
Tazkia mengerjapkan matanya perlahan dilihatnya jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya menunjukkan pukul 7 malam, sepertinya tidurnya kali ini benar benar pulas atau memang karena kelelahan jadi tak berasa sama sekali. Tazkia lantas bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk bebersih kemudian pergi makan malam karena Faris mungkin telah menunggunya untuk bergabung di meja makan.
Beberapa menit setelah mandi dan berganti baju Tazkia melangkahkan kakinya keluar menuju ke arah meja makan. Suasananya begitu sepi dan hening seakan villa ini kosong tak berpenghuni, di tambah lagi dengan penerangan yang hanya berasal dari lilin lilin yang di nyalakan pada setiap sudut ruangan, menambah kesan seperti tengah berada di jaman lampau tanpa adanya aliran listrik.
"Sepertinya nenek tidak suka ruangan yang terlalu terang." pikirnya dalam hati, karena Tazkia sama sekali tidak melihat ruangan dengan lampu yang terang di sisi villa ini kecuali bagian halaman.
Baru beberapa langkah ketika ia melintasi lorong kamar, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pintu kamar yang terbuka di mana ia sekilas seperti melihat sebuah lukisan seseorang yang tidak asing baginya.
Tazkia menatap ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang kemudian masuk ke dalam, bukankah Tazkia aneh? ini kan villa neneknya mengapa ia celingukan seperti itu jika hanya untuk masuk ke sebuah kamar.
Tazkia semakin masuk ke dalam kamar tersebut, ruangan kamarnya begitu bersih dan rapi, terdapat sesajen di bawah lukisan itu seperti sengaja di taruh di sana untuk memberi makan kepada para arwah yang telah meninggal ( Kalian pasti tahu, sesajen yang di maksud berupa kopi, teh, buah pisang, dan beberapa beras yang tersusun rapi, di sana juga terdapat beberapa bunga setaman yang kadang juga ikut melengkapi isi sesajen itu).
Tazkia menatap lukisan itu dengan tatapan yang tidak terbaca, lukisan itu sama seperti lukisan potret diri pada umumnya di mana terdapat seorang nenek tengah duduk di sebuah kursi kayu, sedangkan di pangkuannya terdapat kucing hitam tengah duduk sambil bermanja, yang pasti nenek di dalam lukisan itu bukanlah nenek Tazkia setidaknya itu yang ia ketahui.
"Apa yang ada lakukan di sini nona?" tanya sebuah suara yang tentu saja tidak asing di pendengarannya membuat Tazkia langsung berbalik badan memastikan pemilik suara itu.
"Aku hanya penasaran dengan lukisan ini, apakah kamu tahu siapa dia?" tanya Tazkia sambil menunjuk ke arah lukisan di depannya.
"Dia nenek buyut anda nona." ucapnya dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Nenek buyut? kenapa aku rasanya tak asing ya?" ucap Tazkia dalam hati mencoba mengingat ingat di mana ia bertemu dengan nenek nenek di lukisan itu.
__ADS_1
"Sebaiknya nona segera ke ruang makan, nenek dan teman anda telah menunggu di sana." ucap Rita lagi.
Mendengar ucapan itu Tazkia hanya mengangguk kemudian melenggang pergi dari sana menuju ke ruang makan.
Tepat setelah kepergian Tazkia dari sana mata lukisan itu perlahan bergerak mengikuti langkah Tazkia hingga ia menghilang, Rita yang seakan sudah biasa melihat hal itu lantas menundukkan tubuhnya sedikit seakan memberi hormat kepada lukisan tersebut.
"Sepertinya anda tahu kalau nona datang, saya akan memperlakukannya dengan baik nenek buyut." ucap Rita sambil menunduk setelah itu pergi dari sana dan menutup pintu kamar tersebut.
****
Di ruang makan.
Dari kejauhan Tazkia sudah melihat Faris dan juga neneknya tengah berbincang di ruang makan. Melihat hal itu senyuman terukir di wajah cantiknya, ia tidak menyangka bahwa sang nenek akan menyambut Faris dengan tangan terbuka seperti itu.
"Tidak ada kami hanya sekedar bertegur sapa saja." ucap nenek sambil tersenyum. "Silahkan di nikmati, kalian pasti lapar bukan?" ucap nenek kemudian.
Tazkia dan Faris lantas memulai ritual makan mereka dengan nikmat tanpa adanya percakapan hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menemani mereka.
"Nenek tidak mak..." ucap Tazkia namun terpotong karena melihat sesuatu yang ganjal pada neneknya.
Tazkia melihat tubuh neneknya yang seperti bayangan samar namun detik berikutnya kembali, Tazkia bahkan sampai mencoba menajamkan pandangannya karena ia berpikir cahaya lampu yang tidak terlalu terang membuat pandangannya sedikit kabur, namun ketika tanpa sengaja Tazkia melihat ke arah bawah, ada yang berbeda dengan bayangan neneknya. Suasana makan malam kali ini memang dengan lampu yang sedikit gelap dan hanya berasal dari cahaya lilin yang di taruh berderet panjang di meja makan serta lemari lemari antik di sekitar ruang makan, Tazkia sendiri tidak tahu alasannya mengapa, hanya saja ketika ditanyai Rita menjawab bahwa cahaya lilin membawa kedamaian daripada sebuah cahaya yang berasal dari lampu, letak keanehan tidak hanya sampai di situ ketika ia melihat ke arah bawah harusnya bayangan yang nampak akan terlihat seperti seseorang yang duduk di sebuah kursi, tapi nyatanya bayangan yang timbul di bawah neneknya hanyalah sebuah kursi saja tanpa ada orang di atasnya atau kosong. Tazkia yang tidak percaya dengan penglihatannya kembali menajamkan pandangannya, sayangnya meski di lihat beberapa kali pun bayangan itu tetap sama.
__ADS_1
"Ada apa Ki? apa kamu melihat sesuatu?" tanya neneknya sambil tersenyum membuat Tazkia menyudahi rasa penasarannya.
"Tak apa nek." ucap Tazkia sambil tersenyum.
"Kalau begitu kalian lanjutkan makannya, nenek mau ke kamar dulu." ucap nenek sambil bangkit berdiri memegangi tongkatnya.
"Nenek tidak makan?" ucap Tazkia yang baru sadar kalau neneknya tidak menyentuh apapun yang terhidang di meja makan sejak tadi.
"Tadi nenek sudah makan." ucapnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Faris dan juga Tazkia di sana.
Setelah kepergian neneknya, Tazkia melihat kembali ke arah lantai bawah kursi yang telah di duduki neneknya dan bayangan itu tetap sama kosong, hanya ada bayangan kursinya saja.
"Ada apa sih Ki?" tanya Faris dengan penasaran karena sedari tadi Tazkia selalu melihat ke arah bawah.
"Tidak apa, sebaiknya kita teruskan saja." ucap Tazkia.
Sementara itu dari arah dapur Rita yang memperhatikan segalanya lantas tersenyum melihat mimik wajah Tazkia yang berubah ubah, ia tahu Tazkia pasti terkejut karena baru melihatnya untuk yang pertama kalinya.
"Nona pasti akan mulai terbiasa, sesuatu yang ditakdirkan pasti akan tetap terjadi walau kita menghindar ke ujung dunia pun." ucap Rita dengan senyum dan raut wajah yang tidak bisa di baca.
Setelah itu Rita lantas berjalan membawa nampan berisi sesajen sama persis di kamar yang Tazkia masuki tadi, namun bedanya kali ini Rita tak membawanya ke kamar itu melainkan ke kamar nenek.
__ADS_1
Bersambung