Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 157


__ADS_3

Ramon menatap Vio lalu menyandarkan tubuh Vio ke dinding kemudian mengungkungnya dengan kedua tangannya.


Wajah mereka begitu dekat,bahkan keduanya merasakan hembusan nafas mereka.


" Kamu mau apa hach?" Tanya Vio gugup,dahinya mulai berkeringat dingin dalam kungkungan Ramon. Ramon tersenyum tipis melihat raut wajah Vio yamg terlihat ketakutan dan menggemaskan di matanya.


"Lepas kan "Seru Vio sambil mendorong tubuh Ramon untuk menjauh dari tubuh nya dan hal itu berhasil,Ramon sedikit bergeser dari tubuhnya dan Vio terlepas dari Kungkungan Ramon. Vio menatap Ramon dengan penuh rasa kesal dan amarah karena Ramon memperlakukannya tidak baik.


"Kamu pikir aku apa hach, jaga batasan anda tuan,jangan pernah melakukan hal ini lagi padaku." Ucap Vio dengan nada sedikit tinggi, tentu ia tidak terima atas sikap Ramon padanya,Vio lalu menepuk-nepuk telapak tangannya lalu menatap Ramon yang masih terdiam di hadapannya.


"Ingat hubungan kita hanya sebatas atasan dan pegawai tidak lebih jadi jangan bertindak kurang ajar,kali ini aku maafkan tapi lain kali tidak akan pernah." Vio masih menatap tajam ke arah Ramon,lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan Ramon dengan menahan kesal dan amarah.


"Kamu benar-benar berubah Vi." Gumam Ramon sembari menatap punggung Vio yang semakin menjauh.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Vio pun bergegas untuk pulang kerumah,apa lagi ia sudah di tunggu oleh Rey dan Delia di rumah karena katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Sial..."Gerutu Vio sambil menendang ban mobilnya yang terlihat kempes.


"Seingatku tadi baik-baik saja kenapa tiba-tiba sekarang kempes sih." Lirih Vio pada dirinya sendiri,ia lalu merogoh tas kecilnya dan mengambil ponselnya.


"Ck...lowbet lagi." Vio lalu kembali menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas karena tak dapat di gunakan.


Vio mengarahkan pandangannya ke arah pos satpam tapi ia tak melihat ada seseorang di sana,Vio lalu menghela nafas berat lalu menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Mata Vio menelisik sekitar halaman parkir rumah sakit,mencari seseorang yang mungkin bisa di mintai tolong.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Vio yang sedang berdiri bersandar di pintu mobilnya, Vio menatap ke arah mobil yang terlihat asing di matanya, seseorang membuka pintu mobil itu dengan perlahan lalu keluar dari dalam mobil.


" Butuh bantuan?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Ramon.


"Tidak." Jawab Vio tegas ." Ia benar-benar malas berurusan dengan Ramon,entah mengapa hanya rasa kesal yang ada saat bertemu dengan Ramon.


Ramon melangkah mendekati Vio dan dengan santainya ia ikut bersandar di badan mobil milik Vio tepat di samping Vio, matanya menatap tajam ke depan dengan kedua tangannya ia selipkan di saku celananya.


"Ini sudah hampir gelap mari saya antar." Tawar Ramon.

__ADS_1


"Tidak terima kasih." Tolak Vio dingin, tentu ia tak ingin Ramon mengantarnya pulang kr rumah,hstinya sudah ia tutup rapat untuk oria yang berdiri di sampingnya itu.


"Kenapa,bukankah dulu kamu selalu senang jika aku mengantarmu?"


Vio menoleh ke arah Ramon yang berdiri di sampingnya.


"Dulu dan sekarang tidak sama lagi,jika dulu aku senang sekarang tidak,jsngan pernah membahas sesuatu yang sudah lewat tuan." Vio lalu berjalan meninggalkan Ramon sendirian yang masih bersandar di mobilnya .


Ramon menatap Vio dengan tersenyum kecut,ada rasa sakit saat Vio mengatakan hal itu padanya.


Ramon lalu berjalan menyusul Vio yang mengarah ke arah pos satpam di sana terlihat dua orang security sedang duduk di dalam pos.


