
Beberapa minggu kemudian
Terlihat Sinta sedang berada di apartment miliknya, secara berangsur angsur Sinta nampak semakin pulih dimana terlihat dari gips yang sudah di lepas dari lengannya. Memang belum sembuh sepenuhnya dan dokter menyarankan untuk tidak membuat tangan kirinya bekerja lebih keras atau akan memicu keretakan kembali. Seulas senyum terbit dari wajah Sinta kala melihat penampilannya di cermin yang kembali seperti semula, Sinta sangat senang karena pada akhirnya ia dapat kembali beraktifitas seperti semula walau belum sepenuhnya.
"Akhirnya aku bisa bebas juga...." ucapnya sambil mematut dirinya di cermin dengan sesekali melirik tangan kirinya.
Ting tong ting tong
Terdengar suara bel pintu apartemen di pencet, membuat Sinta lantas langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju ke arah pintu depan. Dengan perlahan Sinta mulai membuka pintu apartment miliknya dan di luar terlihat seorang laki laki tengah berdiri sambil tersenyum ramah menatap ke arah Sinta.
"Apa benar dengan mbak Sinta Permata Dewi?" tanya pria itu dengan ramah sambil membaca sebuah kertas yang ia pegang sedari tadi.
"Ya saya" ucap Sinta sambil mengingat ingat apa yang telah ia pesan.
"Kami dari jasa pengiriman ekspres ingin mengantar sofa milik anda." ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah dua orang lainnya yang tengah terlihat menggotong sofa.
"Oh iya silahkan bawa masuk ke dalam." ucap Sinta kemudian sambil membuka pintu rumahnya dengan lebar agar dua orang yang membawa sofa miliknya bisa masuk ke dalam.
Kedua orang yang menggotong sofa milik Sinta lantas langsung masuk dan mengikuti arahan Sinta yang menyuruh mereka meletakkan sofa tersebut di ruang tengah tepat di depan televisi. Setelah memastikan mereka menyelesaikan tugasnya, pria yang tadi berbicara dengan Sinta lantas langsung mendekat ke arah Sinta dan memberinya sebuah kertas untuk Sinta tanda tangani.
"Terima kasih banyak mas" ucapnya setelah membubuhkan tanda tangannya pada kertas tersebut.
"Sama sama mbak, saya permisi dulu..." ucap pria tersebut kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan apartment milik Sinta.
Setelah kepergian kurir yang mengantar sofa miliknya, Sinta lantas menatap bahagia ke arah sofa barunya lalu berjalan mendekat dan langsung mendudukkan dirinya di atas sofa. Dengan perlahan Sinta mulai menaik turunkan pantatnya untuk mengetes keempukan sofa tersebut lalu tersenyum seakan akan merasa puas dengan sofa barunya.
"Sofanya empuk dan lembut, sungguh beruntung aku mendapatkannya dengan harga yang murah namun kualitasnya bukan kaleng kaleng, worth it banget lah pokoknya." ucap Sinta dengan raut wajah yang bahagia.
__ADS_1
Hihihahaha
Sebuah tawa kecil lantas tiba tiba terdengar di telinganya membuat Sinta yang semula tersenyum langsung terdiam seketika. Sinta menatap ke sekeliling mencari sumber suara, siapa tahu mungkin mas mas yang tadi mengantar sofanya belum keluar dari apartemennya, bulu kuduk Sinta mendadak meremang ketika menyadari bahwa di apartemennya tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya sedari tadi.
"Aneh, apa gue salah dengar tadi ya?" ucap Sinta pada diri sendiri sambil menyusuri setiap sudut apartemennya dan tetap berpikir positif walau otak dan respon tubuhnya tentu tidaklah sinkron ketika mendengar hal hal yang begituan.
Ting tong ting tong
"Astaga!" pekik Sinta yang terkejut ketika mendengar suara bel pintu menggema di ruangannya.
Dengan langkah yang kesal karena terkejut dengan suara bel pintu tersebut, Sinta lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Kejutan ...." teriak seseorang membuat Sinta yang baru saja membuka pintu lantas terkejut mendengar teriakan tersebut.
"Kalian" ucap Sinta sambil menatap ke arah Tazkia, Aditya dan juga Prasetia secara bergantian.
"Ehem Sin maap maap nih ya... lo gak nyuruh kita masuk apa? pegel nih tangan." sindir Aditya kemudian yang lantas membuat Sinta langsung membuka pintu rumahnya dengan lebar agar ketiganya bisa masuk ke dalam.
"Kalian ada acara apa bawa makanan segini banyaknya ke sini?" tanya Sinta dengan bingung.
"Ya buat party lah!" teriak Aditya dengan ceria.
"Adit!" panggil Tazkia dan juga Prasetia secara bersamaan.
"Bukan Sin, ini adalah untuk merayakan kesembuhan lo jadi kita berinisiatif untuk mengadakan makan makan bersama." ucap Prasetia kemudian membuat mata Sinta lantas berkaca kaca ketika mendengarnya.
"Aaaaaa so sweet" ucap Sinta terharu namun langsung mendapat toyoran kepala dari Aditya.
__ADS_1
"Lebay lo..." ucap Aditya dengan sinis.
"Sudah sudah gak usah ribut mending kita makan yuk..." ajak Tazkia kemudian.
"Betul" ucap yang lainnya seakan menyetujui usulan Tazkia barusan.
Keempatnya kemudian lantas mulai makan makan mereka disertai dengan tawa dan juga senda gurau yang mengiringi keempatnya. Sudah lama mereka tidak melakukan kegiatan seperti ini, terakhir kali waktu di rumah Prasetia dan itu pun berakhir dengan ricuh karena teror boneka setan.
Tazkia menatap ketiganya dengan raut wajah yang bahagia, setelah misteri ambulans tempo hari terpecahkan Tazkia dan juga yang lainnya kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Sejauh ini Tazkia masih menikmati waktunya dengan tenang meski terkadang keusilan Icha selalu saja membuatnya naik darah, namun selebihnya tidak ada misteri berat yang biasanya mengikuti kemanapun langkah kaki Tazkia melangkah.
"Semoga saja akan terus seperti ini kedepannya." ucap Tazkia dalam hati sambil menatap ke arah ketiganya yang sedang sibuk memainkan popcorn di meja makan sambil bermain tebak tebakan.
Ketika Tazkia berpikir bahwa semuanya sudah mulai normal, samar samar Tazkia seperti mendengar tawa seseorang tak jauh dari tempatnya berada. Tazkia yang mendengar hal itu lantas langsung menatap sekeliling mencari ke sumber suara sekaligus memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan tidaklah salah.
"Ada apa Ki?" tanya Prasetia kemudian yang sadar ada yang aneh dengan Tazkia.
"Apa kalian mendengarnya?" tanya Tazkia sambil menatap ke arah ketiganya.
"Mendengar apaan?" tanya Aditya dengan raut wajah penasaran.
Tazkia yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terdiam sejenak, jika melihat dari tatapan ketiganya yang menatap Tazkia dengan tatapan yang bingung, sepertinya yang mendengar suara tawa barusan hanyalah dirinya.
"Ki! kenapa lo malah melamun sih?" ucap Aditya kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Tazkia tentang suara barusan.
"Tidak ada mungkin aku hanya salah dengar saja." ucap Tazkia kemudian.
"Dasar gue kira dengar apaan..." sindir Aditya.
__ADS_1
"Gue ke kamar mandi dulu ya kebelet nih..." ucap Tazkia kemudian dengan langkah terburu buru yang di balas ketiganya dengan anggukan.
Bersambung