
Rey mengambil sebuah amplop dan melemparkannya tepat di depan Delia dan mengenai wajah Delia ,Delia begitu terkejut akan kelakuan Rey yang begitu kasar padanya,sementara Mona yang terduduk di sofa tersenyum puasa melihat Delia di perlakukan kasar seperti itu,ada kepuasaan tersendiri melihat Delia begitu terluka manahan air matanya,Delia mendongak agar air matanya tak tumpah.
"Buka dan lihat saja sendiri."
Delia membuka amplop itu dengan perlahan,lalu mengerutkan alisnya karna isi amplop itu adalah lembaran-lembaran foto dirinya dan ayahnya.
"Kenapa fotoku dan ayah ada padamu?" Tanya Delia bingung,ia belum paham kemana arah pembicaraannya dan apa maksud semua foto-foto itu.
Rey yang menyadari kalau Delia itu sedikit lamban dalam menangkap sesuatu hal,beranjak ke mejanya membuka laci dan mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi video,ia lalu memperlihatkan video yang di putarnya ke pada Delia,Delia mengambil ponsel Rey dan menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya ,sebuah video yang memperlihatkan ayahnya sedang bersekongkol untuk melenyapkan seseorang,ia bahkan melihat ayahnya menerima amplop yang berisi uang sebagai bayaran untuk pekerjaaannya,ia juga melihat bagaimana ayahnya merusak rem mobil itu.
Delia menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan menggelengkan kepalanya,tak percaya akan apa yang di lihatnya.
"Tidak...tidak mungkin,ayah tidak sejahat itu...ayah ku tidak akan mungkin melenyapkan seseorang." Jerit Delia tertahan sambil menutup kedua telinganya setelah menjatuhkan ponsel yang di pegangnya tadi.
Sebenarnya Rey ingin memeluk Delia dan memberikan kedamaian tapi amarah nya masih menguasai dirinya,ia hanya memandang Delia dengan tersenyum kecut.
Sedangkan Mona tertawa penuh kemenangan,dalam hatinya begitu bersorak ria,kini ia percaya bahwa cinta Rey yang begitu besar pada Delia menghilang begitu saja.
Delia masih di liputi rasa sedih dan tak percaya,pasti ada yang salah..Delia mengusap pipinya yang sudah di penuhi air mata. Tiba-tiba bayangan ayahnya dan Vio muncul dalam pikirannya dengan cepat Delia berdiri mendekati Rey.
"Aku akan menjelaskan semuanya pasti ada yang salah di sini,percayalah aku akan mencari kebenarannya,tapi...tapi aku butuh bantuanmu,aku butuh uang..maksudku ak..." Ucapan Delia terputus saat tangannya yang memegang kedua pundak Rey untuk meyakinkan Rey,secara perlahan di lepaskan Rey dengan sorot mata penuh kebencian,tak ada cinta seperti yang Delia lihat dahulu,dan itu membuat Delia bungkam dengan air mata yang kembali membasahi wajahnya.
Rey meninggalkan Delia yang masih berdiri mematung.
"Kamu butuh uang?"Tanya Rey sambil mrngetuk - ngetuk meja kerjaya menggunakan jari telunjuknya.
Delia mengangguk cepat,walau hatinya menolak tapi dia tidak punya jalan lain,hanya Rey yang dia harapkan untuk menyelamatkan ayahnya.
" Apakah isi kartu atm yang kuberikan untukmu tidak mencukupi hidupmu dan keluargamu,aku pikir isinya lebih dari cukup untuk kamu gunakan ." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Baru saja Delia ingin menjelaskan masalah kartu atm yang di berikan Rey padanya,tapi Rey kembali menyakiti hatinya dengan ucapannya.
"O iya,aku lupa bukankah itu pekerjaan kalian,membodohi mangsa dan menghabiskan hartanya,tapi sayangnya rencana kalian gagal sebelum di mulai.
"Rey..." Teriak Delia,ia menatap Rey dengan sorot mata tajam,hatinya begitu terluka akan tuduhan Rey yang sama sekali tak benar,dadanya naik turun,namun perlahan sorot mata tajam itu berubah sendu dengan menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata,tapi semua itu tidak berpengaruh pada Rey,Rey sudah begitu di selimuti kebencian sehingga apa pun mengenai Delia dan keluarganya tak lagi penting baginya,rasa cinta yang begitu dalam di kalahkan oleh kebenciannya tanpa ingin mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya .
Rey mengambil sebuah map lalu melemparkannya lagi pada Delia,tapi kali ini Delia berhasil menangkapnya.
"Kamu ingin uang,tanda tangani dokumen itu." Ucap Rey.
Delia membuka map itu dan membacanya,belum juga Delia selesai membaca ,air matanya jatuh membasahi kertas yang di pegangnya itu,bahkan penglihatannya sedikit kabur akibat air mata yang menggenang di pelupuk matanya bersiap meluncur membasahi pipinya.
"Kamu...?" Delia tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Ya,tanda tangani itu karna aku akan menikah dengan Mona secepatnya." Rey menoleh ke arah Mona yang tengah duduk di sofa dengan senyum kemenangan.
Rey lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Dion untuk segera keruangannya.
"Dion bawa wanita itu keluar,mataku sakit melihatnya." Ucap Dion menatap Delia dengan sorot yang sulit di artikan.
