
Seminggu ini Vio dan timnya di sibukkan dengan berbagai kegiatan didesa, masyarakat disana masih banyak yang belum memahami pengobatan secara medis,mereka masih begitu kental dengan pengobatan tradisional,bahkan sebagian dari mereka berobat ke dukun.
Vio dan timnya terus- menerus tanpa lelah mensosialisasikan untuk melakukan pengobatan secara medis dan berbagai macam penyakit medis tapi selalu di anggap oleh sebagian masyarakat adalah penyakit mistis.
Vio dan timnya , tinggal di salah satu rumah warga yang memang di peruntukkan jika ada tamu yang berkunjung ke desa itu.
Sementara itu, Ramon terus saja uring-uringan karena sejak Vio meninggalkan Jakarta,di tambah lagi dengan kedatangan Sophia yang tak pernah di harapkannya itu.
Seperti hari ini sudah sejak pagi Ramon terus saja memarahi para karyawannya yang masuk keruangannya,mereka bahkan sampai takut jika Ramon memanggil salah satu karyawan untuk masuk ke kantornya,sejak Vio bertugas di luar kota,Ramon tak lagi berkunjung ke rumah sakut tempat Vio bekerja,tapi ia berada di kantor pusat untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena sebelumnya ia lebih memilih berada di rumah sakit,bukan untuk bekerja tapi untuk memantau segala kegiatan Vio.
Apartemen tempat Sophia bekerja terlihat begitu berantakan,segala barang yang ada di ruangan itu sudah tak berbentuk lagi,semua berserakan terkena amukan Sophia.
Sejak kedatangannya Ramon sama sekali tak punya waktu untuknya,Ramon bahkan selalu menghabiskan waktunya di kantor hingga pagi,karena Sophia seringkali berkunjung ke apartemennya.
" Pak ada telfon dari rumah sakit." Ucap Sekertaris Ramon saat berada di dalam ruangannya.
"Rumah sakit?" Ramon mengerutkan ke dua alisnya merasa aneh karena pihak rumah sakit menelfonnya.
"Ada apa,pihakbrumah sakit menelfon ?" Tanya Ramon dingin tanpa eksperesi.
"Eeemmm itu pak.." Sekertaris terlihat gugup dan takut menyampaikan kabar buruk itu pada sang bos.
"Katakan cepat."
" Katanya nona Sophia di larikan kerumah sakit saat mengalami kecelakaan." Jelas Sekertaris Ramon takut-takut.
"Apa katamu,Sophia kecelakaan?" Ramon lalu beranjak dari duduknya lalu mengambil jasnya yang di gantung di sandaran kursi kerjanya,ia lalu berjalan keluar meninggalkan sekertarisnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
" Rendi ikut saya." Ajak Ramon saat bertemu Rendi sang asisten yang kebetulan berpapasan di depan ruangannya.
__ADS_1
"Ba...baik pak." Ucap Rendi tanpa bertanya lagi. Ia hanya mengikuti langkah sang bos tanpa tahu tujuan sang bos .
" Kita ke rumah sakit." Ucap Ramon saat mereka sudsh berada di dalam mobil. Rendi lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit sesuai perintah Ramon tanpa banyak bertanya lagi.
Setelah tiba di rumah sakit,Ramon langsung masuk ke gedung rumah sakit tanpa meninggalkan Rendi sendirian di dalam mobil .
"Ada apa dengan bos,terlihat terburu-buru dan cemas." Lirih Rendi setelah kepergian Ramon.
Ramon membuka pintu kamar vvip nomor sembilan tempat Sophia di rawat setelah Ramon bertanya ke bagian recepsionis.
"Bagaimana keadaannya dan bagaimana bisa dia kecelakaan,bukannya dia ada di apartemen?" Tanya Ramon pada asisten rumah tangganya yang bertugas menemani Sophia di apartemen.
" Maaf pak,tadi saya supermarket di suruh nona untuk membeli beberapa cemilan untuk di maksn nona tapi saat saya sudah kembali apartemen terlihat berantakan,semua barang- barang berserakan di lantai. Lalu saya masuk ke kamar nona,tapi nona tidak ada,saya mencari ke semua ruangan juga tidak ada,hingga akhirnya saya berinisiatif menelfon nona dan yang mengangkat nya justru polisi dan memberitahu kalau nona kecelakaan dan di bawa kerumah sakit." Jelas sang asisten rumah tangga.
