
Di sebuah dapur tepatnya di Villa nenek Tazkia.
Terlihat Prasetia tengah asyik menyeduh kopi di tengah malam dan hanya bertemankan dengan cahaya rembulan yang masuk melalui dinding vila yang terbuat dari kaca yang berhubungan langsung dengan taman di bagian samping villa, entah apa yang membuatnya melakukan itu namun Prasetia seakan bersifat acuh dengan efek yang di timbulkan kala meminum kopi di tengah malam, ya mungkin hanya akan membuatnya begadang sampai pagi.
Prasetia melangkahkan kakinya menuju meja makan kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di sana, suasana villa kali ini sangatlah sunyi dan sepi namun Prasetia tidak terlalu memperdulikannya dan terus meminum kopinya dengan santai. Pikirannya melayang jauh memikirkan kembali kejadian sore tadi ketika dia membuat Aditya begitu marah karena keisengan yang diperbuatnya.
"Sepertinya gue harus meminta maaf lagi pada Adit, ia terlihat sangat marah tadi." ucapnya pada diri sendiri sambil meminum kopi di gelasnya.
Tok tok tok tok
Suara ketukan tiba tiba saja terdengar di telinga Prasetia kala ia asyik menikmati kopi buatannya, suara itu begitu jelas seperti sebuah tongkat yang di ketukkan ke lantai secara berulang. Prasetia menatap sekitar mencoba mencari sumber suara namun tak menemukan siapapun di sana.
"Mungkin itu hanya halusinasi." Ucapnya pada diri sendiri sambil sedikit tersenyum kemudian kembali duduk dan menikmati kopinya.
Tok tok tok tok
Lagi lagi suara ketukan itu terdengar jelas membuat Prasetia langsung bangkit dan menatap ke arah sekeliling. Prasetia kembali duduk kala memastikan lagi lagi tidak ada seorang pun di sana, namun ketika ia hampir mendudukkan bokongnya kembali, dari sudut matanya Prasetia seperti tengah menangkap siluet seseorang sedang berjalan mendekat ke arahnya, melihat hal itu tentu saja langsung membuat Prasetia mendongak ke arah depan, betapa terkejutnya dia ketika kepalanya di angkat ke atas tepat di hadapannya sudah berdiri seorang nenek nenek dengan pakaian serba hitam sambil memegang tongkat kayu di tangannya.
"Astaga!" ucap Prasetia sedikit terkejut dengan reflek mengelus dadanya.
"Kenapa kamu terkejut nak? ini hanyalah nenek." ucap nenek tersebut dengan tersenyum membuat Prasetia jadi salah tingkah dan tidak enak kepada nenek.
"Oh iya nek maaf, soalnya tadi saya tidak melihat nenek jadi sedikit terkejut ketika nenek sudah berada di sini." ucap Prasetia meminta maaf takut nenek tersebut tersinggung.
__ADS_1
"Tak perlu sungkan, ini sudah larut malam pergilah tidur sebelum sesuatu menghampirimu." ucap nenek tersebut namun kali ini dengan senyum yang tidak bisa terbaca.
"Terima kasih banyak atas nasehatnya nek, oh ya saya tadi membuat kopi lebih, apa nenek mau mencicipinya?" ucap Prasetia sambil melangkah ke arah mini bar untuk mengambil kopi yang ia maksud, namun ketika dirinya berbalik badan nenek itu sudah tidak ada dan menghilang.
Prasetia celingukan mencari nenek tersebut ke setiap sudut ruangan, bukan tanpa sebab pasalnya nenek itu membawa tongkat kayu di tangannya dan ia berjalan dengan pelan, bagaimana mungkin hanya karena pergi sebentar mengambil kopi nenek itu sudah menghilang, jika memang pergi Prasetia pasti akan mendengar langkah kakinya.
"Ah sudahlah, mungkin nenek Kia sudah kembali ke kamar." ucap Prasetia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Prasetia kemudian melangkahkan kakinya menuju kembali ke kamar karena perasaannya mulai tidak enak, apalagi setelah mengetahui nenek Tazkia yang tiba tiba hilang di dapur membuat Prasetia semakin parno namun masih berusaha untuk tetap tenang.
