Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Mencari bukti


__ADS_3

Faris yang melihat Hendrawan naik ke atas sungguh tercengang karena papanya justru malah menuruti ucapan perempuan rubah itu ketimbang memberikan pertolongan pertama terlebih dahulu kepada istrinya. Bukankah Hendrawan sangat bodoh atau memang terlalu panik karena melihat darah yang terus keluar dari tubuh istrinya sehingga mengira dia telah tiada?


Faris yang melihat kepergian Hendrawan lantas mulai berlari mendekat ke arah ibunya yang di ikuti Tazkia di belakang Faris.


Faris menatap tubuh lemah ibunya dengan perasaan yang campur aduk tidak bisa di definisikan lagi. Faris kemudian mencoba mengecek denyut nadi serta nafas ibunya, ada secercah harapan ketika ia masih bisa merasakan denyut nadi sang mama walau begitu lemah. Di guncangnya tubuh itu perlahan sambil memanggil mamanya berulang kali berharap dengan melakukan itu ibunya akan kembali bangun.


" Ma ... mama bangun mama ... maafkan Faris yang belum bisa membahagiakan mama hiks hiks, mama tidak boleh seperti ini, bagaimana Faris melanjutkan hidup Faris tanpa mama?" ucap Faris sambil memeluk kepala ibunya dengan hati yang teriris dan tangisan yang cukup tersedu untuk ukuran seorang pria.


Tazkia yang melihat sisi lain dari Faris lantas diam terpaku, Faris yang biasanya seorang laki laki yang periang dan mudah tersenyum meski terkadang datar dan dingin kini menjelma layaknya seorang anak kecil yang menangis tersedu karena kehilangan ibunya di pusat perbelanjaan.


Melihat Faris yang tengah tersedu tanpa sadar membuat Tazkia mengusap bahu Faris perlahan mencoba menghiburnya.


" Kita masih bisa menolongnya ki, aku seorang dokter aku masih bisa merasakan denyut nadinya." ucap Faris dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


" Apa kamu yakin?" tanya Tazkia mencari kebenaran di sana ia takut Faris hanya sedang berhalusinasi karena keyakinan yang teguh bahwa ibunya masih hidup.


Tazkia yang penasaran lantas hendak mendekatkan telinganya ke arah jantung ibu Faris, namun baru saja hendak melakukannya dari arah tangga ia mendengar derap langkah kaki menuju ke arah sini.


" Kita harus pergi dok!" ucap Tazkia sambil menarik lengan kokoh itu.


" Aku tidak bisa, aku harus menyelamatkan mama terlebih dahulu." ucap Faris sambil terus menatapi ibunya.


" Tidak bisa dok kita harus pergi sekarang, karena anda yang di waktu sekarang sebentar lagi akan datang, kita harus segera pergi." ucap Tazkia lagi mencoba meyakinkan Faris.

__ADS_1


" Tapi mama ..." ucap Faris namun terhenti kala mendengar derap langkah yang kian mendekat.


Mendengar langkah kaki itu Tazkia lantas menarik tubuh kokoh Faris dengan paksa untuk kembali bersembunyi, Faris yang enggan pergi menatap sendu ke arah wajah ibunya dan detik berikutnya barulah ia bangkit dan mengikuti arah tarikan Tazkia.


" Om harus berakting sebagus dan senatural mungkin ya, agar Faris percaya akan situasi yang ada dan tidak menaruh curiga sedikitpun." ucap Tania sambil mulai mengikat kaki dan tangan Hendrawan agar terlihat seperti tengah di sandra.


Faris yang melihat kejadian tersebut matanya langsung memerah sambil menahan geram melihat kelakuan papanya yang ingin kabur dari perbuatannya.


" Papa benar benar keterlaluan." ucap Faris dengan geram.


Setelah menyiapkan semua adegan, Tania lantas pamit bersembunyi di dalam kamar agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap Faris nantinya.


Beberapa saat setelah Tania bersembunyi mulai terdengar derap langkah datang memasuki mansion. Hendrawan terlihat memasang muka sedih dan juga ketakutan kemudian berusaha meminta tolong kepada Faris yang baru saja datang.


