
Ramon yang mendengar ucapan Vio,kalau Rey dan Delia baru saja tiba di kota Hamburg,begitu terkejut tapi juga senang.
Terkejut karena mereka datang secara tiba-tiba dan senang karena ia dan Vio tidak perlu mencari alasan untuk membawa mereka ke kota ini.
"Dimana mereka ?"
"Di hotel,tapi mau berangkat ke pesta rekan kerja kak Rey."
"Baiklah,sepulang dari rumah sakit,kita ke hotel tempat mereka menginap." Ajak Rey dan Vio pun mengangguk setuju.
"Ramon?" Ayah Rey terkejut melihat Ramon sedang berdiri di depan kamar Rosa dan sedang mengobrol dengan Vio.
"Kamu di sini?"Tanya ayah Rey lagi sambil melangkah mendekati Ramon .
"Eh Om Gunawan,siapa yang sakit?"Tanya Ramon pura-pura terkejut dan tidak tahu apa-apa.
"Kamu kerja di sini?" Pertanyaan itu keluar dari mulut ayah Rey,pasalnya yang ia tahu Ramon bekerja di rumah sakit tempat Rosa dulu di rawat di Singapura.
"Saya di pindahkan di sini om." Jawab Ramon sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal,ia sedikit salah tingkah karna ayah Rey menatap nya penuh selidik.
"Oh ya,wah kebetulan ya,kita selalu bertemu di setiap rumah sakit tempat Rosa di rawat." Ujar ayah Rey,ia tidak percaya sepenuhnya akan ucapan sahabat putranya itu.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Tanya ayah Rey dengan tatapan intimidasi nya,ia terlihat curiga akan kedatangan Ramon di rumah sakit ini.
"Maksud om?" Ucap Ramon pura-pura tak paham padahal,ia paham betul kemana arah bicara ayah sahabat nya itu.
__ADS_1
"CK...saya pikir kamu bukan orang bodoh yang tak paham ucapan ku." Ujar ayah Rey tegas,Rey dan Ramon bersahabat cukup lama dan mereka begitu dekat dan tentu saja ayah Rey mengenal Ramon dengan baik , sebagai mana ia mengenal Rey.
"Saya tidak merencanakan apa-apa om, lagi pula saya dan Rey sudah begitu lama tidak saling kontak lagi."
"Benarkah? tapi kenapa saya merasa kamu menyembunyikan sesuatu." Selidik ayah Rey.
"Maaf om,saya permisi dulu masih ada pasien yang harus saya tangani." Pamit Ramon,ia tak ingin tinggal lebih lama dan membuat ayah Rey semakin menaruh curiga padanya.Ramon pun berlalu meninggalkan Vio dan ayah Rey di depan kamar Rosa.Ayah Rey menatap punggung Ramon yang berjalan semakin menjauh.
"Kamu mengenalnya?"
"Hach..." Vio yang berdiri melamun di buat terkejut oleh pertanyaan yang keluar dari mulut ayah mertua kakaknya itu.
"I..iya,kami satu team tuan,dia.maksudnya dia atasan saya." Tutur Vio sedikit gugup takut ketahuan akan rencana yang bahkan baru mereka rencanakan.
Ayah Rey mengangguk paham,ia lalu berjalan meninggalkan Vio menuju kantornya.Vio menghela nafas lega saat ayah Rey benar-benar menghilang dari pandangan nya.
Sore hari,saat Vio dan Rey selesai bekerja mereka pun sepakat untuk menemui Rey dan Delia di hotel tempat mereka menginap.
Ramon dan Vio keluar dari mobil saat mereka telah tiba di hotel,mereka pun berjalan memasuki lobi hotel dan menuju restoran yang berada di lantai dasar hotel ,mereka sudah janjian dengan Rey dan Delia.
Delia melambaikan tangannya ke arah Ramon dan Vio saat matanya menangkap dua orang yang berdiri tepat di pintu masuk restoran, posisi duduk Delia memang langsung mengarah ke pintu masuk jadi dia bisa langsung melihat jika ada pengunjung yang masuk.