"Rey...kamu..." Delia tak percaya dengan ucapan Rey.Dan inilah yang di takutkannya saat dirinya membuka hati dan mencintai Rey begitu besar,hatinya pun terluka begitu besar.
"Apa kamu yakin dengan semua ini." Tanya Delia saat berada di dekat Rey ,ia ingin meyakinkan Rey dan dirinya sendiri.
Rey hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Delia.Melihat kebungkaman Rey ,Delia tersenyum penuh luka,hatinya bagai tercabik-cabik,belum sembuh luka akibat kehilangan ibu dan kesakitan ayah dan Vio kini ia kembali di hadapkan pada kesakitan yang lebih perih dan menyayat hati.
Delia berjalan mundur,lalu berbalik meninggalkan ruangan Rey.
"Tunggu." Ucap Rey menahan kepergian Delia,dan Delia pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah.
__ADS_1
" Bawa dokumen itu,dan aku menunggu balasan nya setelah kamu menandatanganinya,ada cek di dalamnya senilai dua milyar ,aku pikir itu akan cukup untukmu dan keluargamu,jadi berhentilah menjerat orang-orang kaya setelah kamu gagal menjeratku." Ucap Rey sambil melangkah mendekati Delia dan memberikan dokumen perceraian itu kepada Delia.
Dengan amarah dan kekecewaan yang tertahan Delia mengambil dokumen itu dari tangan Rey dan berlalu cepat meninggalkan ruangan Rey.
Dion hanya memandang kebingungan dengan apa yang terjadi,ia masih mencerna semua kejadian yang begitu mendadak.
"Tinggalkan aku sendiri." Ucap Rey pada Dion dan Mona dan tanpa protes Dion terlebih dahulu meninggalkan ruangan Rey,lalu di susul oleh Mona dengan senyum penuh kemenangan,kali ini ia mengalah untuk membiarkan Rey sendiri,membiarkan Rey menenangkan hatinya.
Sepeninggal Dion dan Mona ,Rey berjalan kearah dinding kaca yang mengarah pada halaman kantornya,dengan perasaan yang berkecamuk ia memandang Delia dari atas dan terlihat Delia berjalan pelan dengan memeluk dokumen perceraian mereka di tangannya,sesekali Delia menoleh kebelakang dan berharap Rey keluar menghentikannya,dan mengatakan semua hanyalah prank,tapi semakin dia berjalan meninggalkan halaman gedung mewah menjulang itu,tak nampak akan kehadiran pria yang telah melukai hatinya itu,hingga akhirnya ia menghilang dari pandangan Rey.
Tanpa Rey sadari,air matanya jatuh membasahi tangannya yang di lipat di dadanya,Rey kemudian mengambil air matanya dengan telunjuknya lalu menatapnya sebentar,kemudian menjentikkannya dengan di ringi senyum kehampaan.
...****************...
Delia kini berada di apartemennya,mengambil beberapa barang berharga untuk bisa di jadikan uang,untuk menambah-nambah uang pengobatan ayah dan Vio,ia menatap surat-surat mobilnya ia berfikir untuk menjual kendaraannya itu,meski berat tapi hanya itu jalan satu-satunya.
Delia juga mengambil surat apartemen yang di belinya ini dengan susah payah,tapi demi keselamatan ayah dan adiknya ia rela kehilangan semua harta miliknya ini,hanya mobil dan aparteman ini yang Delia miliki yang dapat di jadikan uang,Delia mengusap pipinya,mengangguk untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Delia mengambil ponsel yang baru saja di belinya tadi,dengan memasang nomor baru yang juga baru di belinya,setelah ponselnya menyala ia lalu berjalan ke arah tempat tidurnya ,lalu membuka laci meja yang berada di sisi tempat tidurnya,ia lalu mengambil sebuah buku catatan kecil dan membuka lembar demi lembar,setelah menemukan nomor yang di carinya ia lalu menekan tombol sesuai nomor yang tertera pada buku kecil nya itu,kemudian menghubungi seseorang.
Ya Delia menghubungi salah seorang teman nya yang sesama dokter yang bekerja dengannya di rumah sakit yang sama dengannnya,temannya itu pernah menyuruhnya untuk mencarikannya apartemen dan mobil bekas,semoga saja temannya itu belum menemukannya.
Setelah berbicara dengan temannya dan sepakat untuk jual beli,apartemen dan mobilnya itu,Delia mematikan ponselnya.
Delia kemudian naik ketempat tidurnya untuk melepas segala lelah dan beban yang kini di pikulnya seorang diri tak ada tempat untuk sekedar berbagi karna orang yang di cintai pun kini meninggalkannya.
Delia menangis tersedu-sedu meluapkan segala rasa yang berkecamuk didada.Ada rasa pedih,kecewa ,amarah,benci,dan masih ada cinta yang tertinggal.
Beginikah rasanya hidup dalam kesendirian,tidak ada siapa pun.Hidup seolah mengajari nya satu hal.
__ADS_1
Bahwa segala yang ada di kehidupan ini,hanyalah fatamorgana yang tak akan kekal,dan segala yang kita miliki perlahan akan meninggalkan kita pada waktunya dan jangan pernah mengharap pada sesama manusia jika tak ingin sakit dan kecewa karna di lukai.