Faris yang di masa lalu lantas terkejut mengetahui keadaan ibunya yang bersimbah darah, setelah melepas beberapa ikatan Hendrawan, Faris kemudian lantas menelpon ambulans dan membawa ibunya ke rumah sakit.


Cukup lama Tazkia dan juga Faris bersembunyi hingga rasanya kaki Tazkia begitu kesemutan karena terlalu lama berada dalam posisi jongkok. Setelah memastikan semuanya telah pergi ke rumah sakit, Faris lantas bangkit berdiri dan melangkah ke arah kamar dimana tempat persembunyian Tania, Tazkia yang mengetahui arah langkah kaki Faris lantas mulai berusaha mengejarnya.


" Dokter Faris hentikan jangan gegabah, kita tidak bisa langsung menodong Tania seperti ini!" ucap Tazkia sambil berusaha menyusul langkah Faris.


" Aku tidak perduli yang jelas wanita itu benar benar membuat ku muak." ucap Faris dengan nada yang geram seperti singa yang telah menandai mangsanya bersiap untuk menelannya bulat bulat.


Tazkia terus berusaha mengejar langkah kaki Faris dengan tergesa sampai tangannya berhasil meraih tangan Faris dan membuatnya berhenti.

__ADS_1


" Apa lagi sih, bisa tidak kamu diam saja dan hanya melihat." ucap Faris dengan ketus sambil menatap tajam ke arah Tazkia.


" Tentu saja tidak bisa! ini masa lalu pak dokter yang terhormat, dan kita hanya tamu yang tidak di undang di sini! mana bisa kita mengacaukan alur cerita yang sudah digariskan Tuhan dari jauh jauh hari?" ucap Tazkia tak kalah menohok dari Faris.


Mendengar penuturan Tazkia, Faris lantas terdiam dan membisu.


" Lalu aku harus apa? membiarkan dia berkeliaran dan membodohi diriku di masa sekarang?" tanya Faris dengan nada yang kesal.


" Kita harus mencari bukti dan buat diri anda sendiri di waktu ini sadar akan tipu daya perempuan itu." ucap Tazkia menyadarkan Faris yang bertindak secara emosional.


Faris terdiam ia nampak berpikir menimbang ucapan Tazkia, setelah menimbang dalam waktu beberapa menit Faris kemudian lantas menuju ke arah meja yang terletak di sudut sebelah kiri yang terletak di ruang keluarga. Faris membuka satu persatu laci dengan tergesa sedangkan Tazkia yang memperhatikan serta membuntuti Faris sedari tadi lantas menjadi bingung akan sikap Faris yang mengobrak abrik laci.


Setelah mengobrak abrik segala benda dan membuka laci di sana sini, pada akhirnya Faris membawa sebuah kunci kemudian kembali bergegas menuju ke kamar tempat Tania bersembunyi.


Setelah sampai di depan pintu kamar Faris lantas mengunci pintu itu dari luar kemudian mengajak Tazkia pergi. Keduanya lantas kemudian melipir ke arah ruang kerja papanya, di mana ruang kerja tersebut juga merupakan ruang pengendali kamera pengawas di rumahnya.


" Untuk apa kita kesini dok?" tanya Tazkia penasaran karena Faris malah mengajaknya ke ruang kerja di mansion itu.


" Untuk mencari bukti." jawabnya dengan singkat sambil menatap ke arah layar monitor yang ada di sana.


Tazkia memperhatikan layar itu dengan seksama, setelah cukup lama mencari Faris nampak tersenyum ketika rekaman pengawas tersebut memperlihatkan kejadian naas itu. Perlahan Faris memindai semua rekaman pengawas pada saat kejadian itu hingga semua orang pergi menggiring ambulans menuju rumah sakit.


Tazkia mulai mengerti akan maksud ucapan Faris yang mengarah pada bukti, namun ada satu hal yang menjadi pertanyaan Tazkia sedari tadi ketika memperhatikan Faris, apa tujuan Faris sebenarnya dengan menghapus seluruh jejak rekaman pada hari itu? bahkan Faris sampai memasukkan sendiri virus untuk membuat gangguan pada sistem kamera pengawas pada jam di saat kejadian naas itu berlangsung, bukankah itu sungguh aneh?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2