Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Belum dikirim? ~ Mengapa aku dilahirkan #7


__ADS_3

Ruang tengah


Terlihat Tazkia, Aditya, Sinta dan juga Prasetia tengah berkumpul di ruang tengah untuk membahas apa yang baru saja Tazkia temukan tentang sofa itu. Keempatnya nampak terdiam saling menyelami pikiran masing masing, hingga kemudian Aditya mulai membuka percakapan.


"Sebenarnya dari mana lo dapatkan sofa itu Sin?" tanya Aditya dengan penasaran.


"Situs online, semua reviewnya bagus kok nggak ada komplainan sama sekali." ucap Sinta dengan yakin sambil membuka ponselnya dan menunjukkan kepada ketiganya situs online tersebut.


"Aman kok" ucap Aditya yang menggeser ponsel Sinta melihat review para pembeli.


Tazkia terdiam mencoba berpikir dengan jernih tentang hal ini, jika semua review bagus tidak mungkin ada satu yang buruk bukan? memang barang cacat ketika di terima pembeli itu ada bahkan banyak. Hanya saja ini bukan sekedar cacat lebih tepatnya petaka mungkin. Tazkia menghela nafasnya panjang, baru saja ia berpikir akan menjalani hidup tenang ternyata kehidupannya tak jauh jauh dari makhluk halus dan kerumitannya.


"Coba lo chat penjualnya deh tanya tanya tentang sofa yang lo beli." ucap Tazkia kemudian memberikan sebuah ide.


"Misalnya?" tanya Sinta.


"Mungkin bisa spesifikasi tentang sofa tersebut bukan?" ucap Prasetia memberikan ide.


"Boleh juga ide lo."ucap Sinta.


Sinta kemudian lantas mengambil ponsel miliknya dan mulai mengirim pesan kepada penjual. Keempatnya nampak hening sambil menatap ke arah ponsel Sinta yang kini tengah di taruh di meja menunggu jawaban dari si penjual.


Beberapa menit menunggu terdengar suara notifikasi dari ponsel Sinta yang lantas membuat keempatnya antusias bukan main.


Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda, kami mengirim sesuai pesanan anda sofa dengan merek Phoenix berwarna soft pink dengan ukiran bunga sakura di pinggirannya. Apakah anda sudah menerimanya? jika sudah anda dapat memberikan review terhadap produk kami.


Melihat isi pesan dari penjual membuat keempatnya lantas saling pandang satu sama lain. Bukan karena apa mereka saling pandang karena menyadari satu hal, warna sofa dan ukiran yang di katakan penjual tidaklah sama dengan warna sofa dan ukiran yang datang di apartment Sinta.


"Balas Sin balas... katakan padanya tentang warna sofa yang lo terima." ucap Aditya kemudian.


Sinta yang penasaran lantas segera mengetik pesan kembali pada layar ponselnya membalas chat penjual itu. Kini keempatnya tak perlu lagi menunggu waktu lama karena penjual langsung merespon chat Sinta.

__ADS_1


Sepertinya di sini ada kesalahan, kami sama sekali tidak pernah mengirim anda sofa dengan warna abu abu polos. Agar tidak ada kesalahpahaman tunggu sebentar biar saya cek dulu kepada pihak kurir kami.


Agak shock ketika melihat balasan dari penjual membuat keempatnya lantas lagi lagi saling pandang satu sama lainnya.


"Mungkin ada kesalahan geis tentang warna sofa ya kan hahahaha." ucap Sinta kemudian sambil tertawa garing namun malah membuat suasana semakin terasa aneh seketika karena wajah datar ketiganya.


Suara notifikasi ponsel milik Sinta kembali terdengar membuat keempatnya lantas kembali fokus menatap ke arah layar ponsel.


Kami mohon maaf sebelumnya, ada kendala yang membuat sofa pesanan anda tidak bisa kami kirim ke alamat anda. Jika anda berkenan untuk menunggu kami akan segera memprosesnya, namun jika anda tidak bersedia kami bisa memberikan refund secara penuh atas pembayaran anda.


