
"Lepas..." " Ujar Rey sambil melepaskan pelukan wanita itu darinya .
"Siapa kamu?" Tanya Rey lagi tapi kali ini berubah jadi dingin.
"Maaf,.maaf,aku refleks,kamu Rey kan?"
"Iya,kenapa?"
"Kamu tidak mengenaliku?" Tunjuk wanita itu pada dirinya, karena Rey seolah tak mengenalinya.
Rey menelisik wanita yang berdiri di depannya itu ,ia mengingat -ingat wajah yang wanita itu tapi semakin dia mengingatnya semakin tak ada bayangan apa pun yang bisa membuat nya mengingat .
"Maaf mungkin anda salah orang." Rey lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke mobil miliknya, daripada meladeni wanita itu.
"Aku Sophia...kamu ingat atau masih lupa?" Rey menghentikan langkahnya saat mendengar nama wanita itu,lalu kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah wanita yang tak lain adalah Sophia.
"Sophia?" Lirih Rey.
"Iya." Sophia lalu menghampiri Rey yang berdiri tidak jauh dari mobilnya.
"Maafaku tidak mengenalimu,kamu terlihat banyak berubah." Ucap Rey tidak enak hati karena ia sama sekali tidak bisa mengingat wajah Sophia.
"Tidak masalah,oya apa kabarmu? dan kamu di negara ini juga."
"Iya,
"Iya." Jawab Rey singkat.
"Ramon juga ada negara ini." Seru Sophia antusias karena pria yang dulu ia kejar-kejar kini ada di depan matanya setelah bertahun-tahun tak bertemu.
__ADS_1
"Aku tahu itu " Re lalu melirik jam tangah mewah yang terpasang di lengannya ." Baiklah Sophia kamu tidak apa-apa kan,aku permisi dulu istri dan anak ku sedang menunggu di hotel." Rey lalu kembali memutar tubuhnya dan melangkah menuju mobilnya.
"Kami akan menikah." Seru Sophia lagi dan lagi-lagi Rey menghentikan langkahnya dan tangannya yang tadi ingin membuka pintu mobil.
"Selamat kalau begitu." Rey lalu melanjutkan untuk membuka pintu mobil.
"Aku aka menikah dengan Ramon." Seru Sophia lagi dan berlari kecil menghampiri Rey yang terlihat begitu terkejut mendengar nama Ramon ,apa lagi jika benar wanita yang berdiri di depannya ini benar akan menikah dengan Ramon rap kenapa Ramon tidak mengatakan apapun padanya.Rey mengepalkan tangannya erat menahan amarah yang tertuju pada Ramon..
"Oya ,wah selamat ya kalian memang cocok,tapi aku sedang terburu-buru,mereka sudah menunggu ku sejak tadi." Rey lalu masuk ke dalam mobil dan tak menghiraukan panggilan Sophia padanya,saat ini ia benar-benar sedang marah.
"Ramon,awas saja kamu." Gumam Rey sembari menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Sophia yang masih berdiri di tempatnya menatap mobil Rey yang semakin menjauh.
Rey memasuki area parkir hotel tempat nya menginap,ia lalu memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Ramon.
"Ternyata bocah itu ada di sini baguslah,awas kamu." Rey lalu keluar dari mobilnya dan berjalan cepat menuju kamarnya,rasanya ia ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada Ramon.
Braaaaaakkkkk
Daddy..." Panggil Kenan sambil berlari menghampiri Rey.
"Daddy darimana saja sih?" Tanya Kenan saat tubuhnya sudah berada di gendongan sang ayah,Rey lalu melepas kan Kenan dari gendongan nya dan mendudukkan putranya itu di atas sofa,ia lalu melirik ke arah Delia yang sedari tadi terdiam sambil memakan potongan pizza di yang tersaji di atas meja,ada rasa sesal di hatinya karena telah membentak sang istri dan meninggalkan nya begitu saja. Delia bahkan tidak menghiraukan kedatangan Rey yang duduk di depannya sedangkan Vio dan Ramon sibuk dengan urusan mereka tak ingin ikut campur atas permasalahan yang sedang Rey dan Delia hadapi.
