Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Caki! ~Boneka arwah penuntut balas #4


__ADS_3

Faris dan perawat tersebut lantas melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju ruang perawatan pasien. Dari luar terdengar teriakan demi teriakan yang berasal dari dalam bangsal ruang rawat inap pasien, hingga membuat beberapa orang nampak berkumpul karena penasaran apa yang tengah terjadi dengan pasien di bangsal tersebut.


"Jangan bunuh aku! aku bersalah... aku bersalah." teriak laki laki itu dengan terus meronta hendak pergi dari sana karena kaki dan tangannya di pegang erat oleh beberapa perawat laki laki.


Mendengar hal tersebut Faris mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam. Suasana di dalam terlihat sangat kacau, selang infus dan juga peralatan lainnya terlihat berantakan, ada darah segar menetes dari tangan lelaki itu karena selang infus yang tercabut dengan paksa.


"Berikan dia suntikan penenang." perintah Faris yang lantas di balas anggukan oleh perawat tersebut.


Perawat itu lantas melangkah mendekat ke arah pasien tersebut mencoba memberinya suntikan penenang, sedangkan perawat lainnya berusaha memegang kedua kaki dan tangannya agar tenang.


Tak beberapa lama suntikan tersebut mulai bereaksi, pasien itu perlahan mulai tenang dan tertidur. Beberapa perawat yang memegangi tangan dan kaki pria itu lantas melepasnya perlahan lalu berganti membersihkan kekacauan yang sudah di buat oleh laki laki tersebut.


Faris lantas memasang kembali selang infus pada tangan pria tersebut dan mengecek kondisinya.


"Apa pasien ini punya riwayat sakit mental?" tanya Faris kemudian.


"Kami belum tahu dok, wali dari pasien ini sampai sekarang belum terlihat juga." ucap suster tersebut, sedangkan Faris yang mendengar hal itu tentu saja bertanya tanya bagaimana bisa satupun keluarganya tidak ada yang menjenguk pria ini.


"Lalu untuk pembiayaannya siapa yang bertanggung jawab?" tanya Faris penasaran karena jika keluarganya tidak ingin datang maka kita bisa mengetahuinya dari proses pembayaran biaya rumah sakit.


"Pembayarannya sudah lunas dok, ada seorang wanita muda yang selalu datang dan melunasi semua biayanya." ucap suster tersebut.


"Apa dia anggota keluarganya?" tanya Faris


"Sepertinya bukan dok" ucap perawat tersebut tidak terlalu yakin.

__ADS_1


"Lalu? bagaimana bisa orang itu mengeluarkan uang dengan percuma untuk seseorang yang tak dia kenali, bukankah ini aneh?" batin Faris dalam hati.


********


Mansion Prasetia


Setelah semua makanannya matang, mereka lantas membawa beberapa olahan seafood dan juga daging yang sudah matang dengan sempurna pada sebuah meja yang mereka susun di area dekat kolam renang.


Semua orang mulai sibuk mengambil makanan yang mereka inginkan dan mencari tempat duduk ternyaman untuk makan. Sambil membawa piring berisi cumi panggang Tazkia lantas menatap ke arah boneka yang di tenteng oleh Melisa sedari tadi. Tazkia benar benar di buat penasaran akan boneka itu, ia sungguh yakin bahwa apa yang dialaminya tadi bukanlah sekedar mimpi atau hanya halusinasinya saja. Bahkan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya masih terasa sampai sekarang, sungguh tidak mungkin jika itu hanya sebuah mimpi.


"Apa yang sedang kau lihat Ki?" tanya Prasetia tiba tiba namun Tazkia masih acuh dan sibuk memperhatikan boneka yang di bawa Melisa.


"Ada yang tidak beres dengan boneka itu, boneka itu bukanlah boneka biasa. Gue bahkan sempat di buat kewalahan oleh arwah yang mendiami boneka tersebut. Bukankah gue sudah bilang ada roh jahat yang bersemayam di dalam boneka tersebut?" ucap Tazkia yang masih belum sadar bahwa yang bertanya adalah Prasetia.


