku sangat merindukan nya."
Rey menghentikan langkahnya sebentar lalu menatap ke arah Delia yang masih bergelayut manja di lengannya.
"Baiklah,tapi aku menunggu diluar saja,kamu saja yang masuk menemuinya."
"Kenapa? Bagaimana kalau Rosa menanyakan keberadaan mu? apa aku harus mengatakan kalau Daddy nya tidak ingin bertemu dengannya?"
"Baiklah,aku akan ikut." Ujar Rey akhirnya,dia tidak akan bisa menolak keinginan istrinya ini.
DelIa tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminnya itu,selain ingin menemui Rosa ,ia pun punya misi yang lain,dan ia akan memulainya hari ini.Pikirnya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan dari pemakaman ke rumah sakit, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit tempat Rosa di rawat.Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju kamar perawatan Rosa.
Delia dan Rey saling berpandangan saat mereka membuka pintu ruangan Rosa dan tak menemui Rosa disana,bahkan tempat tidur Rosa terlihat rapi, seakan tak ada orang yang menempati nya.Delia melangkah masuk ke ruangan itu.Matanya menyapu bersih setiap sudut ruangan .
"Mungkin Rosa sedang terapi ." Ujar Delia berfikir positif meski hatinya mengatakan hal lain tapi ia berusaha menepis pikiran buruknya.
Rey yang sedari tadi terdiam,lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Dimana Rosa?" Tanya Rey saat sambungan telfonnya tersambung.Sedangkan Delia hanya menatap bingung ke arah suaminya.
"O kemarin tuan Gunawan membawanya,katanya beliau akan membawa Rosa berobat di tempat lain." Jelas dokter yang di hubungi Rey.
Rey nampak begitu terkejut mengetahui fakta bahwa Rosa telah di keluarkan secara paksa dari rumah sakit padahal Rosa sedang dalam masa pengobatan.
"Ada apa?" Tanya Delia saat melihat raut keterkejutan dari wajah Rey.
Rey yang tersadar dari keterkejutan nya kemudian menghela nafas berat,lalu berjalan mendekati Delia yang sedang duduk di pinggir ranjang.
Delia berdiri dari duduknya karena begitu terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh Rey .
'Pulang? tapi kenapa?" Tanya Delia tak percaya.
"Papa yang membawanya,katanya ia akan membawa Rosa berobat di tempat lain." Jelas Rey.
"Mau di bawa kemana,bukankah rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik dalam penanganan penyakit kanker,mau mencari rumah sakit terbaik mana lagi?" Ujar Delia tak habis pikir dengan jalan pikiran ayah mertuanya itu.
Rey mengendikkan bahunya,ia juga bingung dengan keputusan yang di ambil oleh ayahnya itu.
__ADS_1
"Mungkin papa tak ingin kita menemui Rosa." Ujar Rey tiba-tiba,entah mengapa pikiran itu tiba-tiba muncul di otaknya.
"Tapi apa alasannya?" Tanya Delia lagi, pikirannya mulai kemana-mana.
" Apa lagi kalau bukan karna kejahatannya sudah terbongkar,jadi sekalian saja menunjukkan sifat aslinya bukan?" Ujar Rey menahan kesal.
Delia pun mulai menerka-nerka . "Apa mungkin mertuanya itu sudah tak menganggap Rey lagi sebagai putra karna Rey sudah mengetahui kejahatannya, tapi.." Delia semakin di buat bingung dengan masalah yang terjadi dalam keluarga suaminya itu,tapi ia akan terus berusaha untuk berfikir positif .
"Mungkin ada alasan lain,jadi papa terpaksa membawanya." Ucap Delia .
"Tidak perlu memikirkan nya,jika mereka saja tidak memikirkan kita,ya sudah lah...ayo kita pulang."
Rey lalu beranjak meninggalkan kamar Rosa dan Delia pun ikut dari belakang.Tak ada percakapan yang terjadi di sepanjang koridor rumah sakit,mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Rey saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Pulang saja." Jawab Delia lemah, pikirannya masih tertuju pada kondisi Rosa,ia tahu betul resiko yang akan di alami oleh Rosa jika tidak di lakukan perawatan yang tepat,apalagi penyakit nya itu sudah mencapai stadium empat yang artinya sangat kecil kemungkinan untuk bisa sembuh dan hanya perawatan yang tepat yang bisa membuat nya untuk bisa memperpanjang kehidupannya.
"Anak yang malang." Lirih Delia.Rey menoleh ke arah Delia saat mendengar istrinya itu bergumam pelan .
"Kita bisa apa, mereka lebih berhak daripada kita." Ucap Rey ,ia pun sebenarnya begitu kecewa dan sedih atas tindakan yang di lakukan oleh ayahnya,padahal saat masih di rawat Rosa sudah menunjukkan perubahan yang signifikan.
"Kita harus mencari dimana Rosa di rawat,entah aku merasa tidak tenang ...apa harus melibatkan anak kecil dalam masalah orang dewasa?" Ucap Delia kesal,ia begitu kesal pada ayah mertuanya itu,tadinya ia berfikir untuk membantu memperbaiki hubungan antara ayah dan anak itu tapi sepertinya sang mertua telah mengambil keputusan nya,terbukti kini beliau telah menjauhkan mereka dari Rosa.
"Aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mencarinya,aku tidak akan peduli jika papa melarang,aku sudah berjanji pada kakak dan kakak ipar untuk menjaga putri mereka."
"Kita akan berjuang bersama." Ucap Delia memberikan dukungan nya kepada Rey,lalu ia menyandarkan kepalanya di dada sang suami dan tak butuh waktu yang lama Delia sudah terlelap.
__ADS_1
Rey menoleh dan melihat istrinya itu sudah terlelap.Rey tersenyum melihat tingkah Delia yang selalu saja terlelap begitu mudah jika kepalanya sudah di letakkan entah itu di bantal atau di pangkuannya bahkan sekarang istrinya itu begitu mudahnya terlelap hanya menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Dasar ...." Ucap Rey sambil memperbaiki posisi tidur Delia dengan meletakkan kepala Delia di pangkuannya.