Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Seperti mengurai benang yang kusut ~ Desa tanjung tari #14


__ADS_3

Keesokan paginya Tazkia terbangun karena perutnya merasa keroncongan, ia benar benar harus bangun dan memasak untuk memberi makan cacing cacing di perutnya yang sudah mulai berdemo sedari tadi. Tazkia mengerjapkan matanya berkali kali, ditatapnya Sinta yang masih tertidur lelap di sampingnya, sinar mentari mulai menembus celah celah dinding kamar Tazkia, perlahan Tazkia membuka jendela kamar dan merasakan sinar mentari yang menembus tubuhnya.


" Huah kenapa harus lapernya sekarang sih? gue kan mau puasin tidur dulu mumpung hari ini libur ngajar." ucap Tazkia dengan ogah ogahan.


Butuh beberapa detik untuk mengumpulkan nyawanya agar sadar dan bangun sepenuhnya, sampai beberapa menit selanjutnya barulah Tazkia melangkah pergi hendak ke mandi kemudian memasak untuk sarapan pagi ini.


Berkali kali Tazkia menguap karena masih mengantuk, namun ia sebisa mungkin untuk segera bangkit karena perutnya sama sekali tidak bisa di ajak kompromi sedari tadi.


Beberapa menit kemudian setelah mandi tubuh Tazkia terasa lebih segar dan fresh, ia kemudian berjalan ke arah dapur hendak memulai untuk memasak sarapan pagi, ketika sampai di sana betapa terkejutnya Tazkia ketika melihat Aditya tiduran di bawah lantai dapur persis di depan pintu kamar kecil. Melihat hal itu Tazkia lantas berlari menghampiri Aditya dan berteriak meminta tolong kepada yang lainya.


" Astaga, tolong!" ucap Tazkia setengah berteriak yang lantas membuat beberapa penghuni rumah berlarian menuju ke arah teriakan Tazkia.


Setelah mendengar teriakan Tazkia tidak lama semua orang mulai berkumpul di dapur dan menatap ke arah Tazkia dengan penasaran, sedangkan Tazkia yang di tatap lantas menunjuk ke arah Aditya yang tergeletak di bawah.


" Hanya ini toh, ku kira apaan budayakan untuk tidak teriak karena itu membuat bising." ucap Aldo dengan nada ketus kemudian melangkah kembali meninggalkan semua orang yang menatap Aldo dengan tatapan kesal.


" Dasar tidak punya perasaan." celetuk Sinta sambil melihat kepergian Aldo.


" Maafkan Aldo ya, dia tidak bermaksud berbicara seperti itu." imbuh Doni karena merasa tidak enak pada yang lainnya.

__ADS_1


" Sudahlah tidak apa, lebih baik sekarang kita coba bangunin Aditya dulu dan mencari tahu kenapa dia bisa di sini." ucap Prasetia yang di balas lainnya dengan anggukan.


Prasetia kemudian mengambil posisi jongkok di sebelah Aditya dan mulai menggoyang goyangkan bahunya secara perlahan. Satu detik, dua detik sampai sepuluh detik tidak ada respon apapun dari Aditya, sampai kemudian karena kesal dan berpikir Aditya tengah mengepranknya, Prasetia lantas dengan usil memencet kedua hidung Aditya, tak lama kemudian Aditya lantas langsung terbangun dengan gelagapan seperti ikan yang sedang kehabisan air.


" Sudah sadar?" tanya Prasetia dengan nada santai namun di balas plototan oleh Aditya.


Aditya yang mendengar suara Prasetia lantas langsung mendongak untuk memastikan bahwa itu benar benar suara Prasetia yang asli bukan jadi jadian seperti semalam.


" Astaga Pras hampir terkejut gue, lo asli kan?" ucap Aditya sambil bangkit perlahan dan menampar pipi Prasetia secara pelan namun dengan berulang kali.


Prasetia yang mendapat perlakuan itu lantas balas menoyor Aditya kemudian menatapnya dengan kesal sekaligus bertanya tanya, sedangkan Tazkia dan juga Sinta hanya saling pandang menyaksikan keduanya.


