Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Tolong kami~ Ular tangga keramat #8


__ADS_3

Kali ini posisi ketiganya benar benar sulit baik Aditya, Tazkia dan juga Faris tidak bisa lari lagi. Ketiganya di kepung oleh sekumpulan sosok pocong dengan bentuk yang mengerikan dan juga dalam jumlah yang banyak.


"Apakah kita akan mati di sini Ki?" tanya Aditya kemudian kala melihat wajah sosok pocong tersebut dengan ngeri.


"Gak akan! percaya pada gue. Apapun yang terjadi kita tetap akan pulang bersama sama." ucap Tazkia kemudian.


Sosok pocong pocong itu terus berputar mengelilingi mereka bertiga, tubuh Aditya terasa sangat lemas seakan tidak bertulang sama sekali, kala sosok sosok itu mulai datang dan mendekat ke arah ketiganya.


Aditya benar benar tak sanggup menyaksikan wajah wajah dari sosok demi sosok pocong yang mengelilingi mereka, hinga kemudian Aditya memilih untuk menutup matanya sambil menggenggam tangan Tazkia di sebelah kiri dan tangan Faris di sebelah kanan dengan sangat erat(berasa mau nyebrang jalan kali ya?).


"5 4 3 2 End." ucap Faris kemudian mulai menghitung mundur.


Mendengar perhitungan Faris barusan Aditya yang semula menutup mata, perlahan lantas mulai membuka matanya mencoba memastikan apakah perhitungan Faris barusan benar adanya.


"Sudah berakhir?" tanya Aditya kemudian yang di balas anggukan oleh keduanya.


Dari arah rak buku Prasetia dan juga Sinta melangkah mendekat ke arah ketiganya dengan langkah setengah berlari sambil membawa payung.


"Kalian dari mana saja? pakai bawa payung segala." tanya Aditya sambil menatap ke arah payung yang di bawa Prasetia.


"Habis berteduh dari hujan air liur." ucap Prasetia sinis.


"Biasa aja kali." ucap Aditya kemudian.


***


Mereka berlima lantas kembali berkumpul di tengah tengah dengan formasi seperti semula. Kali ini giliran Tazkia untuk melempar dadu. Ada sedikit perasaan cemas pada dirinya akan angka berapa yang akan keluar dalam dadu tersebut, jujur saja di saat saat seperti ini Tazkia benar benar menunggu kembali penglihatannya, namun sayangnya hal itu tak kunjung terjadi. Membuat Tazkia pada akhirnya mau tidak mau mengikuti semua prosesnya dari awal.


Tazkia mulai melempar dadunya, perlahan lahan dadu mulai menggelinding dan berhenti tepat di angka nomer 6. Sama seperti apa yang di alami oleh Aditya sebelumnya, setelah pion milik Tazkia berhenti di kotak nomer 6. Tazkia kembali melempar dadu karena mendapatkan angka kembar.

__ADS_1


Ketika Tazkia melempar untuk keduanya kalinya entah itu sebuah keberuntungan atau apa, lagi lagi dadu berhenti di angka kembar membuat Tazkia harus kembali mengocok dadu tersebut.


Kamu sudah mendapatkan angka kembar 2 kali, hati hati jangan sampai kembali mendapatkan angka kembar.


Semua yang melihat tulisan tersebut lantas langsung saling pandang satu sama lain. Dalam hati mereka masing masing ingin sekali rasanya selamat dan pulang dengan tenang, namun lagi lagi mereka harus di patahkan oleh ekspetasi yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa memilih dalam hal ini.


"Pelan pelan saja kocoknya Ki." ucap Aditya dengan raut wajah yang khawatir.


Mendengar ucapan Aditya, Tazkia hanya bisa mengangguk sampai kemudian ketika ia ingin mulai melempar dadunya, sebuah suara yang samar menghentikan gerakannya.


"Dapatkan angka kembar kak"


Ucap sebuah suara yang Tazkia sama sekali tidak tahu dari mana asalnya. Tazkia menatap sekeliling mencari tahu sumber suara tersebut namun Tazkia tidak menemukan siapapun di sana kecuali teman temannya.


