Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Ekor ular ~Ular tangga keramat #2


__ADS_3

"Kita tidak punya pilihan lagi selain bermain, sebaiknya kita selesaikan dengan cepat dan segera keluar dari sini." ucap Tazkia yang lantas membuat semua orang langsung terdiam.


**


Mereka berlima lantas berkumpul di area tengah dengan posisi memutar, di mulai dari Aditya, Tazkia, Faris, Sinta, dan yang terakhir Prasetia. Mereka duduk dengan memutari papan kayu yang sudah di buka dan menampilkan ular tangga di dalamnya.


"Bagaimana cara mainnya? sepertinya tidak sama seperti ular tangga pada umumnya." tanya Aditya dengan bingung sambil terus menatapi papan kayu di depannya.


"Ya, hanya ada satu pion dan sudah sampai pada kotak nomor tiga." timpal Faris.


"Pasti ada sesuatu yang kita tidak tahu?" ucap Tazkia.


"Tapi Dit, bagaimana pion ini bisa muncul tepat di kotak nomor tiga dan tidak bisa dipindah ataupun bergerak?" tanya Sinta penasaran.


"Gue juga gak tahu, tadi gue hanya jatuh dan dadu menggelinding begitu saja, lalu gue sudah melihat pion itu ada di kotak nomer tiga." ucap Aditya sambil mengingat ingat apa yang terjadi tadi.


"Mungkinkah pion dalam ular tangga ini akan muncul secara ajaib sesuai dengan jumlah pemainnya?" ucap Prasetia kemudian.


"Bisa jadi" ucap Tazkia. "Sebaiknya kita lanjutkan dengan mengocok dadu kembali." imbuhnya.


"Jika tadi di mulai dari Aditya walau itu tidak sengaja, bagaimana kalau kita kembali memulai dari Tazkia dan berakhir ke Prasetia lalu kembali pada Aditya lagi." usul Faris.


"Setuju" jawab Aditya yang lantas diikuti anggukan oleh yang lainnya tanda setuju.

__ADS_1


Tanpa basa basi Tazkia kemudian mulai mengocok dadu, perlahan dadu yang telah di kocok Tazkia jatuh dan menggelinding lalu berhenti tepat di angka 5. Melihat hal itu mereka berlima hanya terdiam sambil menatap ke arah papan kayu, menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Dan benar saja, tak perlu menunggu waktu lama sebuah bidak kayu kecil atau yang biasa kita sebut pion dalam permainan ini mendadak muncul lalu bergerak hingga ke kotak nomor lima.


Terdapat tangga kecil di sana membuat pion milik Tazkia lantas terus naik hingga meloncati dua kotak dan berakhir di kotak dengan angka 7.


"Selamat karena kamu mendapatkan anak tangga dan naik meloncati dua kotak."


Suaranya terdengar memenuhi ruangan itu, membuat kelimanya lantas sedikit bernafas lebih lega karena mereka aman.


Sekedar informasi papan kayu yang ditemukan Aditya, terdapat permainan ular tangga di dalamnya. Terdiri dari 50 kotak dengan susunan 5 kotak mendatar dan 10 kotak menurun, dalam keseluruhan kotaknya terdapat total 7 ekor ular dan 4 buah tangga yang siap menjebak siapa saja yang tengah bermain. Tidak ada bidak atau pion yang melengkapi permainan tersebut, jika kalian ingin bermain tinggal melempar dadu sesuai urutan, maka bidak atau pion akan muncul dengan sendirinya sesuai jumlah orang yang bermain. Bukankah terdengar ajaib dan menyenangkan? jika kalian mengatakan hal itu, maka itu tidak sepenuhnya tepat karena ular tangga ini lebih mengerikan dari yang ada di pikiran kalian.


Permainan kembali di lanjut, kali ini Faris terlihat mulai mengocok dadu kemudian melemparkannya. Semua orang yang ada di sana tentu saja berwajah tegang, mereka hanya bergantung dengan peruntungan kali ini, karena kelimanya bahkan tidak mengetahui pasti apa yang menanti mereka berlima di dalamnya.