Prasetia yang mendengar penuturan Tazkia barusan tentu saja terkejut sekaligus bingung, apalagi Melisa yang selalu membawanya ke mana mana membuat Prasetia mulai was was dan cemas jika memang apa yang di katakan oleh Tazkia barusan adalah benar.


"Kenapa lo baru bilang sekarang? atau mungkin hanya gue yang tidak tahu apapun di sini?" ucap Prasetia menatap penuh curiga ke arah Tazkia. "Dit... lo sudah tahu kan?" tanya Prasetia kemudian pada Aditya yang sepertinya hendak melarikan diri kala mendengar ucapan Prasetia barusan.


Aditya menghentikan langkah kakinya kala mendengar panggilan Prasetia barusan, dengan tersenyum cengengesan Aditya lantas berbalik dan menatap ke arah Prasetia dan juga Tazkia di sana. "Pis... gue hanya jadi pendengar kok Pras, gue gak tahu apa apa sumpah." ucap Aditya kemudian.


"Dasar sih Adit, ingin melarikan diri pasti tuh." batin Tazkia dalam hati sambil menatap tajam ke arah Aditya.


"Jangan bilang Sinta juga tahu masalah ini?" tanya Prasetia lagi yang di balas Aditya dengan anggukan. "Kalian memang bener bener ya..." ucap Prasetia kemudian berdecak kesal.


"Maaf Pras, bukan kita gak mau ngasih tau lo hanya saja timingnya belum tepat. Masalah boneka itu terlalu rumit, gue bahkan pernah mencoba untuk melihat memori yang terekam pada boneka itu hanya saja gue gak dapet apa apa sama sekali, sepertinya arwah yang mendiami boneka itu tahu kalau gue mau melakukan sesuatu padanya." jelas Tazkia kemudian.

__ADS_1


"Lalu sekarang kita apakan boneka itu?" tanya Prasetia kemudian sambil menatap ke arah Melisa dan juga Sinta yang sedang bersenda gurau dekat kolam renang.


"Gue juga bingung, masalahnya Melisa tidak pernah melepas boneka itu jadi agak susah juga." ucap Tazkia sambil menatap ke arah Prasetia dan juga Aditya secara bergantian.


"Kita harus cari cara agar Melisa meletakkan boneka itu." ucap Aditya ikut menimpali sambil terus memasukkan sosis bakar di mulutnya.


"Ya gue setuju" ucap Prasetia kemudian.


***


Malam harinya ketika Melisa sedang tertidur, dengan langkah pelan dan mengendap endap Aditya berjalan ke kamar Melisa lalu mengambil boneka tersebut dari pelukan Melisa. Dengan perlahan tapi pasti Aditya mulai menariknya dan langsung ke luar dari kamar Melisa.


"Bagaimana Dit?" tanya Prasetia dengan penasaran begitu juga Tazkia dan juga Sinta yang sudah menunggu Aditya di luar kamar sedari tadi.


"Berhasil dong, ini dia bonekanya." ucap Aditya menunjukkan kedua tangannya.


"Mana Dit?" tanya Sinta yang tidak melihat apapun di tangan Aditya.


Aditya yang baru sadar tangannya kosong lantas celingukan ke bawah dan berpikir boneka tersebut jatuh barusan.


"Jangan bercanda deh Dit, gak lucu tau!" ucap Tazkia dengan kesal.


"Tadi ada, gue yakin banget udah bawa boneka itu keluar, kenapa sekarang tiba tiba kosong?" ucap Aditya dengan bingung.


"Yang bener aja Dit, ya kali tuh boneka turun dan jalan sendiri." ucap Sinta dengan asal namun malah membuat wajah ketiganya pucat kala teringat satu nama boneka yang terkenal dengan kesadisannya.

__ADS_1


"Caki" ucap Tazkia, Prasetia dan juga Aditya secara bersamaan.


Bersambung


__ADS_2