Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Bukanlah takdir buruk bagi mereka


__ADS_3

Faris bersiap menuju ruang ICU setelah mendapat telpon dari suster Mirna tadi. Faris menekan tombol agar pintu terbuka untuk masuk ke dalam ruang ICU.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Faris sambil melihat data pasien.


"Untuk saat ini semuanya normal, hanya saja sebelum di transfer kemari pasien mengalami kejang kemudian pingsan." jelas Mirna.


"Cobalah melakukan CT scan untuk pasien ini aku khawatir terjadi cedera otak, setelah itu laporkan hasilnya padaku." ucap Faris sambil memberikan data pasien kepada Mirna.


"Baik dok"


Setelah mengatakan hal itu Faris melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU. Ketika melewati lorong kamar rawat inap pasien, pandangannya terhenti kala melihat sosok wanita yang meminta pertolongannya tadi tengah duduk di depan pintu ruang rawat.


Awalnya Faris hanya ingin melewatinya saja namun tiba tiba rasa simpatik dalam dirinya mendorong Faris untuk berhenti dan melihat kondisi wanita itu.


"Apakah anda ingin membantu saya kembali dok?"


Tanya sosok itu dengan antusias sambil mengikuti Faris yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat itu.


"Sus apa itu barang barang pasien?" tanya Faris ketika melihat seorang perawat membawa pakaian yang sudah hampir rusak karena setengahnya terbakar.


"Ya dok, saya ingin membereskannya." ucap perawat itu.


"Tinggalkan saja di situ, biar saya yang melakukannya."


"Apa anda yakin?" tanya suster itu yang di balas anggukan kepala oleh Faris, suster tersebut kemudian melenggang pergi dengan sesekali menatap aneh kepada Faris, seakan tak percaya karena ini adalah pertama kalinya Faris meminta hal yang biasanya tidak ia lakukan sendiri.


Setelah kepergian suster tersebut, Faris membuka pakaian yang sudah tidak berbentuk itu untuk mencari tahu apakah ada petunjuk di sana. Entah ini sebuah kebetulan atau bukan? sebuah foto yang sedikit gosong perlahan jatuh dari saku pakaian yang ia pegang.


"Ilham"


Faris mengambil foto itu dengan segera, tepat setelah foto itu di balik Faris terdiam karena ia seperti mengenal sosok dalam foto itu meski warna dari foto tersebut sedikit gosong dan sudah terbakar sebagian.


"Laki laki ini?" ucap Faris sambil mengingat ingat, hingga beberapa detik kemudian Faris lantas merogoh ponselnya kemudian mendial nomor Mirna di sana.

__ADS_1


"Halo dok, untung dokter menelpon terlebih dahulu, pasien yang baru saja di transfer kemari mendadak kritis dan saat ini tengah di tangani oleh dokter Rian." ucap Mirna memberikan kabar kepada Faris, padahal tadinya Faris berniat untuk menanyakan keadaan pasien itu karena foto yang baru saja ia temukan sama dengan pasien yang baru ditransfer kemari.


Faris kemudian menyudahi panggilannya dengan spontan setelah Mirna mengatakan hal itu.


"Ayo ikut! aku tahu di mana kekasih mu." ucap Faris kepada sosok itu kemudian melangkahkan kakinya bergegas menuju ruang ICU.


**


Benar saja ketika sampai di sana sosok hantu wanita itu langsung mengenali wajah kekasihnya yang tengah terbaring lemah di brankar pasien. Terlihat dokter Rian tengah melakukan CPR untuk mengembalikan detak jantung pasien itu.


Sosok tersebut nampak menangis dengan kencang kala mendengar Ilham dinyatakan meninggal dunia oleh dokter Rian. Faris yang tadinya nampak kesal karena sosok tersebut terus mengganggunya, kini menjadi luluh ketika melihat sosok wanita itu menangis di sebelah kekasihnya.