"Maaf pak,bisa saya pinjam ponselnya sebentar,ponsel saya lobet." Ucap Vio oada salah satu satpam yang berjaga,kedua satpam itu pun menoleh ke arah Vio sambil tersenyum.


"Tentu dok,ini ponselnya." Jawab salah satu security yang duduk di situ sembari memberikan ponselnya yang tadi terletak di atas meja.


"Makasih pak." Vio lalu mengambil ponsel itu lalu menekan tombol nomor dan mrlakuksn panggilan pada nomor itu.


"Hallo kak,bisa kirim sopir untuk menjemputku sekarang ban mobilku kempes." Ucap Vio saat panggsn tersambung ke nomor Delia.


"Baiklah,aku tunggu di sini." Vio lalu mematikan sambungan telfonnya dan mengembalikan ponsel yang di pinjam ke pada sang pemilik.


"Makasih pak." Ucap Vio setelah mengembalikan ponsel itu.


Baru saja memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan kecil yang berdinding kaca itu Vio di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Kau?" Ucap Vio sembari berjalan melewati Ramon begitu saja.


"Kenapa mengikutiku ?" Lanjut Vio lagi setelah mereka berada di luar pos security.


"Aku hanya ingin memastikan kamu aman." Jawab Ramon mengikuti langkah kaki Vio yang berjalan kembali menuju mobilnya.


"Aku baik -baik saja, sekarang pulanglah."

__ADS_1


,"Aku akan di sini sampai jemputan mu datang."


Vio menatap tajam ke arah Ramon yang berdiri tak jauh darinya,lalu matanya menyapu keseluruh penjuru area parkir, ia tak ingin menjadi tontonan orang -orang yang ada bdi sana. Setelah memastikan tak ada yang memperhatikan Vio lalu kembali menatap Ramon lagi yang sedari tadi menatapnya dengan dalam.


Vio menarik nafasnya pelan." Dengar Ramon aku tidak ingin orang-orang melihat kita di sini yang akan menimbulkan berbagai pertanyaan dan aku tidak ingin orang salah faham dengan kita dan satu lagi berhenti lah memperhatikan diriku aku mohon. pergilah anggap saja kita tidak saling mengenal itu akan lebih baik." Ucap Vio tegas. Ia tak ingin mbuka celah sedikitpun untuk Ramon kembali masuk dalam kehidupannya dan ia meyakini jika Ramon saat ini mungkin saja sudah menikah,mengingat pertunangan Ramon sudah lama.


"Kamu yakin."


"Sangat yakin."


Perlahan Ramon melangkah mundur setelah mendengar jawaban tegas dari Vio.


"Baiklah." Ron lalu berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam setelah itu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan Vio yang masih berdiri di samping mobilnya.


Tak lama setelah kepergian Ramon mobil jemputan Vio pun datang dan berhenti tepat di depan Vio yang menunggu sejak tadi,setelah Vio masuk ke dalam mobil, mobil pun meninggalkan area gedung rumah sakit.


.


..Seminggu sejak pertemuan terakhir Ramon dan Vio di parkiran itu, Ramon benar - benar menjauhi Vio, meski mereka hampir setiap hari bertu di rumah sakit tapi Ramon sama sekali tak memandangnya bahkan tersenyum pun tidak,ia semakin bersikap dingin pada siapapun termasuk pada Vio,mereka seperti dua orang asing yang benar-benar tak saling mengenal.


"Dokter Vio ." Panggil seorang pria paruh nstshvysng tak asing di mata Vio karena pria itu adalah direktur rumah sakit. Vio yang baru saja keluar dari ruang operasi menoleh jebarah suara yang memanggil namanya,lalu tersenyum sembari berjalan menuju sang pria .


"Iya pak." Ucap Vio setelah berada di dekat pria itu.


" Saya ingin bicara penting denganmu."


"Baik pak."


"Ikut saya keruangan saya." Pria itu pun berjskan menuju ruangannya dan di ikuti Vio di disisinya.


"Begini dokter Vio,selama enam bulan ini rumah sakit kita mengadakan .isi sosial untuk membantu salah satu rumah sakit di daerah untuk menangani pasien-pasien yang kurang mampu untuk melakukan operasi karena terkendala biaya.


.

__ADS_1


Ram


__ADS_2