Vio tersenyum sumringah saat ia pun melihat kakak dan kakak iparnya sedang duduk di salah satu meja restoran dan tak lupa juga Revan dan Kenan.
"Kalian ini keterlaluan,tidak memberi kabar tiba-tiba nongol di sini." Omel Vio saat ia dan Ramon sudah duduk di meja tempat Delia dan Rey duduk.
__ADS_1
"Sudahlah,jangan ngomel-ngomel terus,memangnya apa salahnya kalau kami datang tiba-tiba,memang apa yang kalian lakukan di sini?" Ujar Delia sambil memotong steak dan memasukkannya kedalam mulut.
"Kalian tidak sedang kawin larikan?" Tanya Rey yang membuat Ramon dan Vio tersedak akibat pertanyaan konyol Rey itu.
"Kamu ini kalau ngomong suka benar." Ujar Ramon dengan terkekeh,sementara Vio dan Delia melemparkan tisu pada Ramon yang di sertai suara tawa mereka.
"Jangan ngomong sembarangan kamu ya." Kesal Vio,belum hilang rasa kesalnya pada Ramon kini Ramon membuatnya semakin kesal saja,tapi rasa kesal nya kali ini pun hanya pura-pura karna semua yang ada di meja itu memahami akan sikap Ramon yang suka nyeleneh tapi entah mengapa saat Ramon membercandainya di depan Sophia ia begitu sangat kesal, sebenarnya ia tidak begitu kesal saat Ramon menggoda nya di depan Sophia tapi yang membuatnya kesal adalah saat Sophia memandang rendah dirinya saat Ramon mengatakan jika Vio sedang menggoda nya pada hal Ramon saat itu hanya sedang bercanda tapi Sophia menganggapnya benar dan membuat Sophia berubah sikap padanya sejak hari itu dan itu lah yang membuat Vio marah dan kesal pada Ramon.
"Kalau kalian benar-benar sudah saling mencintai lebih baik menikah secepatnya biar halal dan lebih leluasa kalau bepergian seperti saat ini." Ujar Rey .
Delia mengerutkan kedua alisnya memandang ke arah Vio yang duduk di depannya dengan tatapan penuh pertanyaan dan kebingungan.
Vio yang paham akan maksud tatapan kakaknya itu ,menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecil dan salah tingkah.
"Kalian pacaran?" Ke empat orang yang saling pandang itu menoleh ke arah yang sama saat Revan yang tiba-tiba bertanya pada Ramon dan Vio.
"Tidak." Ucap Vio cepat,ia tidak ingin keluarga nya salah paham akan hubungan nya dengan Ramon karena memang mereka tidak sedang menjalani hubungan spesial.
"Bukan tidak,tapi baru akan mulai." Ujar Ramon dan itu membuat Vio mendelik kesal ke arahnya.
"Vio kamu punya utang penjelasan sama kakak." Ucap Delia lalu meminum segelas air yang ada di depannya.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan,lagian Ramon sudah punya pacar dan kami tinggal di apartemen pacar nya itu." Jelas Vio dan ucapan nya itu membuat Ramon yang tadi sedang minum tersedak saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vio,sebuah kalimat tak pernah terpikir kan olehnya.
Ramon sedikit panik saat ia melihat tatapan tajam Rey ke padanya.
__ADS_1
"Tidak...tidak kalian salah paham itu tidak benar." Panik Ramon.Ia tak ingin Rey dan Revan menganggap nya sebagai pria yang tidak benar pasalnya ia sudah mengatakan perasaannya pada Vio ke pada dua pria yang sedang memandanginya dengan tatapan memangsa.
"Dia bukan kekasihku,maksudku dia teman kecilku, namanya Sophia,Rey kenal kok orangnya,malahan Sophia pernah menge..." Ramon yang tersadar akan ucapan nya saat melihat tatapan membunuh dari Rey, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.