Melihat chat tersebut baik Sinta, Tazkia, Aditya dan juga Prasetia lantas saling tatap satu sama lain dengan mulut yang melongo dan berbagai pertanyaan yang terlintas di pikiran mereka.


"Jika bukan toko itu yang mengirim? lalu siapa?" tanya Aditya dengan nada yang lirih sambil melirik ke arah ketiganya secara bergantian.


"Sepertinya ada yang tahu bahwa lo membeli sebuah sofa lalu memanfaatkannya Sin." ucap Tazkia kemudian.


"Lo bener Ki... masalahnya ini sangat aneh atau mungkin lebih tepatnya sebuah kebetulan yang sengaja di buat? tidakkah kalian berpikir demikian?" ucap Prasetia kemudian yang di balas ketiganya dengan anggukan kepala.


Ketika keempatnya tengah sibuk berdiskusi, dari arah ruang televisi terdengar suara benda jatuh dengan cukup keras, membuat keempatnya lantas saling pandang satu sama lain ketika mendengar suara itu.


"Lo cek gih Dit ada apa!" perintah Tazkia kemudian dengan entengnya membuat Aditya lantas melongo ketika mendengar ucapan dari Tazkia barusan.


"Gue? ogah banget! kalau gue ketemu sosok anak kecil itu gimana coba?" jawab Aditya dengan bergidik ngeri.


"Dia hanya anak kecil Dit! tidak akan seseram kunti atau pocong bukan?" jawab Tazkia dengan entengnya yang tambah membuat bulu kuduk Aditya berdiri.


"Ogah, apapun bentuknya tetap saja intinya dia makhluk halus dan gue tidak mau itu! mending lo aja Sin..." ucap Aditya kemudian sambil menatap ke arah Sinta.


"Gue juga ogah, nanti kalau dia masuk ke tubuh gue lagi gimana?" tolak Sinta secara langsung yang lantas membuat Tazkia menghela nafasnya panjang ketika mendengar Aditya dan Sinta saling lempar.


"Sudahlah biar gue aja deh.." ucap Tazkia kemudian sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Gue temani Ki" tawar Prasetia yang juga hendak bangkit dari tempat duduknya namun di tahan oleh Tazkia.


"Tidak perlu, kalian lanjutkan saja makan kalian biar gue cek dulu ke dalam sebentar." tolak Tazkia sambil berlalu dari sana meninggalkan ketiganya.


Sedangkan ketiganya lantas melanjutkan makan mereka karena baik dari Aditya maupun Sinta tidak ada yang berani untuk mendekat ataupun mencari tahu ke sumber suara tepat setelah mereka mengetahui tentang sosok hantu anak kecil tersebut.


Sepuluh menit...


Dua puluh menit...


Tiga puluh menit...


Tazkia tak kunjung kembali juga membuat Prasetia lantas khawatir.


"Kia kok lama ya?" ucap Prasetia sambil menatap ke arah Sinta dan Aditya yang sibuk menikmati cemilan mereka.


"Kagak tahu, mungkin lagi ngajak main kali." ucap Aditya dengan entengnya membuat Prasetia lantas menatapnya dengan tatapan yang tajam.


"Bisa gak sih lo gak bercanda gitu jawabnya Dit!" ucap Prasetia dengan nada yang kesal.


"Lah gue serius kok, Kia aja punya peliharaan si Icha, lah sekarang dia ketemu hantu bocil pasti di ajak mainlah sama dia, salah gue di mana coba?" ucap Aditya sama sekali tidak merasa bersalah.


"Setidaknya kan lo hargai kali Dit, dihantui Icha baru tahu rasa lo!" timpal Sinta dengan ketus ketika mendengar jawaban Aditya yang menyebalkan.


"Ya ya ya gue salah bicara lagi maaf..." ucap Aditya kemudian ketika melihat Sinta dan Prasetia nampak tidak suka dengan ucapannya.


"Sudahlah gue mau mengecek Tazkia dulu." ucap Prasetia kemudian sambil bangkit berlalu dari sana.


"Gue ikut" ucap Sinta yang ikut bangkit.


"Lalu gue? hei kalian... kenapa jadi gue ditinggalin sih..." ucap Aditya sambil berteriak memanggil keduanya yang melangkah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2