
Di dalam mobil yang di kendarai Faris.
Faris baru saja selesai menerima panggilan telpon dari Tazkia, kebetulan sekali ia memang hendak menghubungi Tazkia hanya saja setelah mencoba menelpon berkali kali namun selalu gagal dan hanya berakhir dengan suara operator, sehingga mau tidak mau pada akhirnya Faris hanya bisa bersabar menunggu sampai ia tiba di villa nanti, mungkin memang karena nasib mujur atau ikatan mereka yang terlalu kuat sehingga tiba tiba Tazkia menelponnya lebih dulu, seulas senyum nampak terukir indah di wajah tampannya. Sikap khawatir yang di tunjukkan Tazkia barusan benar benar membuatnya gemas dan berbunga.
"Gadis itu terkadang sangat menggemaskan." ucap Faris dengan senyum yang tak henti hentinya mengembang sepanjang perjalanan menuju villa.
**************
Villa nenek
Sementara itu Tazkia yang mendengar cerita yang dialami Aditya dan juga Prasetia lantas langsung terdiam seribu bahasa, ia bingung harus mengatakan bagaimana tentang segalanya karena Tazkia merasa kesayangan yang di maksud oleh makhluk itu adalah dirinya. Bukan tanpa sebab Tazkia menebak hal tersebut, hanya saja jika menarik kesimpulan dari apa yang di lakukan makhluk itu pada dirinya beberapa waktu lalu mungkin apa yang di alami oleh Aditya dan juga Prasetia di karenakan dirinya.
"Setidaknya gue harus jujur pada mereka." ucap Tazkia dalam hati. "Sebenarnya ada sesuatu yang kalian harus tahu geis..." imbuh Tazkia dengan ragu ragu yang lantas membuat ketiga sahabatnya menatap ke arahnya dengan raut wajah penasaran.
"Tentang apa ini Ki?" tanya Sinta dengan penasaran begitu juga yang lainnya.
Tazkia menarik nafasnya perlahan secara berulang kali, baru kemudian setelah cukup tenang Tazkia memulai ceritanya tentang awal mula dirinya hampir jatuh ke sumur tua, hingga kejadian demi kejadian yang di alami olehnya termasuk sosok yang menyerupai Faris dan tanda merah seperti bekas kecupan di lehernya tak luput dalam cerita Tazkia, hanya saja tentang bayangan neneknya yang tidak ada Tazkia tidak menceritakan hal itu dan melewatinya begitu saja, karena baginya ia harus memastikannya terlebih dahulu sebelum membaginya kepada ketiga sahabatnya.
"Apa lo yakin Ki? siapa tahu aja itu ulah Faris ya kan? namanya juga orang kasmaran bisa aja khilaf kan?." ucap Prasetia dengan nada sedikit tidak suka namun sepertinya lebih ke arah cemburu sih dan itu terlihat terlalu jelas.
"Yang benar saja Pras, memangnya lo pikir gue cewek apaan?" ucap Tazkia dengan nada yang kesal.
"Sudah sudah simpan dulu rasa cemburu mu itu Pras, ada yang lebih penting sekarang ketimbang harus membahas masalah itu." ucap Aditya mencoba menengahi karena rasa cemburu Prasetia kali ini tidak pada tempatnya.
__ADS_1
"Tapi gue gak cemburu, gue cuma...." ucap Prasetia tak mau kalah karena ia merasa seperti tengah tertangkap basah dan alhasil mencoba mencari alasan namun keburu di potong oleh Sinta.
"Prasetia!" panggil Sinta dengan nada yang sedikit naik membuat Prasetia mau tidak mau akhirnya diam dan mendengarkan.
Setelah sedikit percekcokan yang mereka alami, akhirnya setelah beberapa menit semua mulai kembali ke topik semula.
"Lalu jika memang benar kesayangannya adalah lo? terus apa hubungannya dengan kita yang di suruh menjauh?" tanya Aditya masih tidak mengerti.