Ramon lalu mengusap wajahnya kasar,setelah mendengarkan cerita dari asisten rumah tangganya.
" Saya dok." Jawab Ramon sambil berjalan menghampiri dokter pria yang berdiri di depan pintu ruang rawat Sophia.
" Anda suaminya?" Tanya dokter sambil menatap Ramon yang berdiri di depannya.
Tak ada jawaban ia atau bukan dari Ramon,ia hanya berdiri terdiam di depan sang dokter dengan wajah datar.
" Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Ramon tanpa menhawab pertanyaan dari sang dokter tadi.
Dokter pria itu lalu menghela nafas berat kemudian kembali menatap Ramon.
"Sepertinya pasien terlalu banyak meminum minuman keras,pasien sepertinya mengemudi dalam keadaan mabuk,hingga tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya dan kondisinya baik - baik saja hanya ada beberapa luka ringan saja di beberapa bagian tubuhnya.Dan untuk kakinya sebaiknya pasien tidak bisa menggunakan kakinya untuk berjalan selama seminggu ini, kaki pasien sepertinya terjepit dan harus di lakukan terapi untuk kembali menormalkan kakinya." Jelas dokter pria itu.
Ramon hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi Sophia.
__ADS_1
"Apakah dia sudah bisa di jenguk?" Tanya Ramon .
"Bisa,silahkan masuk.." Ujar sang dokter lalu berlalu meninggalkan Ramon sendirian di depan pintu ruang perawatan Sophia.
"Maaf bos,siapa yang sakit?" Tanya Rendi tiba- tiba dan membuat Ramon terkejut pasalnya tiba-tiba ada suara seseorang yang bertanya padanya tanpa ada wujudnya,karena Rendi berdiri di belakang Ramon.
Ramon membalikkan tubuhnya menghadap Rendi , dengan wajah datar Ramon menatap Rendi yang membuat Rendi tiba-tiba merinding karena tatapan bosnya itu seakan ingin melahapnya mentah- mentah.
"Maaf bos." Rendi menunduk dengan rasa bersalah .
"Kamu tunggu di situ aku ingin madik melihat kondisi Sophia." Ujar Ramon sembari membuka pintu ruangan Sophia dan meninggalkan Rendi sendirian dengan penuh pertanyaan.
" akhirnya kamu datang juga." Ujar Sophia saat Ramon sudah berada di ruang perawatannya,Ramon terus betjalan mendekati Sophia yang terbaring dengan slang infus yang melekat di lengannya.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Ramob tanpa menanggapi ucapan Sophia tadi,ia berdiri tepat di samping tempat tidur Sophia.
" Seperti yang kamu lihat."
" Ngapain kamu minum minuman beralkohol dan mengendarai mobil di jalan."
"Mau bagaimana lagi,kamu terlalu sibuk hingga lupa denganku yang ada di sini." Sophia menatap tajam ke arah Ramon yang juga menatapnya.
"Bukankah kamu sudah tahu aku begitu sibuk."
"Kamu benar-benar sibuk atau sedang menghindariku,apa karena wanita itu hingga detik ini kamu masih tak menganggapku ada." Sophia menatap tajam ke arah Ramon,matanya sudah mulai berembun karena butiran air mata. Wanita mana yang tidak terluka jika meluhat tunangannya bersikap dingin padanya dan masih memikirkan wanita lain,segala hal sudah Sophia lakukan agar Ramon berpaling menatapnya tapi demua usahanya hanya sia-sia saja karena sang tunangan tak sekali pun menatapnya dengan penuh cinta.
"Jangan melibatkan orang lain ."
"Bagaimana tidak melibatkannya,karena dialah akar masalahnya Ramon,wanita itu lah yang membuat kita srkalu bertengkar kamu tshu itu,dan aku membencinya sangat membencinya." Jerit Sophia dengan berursi air mata,ia memilik raga Ramon tapi hatinya milik orang lain. Dan Sophia tidak bisa menerima itu.
__ADS_1