"Aku bikin minuman dulu untuk kak Rey." Ujar Vio sambil berdiri dari duduknya.
"Aku ikut." Timpal Ramon,ia paham akan maksud Vio ke dapur karena ingin memberikan waktu untuk kakak dan kakak iparnya itu bersama. Tingkat kepekaan Vio memang tinggi tapi terkadang ia juga sering tak peka jika itu menyangkut dirinya sendiri.
Vio mengangguk pelan." Kenan ikut aunty yuk,kamu kan tadi mau minum susu." Ajak Vio sambil menggenggam tangan ponakan kecil itu. Kenan pun hanya menurut saja akan ajakan Vio,mereka pun pergi kedapur dan tinggallah Rey dan Delia di ruang tamu.
Hening ruang tamu yang tadinya begitu meriah,kini berubah jadi hening,baik Rey mau pun Delia masih saling berdiam diri belum ada yang membuka percakapan.
__ADS_1
Rey lalu berpindah duduk di samping Delia,ia kemudian menatap wajah sang istri yang tertunduk menatap lantai , sepertinya lantai itu lebih menarik perhatiannya daripada dan suami.
"Maaf..." ucap Rey membuka keheningan.
"Maaf untuk apa?" Tanya Delia masih tertunduk.
Rey lalu menggenggam tangan Delia dan menciuminya dengan penuh kasih sayang,dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian Delia dan menatap sang suami.
"Karena membentak mu tadi,maaf kan aku...aku terbawa emosi sehingga tadi." Ucap Rey lembut dengan tatapan penuh harap.
Delia lalu Tersenyum pada Rey." Aku tidak marah,justru aku yang harusnya meminta maaf karena sudah membuka kembali luka lama mu." Mata Delia mulai berkaca-kaca,ia merasa bersalah karena sudah membangkitkan luka lama yang sudah di kubur dalam-dalam oleh Rey.
"Aku tahu maksudmu,kamu hanya ingin membuat keluarga mas kembali seperti dulu,tapi Sayang,semua itu tidak akan bisa seperti dulu lagi.Biarkan kita menjalani kehidupan kita sendiri tanpa harus di bayang-bayangi masa lalu."
Air mata Delia tak mampu lagi di bendung nya lagi,Rey lalu mengusap air mata Delia menggunakan jarinya dengan penuh kelembutan,ia lalu mengecup kening Delia penuh cinta dan menarik nya kedalam pelukannya.
"Kalau ingin bermesraan liat-liat sikon juga dong." Seru Ramon sambil membawa gelas berisi minuman dan di ikuti oleh Vio dan Kenan di belakang.
Rey yang tadi sempat lupa akan tujuan kini kembali mengingat nya saat mendengar suara Ramon dan melihat sahabat nya itu berjalan menuju sofa tempatnya duduk.Rey lalu melepaskan pelukannya dari Delia dan menatap tajam ke arah Ramon.
Ramon yang menyadari tatapan tajam Rey di arahkan padanya tiba-tiba merinding sambil mengingat-ingat kesalahan apa yang di lakukan nya hingga Rey menatap nya seolah melihat mangsa.
"Aku bicara denganmu." Ucap Rey di gin yang di tujukan pada Ramon.
"Tentu, bicaralah." Balas Ramon santai.
"Tidak disini,ikut aku." Rey lalu berdiri dari duduknya "Aku bicara dengan Ramon dulu di luar." Ucap Rey pada Delia.
Delia mengangguk setuju,sedangkan Vio yang sedari tadi mendengar percakapan itu terdiam ,ada perasaan yang tak baik di rasakan nya tapi ia pun bingung perasaan apa itu.
__ADS_1
Rey lalu berjalan keluar menuju pintu dan di susul Ramon dari belakang.