"Jika kamu bersedia membantu ku keluar aku akan menuruti ucapan mu. Jika tidak bisa sebaiknya kamu jangan menggangguku!" ucap Tazkia dalam hati mencoba berinteraksi dengan makhluk pemilik suara tersebut.


"Ayo lempar dadunya Ki, tunggu apalagi?" tanya Sinta kemudian karena merasa semakin lama Tazkia melemparnya, semakin berdebar jantungnya terasa.


Dadu yang di lempar oleh Tazkia terus berputar dan menggelinding tanpa henti, hingga membuat semua orang yang ada di sana kebingungan. Tazkia tahu ada yang tidak beres dengan dadu itu, tepat di atas mereka berlima duduk, Tazkia seperti melihat angin kecil terus berhembus dan berputar seakan tak mengizinkan dadu itu berhenti jika bukan angka yang ia kehendaki.


Tazkia menatap sekilas ke arah Faris, sepertinya Faris juga menyadari hal yang sama sepertinya.


"Apa lo pakai kekuatan super Ki? hingga membuat tuh dadu terus menggelinding." ucap Aditya kemudian.


Ssstttt


Tazkia mengisyaratkan Aditya untuk diam tak berkomentar apapun, sampai kemudian dadu yang tadinya menggelinding berhenti tepat di angka kembar. Melihat hal itu wajah Prasetia, Aditya dan juga Sinta berubah tegang hanya saja berbeda dengan Tazkia dan juga Faris yang biasa saja.


Kamu mendapatkan angka kembar sebanyak tiga kali, permainan akan di hentikan selama satu jam. Tidak ada yang boleh pergi sebelum permainannya bisa kembali dilanjutkan.

__ADS_1


"Eh gue kira akan ada sesuatu yang muncul." ucap Aditya bingung sambil menatap ke arah yang lainnya.


Tanpa memperdulikan ucapan Aditya yang mengomel, Tazkia nampak bangkit dan pergi ke rak buku di sudut sebelah utara, membuat mereka berempat lantas bingung dan bertanya tanya apa yang akan di lakukan Tazkia.


"Mau kemana dia?" tanya Sinta yang di balas gelengan kepala oleh yang lainnya.


"Aku akan menyusulnya." ucap Faris kemudian.


"Gue juga..." ucap Aditya hendak ikut namun di cegah oleh Prasetia.


"Sudahlah Dit, biarkan Faris saja yang menyusul Tazkia." ucap Prasetia.


***


Di sudut rak buku.


Tazkia menatap celingukan mencari sosok yang sedari tadi membuat Tazkia penasaran, akan apa dan tujuan dari sosok tersebut.


"Dimana kamu? keluarlah..." ucap Tazkia kemudian, sedangkan Faris yang sedari tadi menyusul Tazkia lantas menghentikan langkahnya kala mengetahui Tazkia sedang berinteraksi dengan "mereka" di sudut rak buku.


Setelah Tazkia mengatakan hal itu, perlahan lahan mulai muncul sebuah sosok anak kecil di hadapan Tazkia.


"Apakah kamu benar bisa membantu ku?" tanya Tazkia yang di balas anggukan oleh hantu anak kecil itu. "Bagaimana caranya mengakhiri permainan ini?" tanya Tazkia kemudian.


Sosok hantu anak kecil itu lantas tersenyum kemudian mengangkat tangannya seakan meminta Tazkia untuk menjabat tangan sosok hantu anak kecil itu. Tak ada rasa curiga apapun yang timbul dari diri Tazkia, yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana caranya membawa teman temannya keluar dari permainan ini secepatnya. Tazkia tak ingin terjebak dalam permainan gila yang menyesatkan seperti ini.


Keduanya lantas mulai bersalaman, tepat setelah tangan dingin hantu anak kecil itu menembus telapak tangan Tazkia, sebuah bayangan penglihatan mulai berputar di kepala Tazkia seakan memperlihatkan asal muasal semuanya terjadi.


"Apakah tindakan ku benar membiarkan Tazkia berinteraksi?" batin Faris dalam hati kala melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2