Faris melangkahkan kakinya hendak mendekat ke arah sosok wanita itu namun ketika baru beberapa langkah tubuhnya lantas oleng karena di tabrak oleh seseorang.


"Ada apa?" tanya Faris sambil membetulkan posisinya.


"Code blue dok!" ucap suster itu dengan tergesa.


Faris yang paham betul dengan arti dari kata code blue lantas langsung berlari mengikuti arah suster tadi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Faris ketika sampai di sana.


"Dia sudah pergi dok! apakah dokter saudaranya?" tanya dokter Cika yang heran kala melihat raut wajah khawatir dari Faris.


"Bukan"


"Kalau begitu saya permisi." ucap Cika kemudian melenggang pergi dari sana.


Faris terdiam bingung hendak mengatakan apa di situasi seperti ini, bukankah ini seperti sebuah takdir yang mempertemukan keduanya tanpa sengaja di rumah sakit ini? walau dalam keadaan yang tak sadar sekalipun ikatan keduanya benar benar sangat erat.


Faris memijat pelipisnya perlahan, di tatapnya lorong rumah sakit yang bercat warna putih memanjang itu dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Samar samar dari arah lorong Faris seperti melihat sesuatu rasanya nampak seperti sosok wanita itu yang berjalan bergandengan tangan dengan laki laki di ruang ICU tadi, dengan senyum mengembang di wajah keduanya.


"Sepertinya ini bukanlah takdir buruk bagi mereka berdua." ucap Faris sambil tersenyum kala melihat bayangan itu yang perlahan lahan mulai menghilang.

__ADS_1


***********


Villa nenek


Setelah makan malam Tazkia dan yang lainnya memutuskan untuk berbincang sebentar di ruang keluarga, Aditya dan juga Prasetia terlihat tengah asyik memainkan PlayStation sedangkan Sinta dan Tazkia nampak asyik bersenda gurau.


"Btw Ki kenapa gue tidak pernah melihat nenek lo?" tanya Aditya tiba tiba.


Tazkia yang mendapat pertanyaan itu lantas menatap bingung ke arah Aditya, bukan tanpa sebab pasalnya neneknya bukankah selalu ikut makan malam bersama mereka, mengapa Aditya masih bertanya?


"Jangan bercanda Dit, bukankah nenek tadi ikut malam bersama kita?" ucap Tazkia dengan tawa yang garing.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Prasetia, Sinta dan juga Aditya langsung menatap ke arah Tazkia dengan tatapan seakan akan tercengang kala mendengar jawaban dari Tazkia barusan.


"Ada apa dengan kalian? bukankah gue benar? gue bahkan mengambilkan nenek ayam goreng tadi di meja makan." ucap Tazkia yang malah semakin membuat ketiganya bingung.


"Bukankah tadi lo mengambil ayam untuk dirimu sendiri?" tanya Prasetia yang kali ini malah membuat Tazkia bingung.


"Ayolah geis ini sudah tidak lucu lagi." ucap Tazkia dengan tawa garing seakan mengira ucapan teman temannya hanyalah sebuah candaan.


"Tapi kami sungguh tidak melihat nenek lo tadi di ruang makan!" ucap Sinta kali ini dengan penuh penekanan.


Mendengar hal itu tawa Tazkia perlahan lahan hilang, pikirannya melayang pada ingatan yang lalu kala ia tak menemukan bayangan neneknya sama sekali yang sedang duduk di kursi meja makan kala itu.


"Apakah kalian sedang tidak berbohong?" tanya Tazkia sekali lagi memastikan apa yang ia dengar bukanlah sebuah gurauan semata


"Apakah kami terlihat seperti tengah bercanda sekarang?"


"Tentu tidak!"


Bersambung


Note

__ADS_1


Code blue adalah kode isyarat yang digunakan dalam rumah sakit yang menandakan adanya seorang pasien yang sedang mengalami serangan jantung (cardiac arrest), atau mengalami situasi gagal nafas akut (respiratory arrest), dan situasi darurat lainnya menyangkut nyawa pasien.


__ADS_2