Tazkia yang mendengar ucapan Doni lantas sedikit bingung, bagaimana mungkin ia bisa menetralkan Aditya jika caranya saja Tazkia tidak tahu sama sekali. Tazkia memang memiliki kemampuan tapi ia masih belum menyadarinya sepenuhnya.


" Netralin apaan? mana gue bisa?" ucap Tazkia dalam hati sambil menatap kepergian Doni hingga menghilang dari pandangannya.


" Udah bangun sana jangan manja, lo bikin semua orang khawatir tau gak?" ucap Prasetia sambil bangkit berdiri dan membenarkan posisi bajunya diikuti dengan Tazkia dan juga Sinta.


" Cuek amat sih lo Pras! lagian mana ada orang khawatir mukanya datar kek kalian." ucap Aditya sambil ikut bangkit dan membersihkan bajunya yang sedikit kotor karena tidur di bawah sejak semalam.

__ADS_1


" Cih lagian lo hanya begitu doang langsung ko, lo kan sudah melihat banyak sosok ketika di Villa Edelweis sampai sekarang, masak ya gak terbiasa juga." celetuk Sinta yang lantas di balas tatapan tajam oleh Aditya.


" What the hell! lo bilang belum terbiasa? kalau gitu coba sendiri ketemu mereka, gue mau lihat apa lo masih bisa mengatakan hal barusan." ucap Aditya dengan kesal yang tidak terima dengan perkataan Sinta.


" Udah udah, masak hanya hal seperti ini kalian bertengkar, semakin kalian seperti ini semakin mereka senang melihat dan menggoda kalian." ucap Tazkia dengan kesal kepada keduanya.


Mendengar ucapan Tazkia tentu saja keduanya langsung terdiam dan menutup mulutnya rapat rapat.


" Itu lebih bagus." ucap Tazkia lagi namun kali ini dengan tersenyum menatap ke arah Sinta dan juga Aditya secara bergantian.


******


Sementara itu jauh di waktu di mana masa yang saat ini Tazkia dan teman temannya lewati, Roman tengah menjelajah kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan putri kecilnya lali, ya ini bahkan sudah menjadi rutinitasnya setiap seminggu sekali atau bahkan jika dia ingin melakukannya. Aneh bukan? Roman terus menjadi pembunuh putrinya dengan kejam namun ia juga terus kembali menyelamatkan putrinya di masa lalu, seperti sebuah roda sepeda yang terus berputar ketika seseorang mengayuhnya, Roman tidak menyadari satu hal bahwa semakin sering ia menyelamatkan putrinya maka semakin sering juga Roman di masa lalu membunuh putrinya tanpa ia sadari, yang Roman ketahui ia hanya menjadikan putrinya sebagai kelinci percobaan dan akan kembali menyelamatkan putrinya lagi tanpa rasa penyesalan sedikitpun dihatinya, bukankah ia ayah yang kejam?


Roman berjalan melewati beberapa pohon besar di perbatasan hutan, hingga sampai pada pohon kembar yang terletak berhadapan tempat terjadinya awal mula ia menjadikan putrinya sebagai kelinci percobaan untuknya membuktikan bahwa dirinya bisa kembali ke masa lalu. Ditatapnya pohon kembar itu cukup lama, hingga beberapa menit kemudian terdengar helaan nafas di sana berkali kali, ia seperti menyadari sesuatu hal namun ia sendiri sulit untuk mengungkapkannya, seperti tengah mengurai benang yang kusut, meski ia tahu letak ujung benang tersebut namun ia tak kunjung bisa membuka untaian benang kusut tersebut menjadi utuh kembali seperti sedia kala.


" Apa yang salah? aku selalu menyelamatkan Utari, namun Utari tetap saja meninggal dengan cara yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda, apa yang sebenarnya aku lewatkan?" ucapnya sambil menatap ke arah pohon besar kembar itu. " Sekarang aku harus menyelamatkan Utari di mana lagi? semakin lama dan sering aku menyelamatkannya, kematian Utari semakin acak dan membuatku bingung, sialan apa aku sedang di kerjain?" ucapnya kemudian melangkah pergi untuk menyelamatkan Utari.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2