Dadu terus berputar dan berakhir dengan angka 2 di sana. Terdapat gambar ekor ular di sana yang langsung membuat wajah ke limanya ketar ketir menantikan apa yang akan muncul. Jika itu ular tangga biasa maka ekor ular tidak akan berarti apa apa, namun sayangnya hal itu tidak berlaku dalam permainan ini.


Bidak atau pion perlahan mulai berjalan dan berhenti di angka dua.


Melihat tulisan itu muncul, membuat kelimanya saling pandang satu sama lain, tidak mengerti dan juga bingung akan maksud dari tulisan tersebut.


"Rintangan? rintangan apa yang dimaksud?" tanya Aditya dan hanya di balas dengan gelengan kepala oleh yang lainnya.


Tepat setelah Aditya bertanya tentang rintangan yang tertulis di sana papan kayu tersebut menghilang, membuat semua orang terheran melihat hal itu. Belum habis keterkejutan mereka lampu mendadak mati dan hidup berulang layaknya di sebuah penjara, terus hidup dan mati membuat kelimanya semakin di buat bingung.


"Sebaiknya kita mulai berpencar dan mencari papan kayu itu." ucap Faris kemudian yang di balas anggukan oleh yang lainnya.

__ADS_1


Perlahan mereka mulai bangkit dan bergerak, ketika Tazkia hendak melangkah, tangan Faris menggenggam erat tangannya membuat langkah Tazkia terhenti dan menatap bingung ke arah Faris, walau tidak terlihat sepenuhnya karena lampu yang terus hidup dan mati.


"Tetaplah bersama ku apapun yang terjadi." ucap Faris dengan nada seakan memohon kepada Tazkia.


Tazkia menyentuh perlahan pipi Faris seakan menenangkan rasa ke khawatiran pria dihadapannya ini.


"Semua akan baik baik saja, tapi jika kamu masih khawatir baiklah kita cari berdua papan itu." ucap Tazkia kemudian yang di balas Faris dengan anggukan.


Mereka berlima mulai berpencar mencari papan itu, dengan posisi Tazkia dan Faris mencari ke arah rak buku sebelah utara, Sinta rak buku sebelah selatan, Prasetia di kafe, sedangkan Aditya mencari ke bagian playground.


*Posisi Aditya


Aditya melangkahkan kakinya menyusuri area playground dengan perasaan yang ketar ketir, dalam situasi seperti ini Aditya menarik kata katanya yang takjub tentang kelengkapan serta besarnya tempat ini.


"Kalau gue tahu akan kejadian seperti ini, ogah gue mengiyakan ajakan dokter Faris tadi." gerutu Aditya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari papan kayu itu. "Benar benar apes banget, mana semua ponsel mendadak tidak ada sinyal sih, perasaan tadi baik baik aja." imbuhnya lagi.


Dengan perasaan yang kesal dan juga malas bercampur jadi satu Aditya tetap mencari papan kayu itu, di carinya papan kayu ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah namun tetap tidak ketemu. Aditya kemudian lantas melihat ke arah perosotan, dengan cahaya lampu yang mati dan hidup secara terus menerus Aditya samar samar seperti melihat sebuah bayangan benda di dalam perosotan.


Aditya yang berpikir mungkin itu adalah papan kayu, lantas mulai merogoh ke dalam perosotan mencoba mengambil benda yang di sangka Aditya adalah papan kayu yang ia cari.


"Eh tapi kok becek? kaya basah basah gitu." ucap Aditya dengan masih meraba ke dalam perosotan, sambil mulai menarik benda itu dan mengeluarkannya.


Saat benda tersebut berhasil keluar dan di pegang oleh Aditya, samar samar Aditya melihat seperti potongan kepala manusia dengan darah segar yang membasahi seluruh bagian kepalanya, namun tidak terlalu jelas karena posisi lampu yang terus hidup dan mati.

__ADS_1


"Ti... tidak mungkin kan..." ucap Aditya dengan gemetaran tapi masih tetap memegang benda itu.


Bersambung


__ADS_2