Ketika langkahnya sampai di sebuah lorong menuju kamarnya, dari sudut ruangan ia seperti melihat kepulan asap disekitar sana, Prasetia yang mengira itu karena asap dari sesuatu barang yang terbakar lantas dengan langkah bergegas menuju ke arah kepulan asap itu.
Namun sayangnya ketika jarak Prasetia semakin dekat dengan kepulan asap itu bukan sebuah kebakaran yang ia jumpai, Prasetia malah bertemu dengan sosok yang mirip dengannya hanya saja mata dari sosok itu berbeda seperti memancarkan cahaya merah menyala. Prasetia yang melihat hal itu tentu saja terkejut sekaligus bertanya tanya, bagaimana mungkin sebuah asap bisa berubah menjadi sosok yang sangat mirip dengannya?
Pikiran Prasetia seakan blank dengan tatapan yang masih intens menatap ke arah sosok tersebut, sedangkan sosok yang menyerupainya lantas tertawa kala melihat wajah bingung yang di tunjukkan oleh Prasetia ketika mendapati ada sosok yang mirip dengannya.
"Aku adalah dirimu, bukankah begitu?"
Ucap sosok itu dengan tawa yang menggema memenuhi lorong tersebut membuat bulu kuduk Prasetia bangkit berdiri.
"Jangan main main lo..." teriak Prasetia, namun belum sempat meneruskan ucapannya sosok yang menyerupainya lantas melesat sangat cepat kemudian mencekik Prasetia dengan kuat hingga tubuhnya naik ke atas beberapa senti dari lantai.
"Ap..pa yang lo mau.. dari gu..e?" tanya Prasetia dengan terbata karena cengkraman sosok itu begitu kuat hingga membuat sesak dan kesulitan bicara.
__ADS_1
Sosok tersebut nampak tertawa mendengar pertanyaan Prasetia, seakan sosok tersebut tengah meremehkan Prasetia.
"Pergi dari kesayangan ku! aku tidak menyukai kalian!"
Ucapnya lagi namun kemudian menghilang kala mendengar ketukan seperti sebuah tongkat yang beradu dengan lantai, bunyinya sama dengan ketukan yang Prasetia dengar di dapur tadi.
Begitu sosok tersebut menghilang tubuh Prasetia lantas jatuh ke lantai dengan kondisi terlentang sambil memegangi lehernya karena rasa sakit akibat cekikan itu masih terasa.
Uhuk uhuk
"Makhluk apa itu barusan?" ucapnya dalam hati sambil bertanya tanya.
Sedangkan tanpa Prasetia sadari di ujung lorong tak jauh darinya seorang nenek nenek berpakaian serba hitam dengan tongkat di tangannya, terlihat tengah menatap kearahnya dengan tatapan yang galak seakan sedang marah terhadap sesuatu, namun setelah sosok yang menyerupai Prasetia pergi raut wajah nenek tersebut berubah kembali ramah kemudian menghilang.
*********
Sementara itu di kamar Tazkia.
Terlihat Tazkia tengah menyisir rambutnya dengan senyum menyeringai sambil menatap ke dalam cermin rias di kamarnya.
Entah apa yang membuatnya melakukan hal tersebut tengah malam begini, namun yang jelas ketika Tazkia menatap ke arah cermin ia seperti tengah melihat sosok Faris di dalamnya, Tazkia sungguh terpukau akan ketampanan Faris yang terlihat di balik cermin rias itu, padahal di kamarnya sedang kosong dan tidak ada siapapun.
Sampai kemudian gerakannya terhenti kala mendengar ketukan tongkat yang beradu dengan lantai hingga menyadarkan dirinya dari lamunan. Tazkia cukup terkejut kala melihat dirinya berada di depan cermin rias sambil menyisir rambutnya tengah malam seperti ini, membuatnya dengan reflek langsung melempar sisir tersebut secara sembarangan.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya gue lakukan? enggak enggak ini bukan gue ini bukan gue?" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan keras, kemudian naik ke atas ranjangnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Bersambung