Semua orang nampak terdiam karena dari ketiganya sama sekali tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Aditya barusan, hingga kemudian tanpa mereka sadari Rita melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka untuk menaruh jus jambu di meja makan, namun ketika sampai sana Rita malah melihat keempatnya tengah sibuk berdiskusi dalam waktu cukup lama hingga makanannya menjadi dingin, alhasil ia kemudian dengan iseng memukulkan sendok perlahan ke bagian luar gelas layaknya pedagang bakso.
Ting ting ting ting
"Bukankah sekarang saatnya makan? apakah kalian tidak melihat makanan kalian sudah dingin dan mengembang?" ucap Rita kemudian ketika semua orang di meja makan menatap ke arahnya dengan kesal karena memotong percakapan mereka.
"Biasa aja kali, semakin mengembang semakin enak tahu!" ucap Aditya dengan nada lirih sambil kemudian memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.
"Sebaiknya kita makan dulu nanti kita lanjut lagi setelah makan." ucap Tazkia yang di balas anggukan oleh ketiganya.
***********
Di mansion orang tua Tazkia.
Terlihat Arini tengah mengepak baju baju miliknya dan juga milik Irawan, setelah kedatangan Faris kemarin keduanya memutuskan untuk kembali ke Singapura besok pagi. Arini sangat senang kini Tazkia memiliki Faris yang akan selalu menjaganya, meski terkadang perasaan bersalah selalu saja datang dan menghantui dirinya, namun Faris yakin seiring berjalannya waktu Tazkia akan mengerti segalanya.
__ADS_1
"Apa mama sudah memberi tahu Tazkia jika kita akan kembali esok?" tanya Irawan kala melihat istrinya berkemas.
"Sudah pa, lagipula mulai besok anaknya mbok Ratmi juga akan datang untuk bekerja di sini, jadi Kia gak akan sendirian." ucap Arini dengan senyum mengembang.
Irawan yang melihat raut wajah bahagia istrinya lantas sedikit bingung namun juga penasaran, pasalnya di waktu waktu sebelumnya ia pasti akan sangat sedih dan memasang wajah muram kala hendak berpisah dengan Tazkia, tapi kali ini entah apa yang tengah terjadi hingga membuatnya begitu sangat bahagia meski harus berpisah dengan putrinya.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu hem? kenapa rasanya aku baru melihatnya kali ini? biasanya kamu pasti akan nangis bombai kalau di suruh balik." ucap Irawan sambil memeluk istrinya dari belakang membuat Arini lagi lagi tersenyum namun kali ini karena pelukan dari Irawan.
"Papa... malu ih jangan gini." ucap Arini sambil mencoba melepaskan pelukan Irawan yang mendekapnya dengan erat.
"Oh ya? hanya ada kita berdua, apa yang sedang kau risaukan?" goda Irawan kali ini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arini. "Kamu belum menjawab pertanyaan ku, apa yang membuatmu sangat bahagia?" tanya Irawan lagi karena Arini tak kunjung menjawabnya.
"Papa tau? sebentar lagi kita akan mendapatkan mantu." ucapnya dengan girang.
Mendengar hal itu Irawan dengan spontan lantas melepaskan pelukannya, kemudian memutar tubuh Arini agar menghadap ke arahnya.
"Siapa laki laki yang berani hendak mengambil putri kesayanganku?" ucap Irawan dengan nada yang garang membuat Arini langsung ikut berakting garang sambil berkacak pinggang.
"FARIS! memangnya ada apa dengannya?" ucap Arini dengan nada sengaja meninggi dan terkesan di buat buat.
"Faris ya.... bolehlah boleh setidaknya ia tidak terlalu jelek." ucap Irawan kemudian dengan gaya sok berpikir padahal ia sudah tau jawabannya.
"Jadi papa setuju?" tanya Arini lagi memastikan hal barusan yang langsung di balas anggukan oleh Irawan.
__ADS_1
Melihat Irawan sudah menyetujuinya Arini dengan spontan langsung memeluk Irawan saking terlalu bahagianya.
Bersambung