
Setelah berhasil meminta waktu sebentar dengan Darma, Baik Sinta dan juga Tazkia lantas duduk di bawah untuk mendengar kisah Darma.
"Saya benar benar tidak sengaja membunuhnya, sakit hati karena kepergian istri saya waktu itu membuat saya gelap mata dan tanpa sadar menyiksa Adik hingga tewas." ucapnya dengan nada yang sendu.
"Jika bapak sadar akan hal itu, mengapa bapak malah berakhir di sini bukan di penjara? bukankah harusnya anda bertanggung jawab atas perbuatan anda?" ucap Tazkia yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sinta yang lantas membuat Tazkia tak lagi meneruskan ucapannya.
Darma nampak terkekeh mendengar ucapan Tazkia barusan. "Kau benar, hanya saja ada seseorang yang tiba tiba datang padaku dan menawarkan bantuan. Dia berkata jika aku mau ikut dengannya Adik bisa selamat." ucapnya masih sambil terkekeh.
"Siapa orang itu pak?" tanya Sinta dengan penasaran.
"Apakah anda berhasil menyelamatkan Adik dengan mengikutinya?" tanya Tazkia yang juga di buat penasaran.
"Laki laki bertudung hitam, awalnya semua berjalan normal namun seiring dengan berjalannya waktu, siklus kematian Adik tetap terulang walau dengan cara yang berbeda, hingga membuat diriku hampir gila karena terus memikirkannya." ucap Darma yang lantas membuat Sinta dan juga Tazkia saling pandang satu sama lainnya.
"Predestination Paradox!" ucap Sinta dan juga Tazkia hampir bersamaan namun dengan nada yang lirih.
"Mungkin..." ucap Tazkia hendak memberitahu Darma namun terhenti karena ia merasakan sesuatu.
Suasana mendadak menjadi hening sedangkan pandangan Darma terlihat membeku, membuat Tazkia yang terkejut lantas langsung menatap ke arah Sinta hendak memberitahu Sinta tentang kejanggalan yang baru saja ia lihat. Hanya saja setelah Tazkia menoleh ke arah Sinta, keadaan Sinta sama dengan keadaan Darma saat ini.
Tazkia yang menyadari sesuatu yang aneh mulai terjadi, lantas bangkit dan bergerak mundur perlahan sambil menatap ke arah keduanya secara bergantian.
"Kenapa kau sangat terkejut? bukankah kau juga penjelajah waktu?" ucap sebuah suara berat yang lantas membuat Tazkia terkejut begitu mendengarnya.
Mendengar suara tersebut Tazkia lantas berbalik badan. Tak jauh dari tempatnya berdiri Tazkia melihat seorang laki laki bertudung hitam dengan menggunakan kain yang menutupi area hidung ke bawah sehingga hanya menyisakan bagian matanya saja yang terlihat.
"Kau?" ucap Tazkia kemudian.
"Ya... ini aku!" ucap laki laki itu.
Sekedar informasi buat readers yang mungkin lupa dengan pria bertudung hitam ini, biar author ingatkan. Pria bertudung hitam pertama kali terlihat waktu episode Lukisan berdarah tepat ketika Tazkia berada di rumah sakit. Kemudian kembali muncul pada episode Desa tanjung tari ketika Tazkia dan yang lainnya dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Jika kalian tanya apakah pria ini sama dengan pria bertudung di episode Villa Edelweis jawabannya adalah tidak. Karena pria di episode Edelweis berbeda dengan pria bertudung di episode yang author sebutkan. Hanya saja keduanya memiliki kesamaan yaitu sama sama memakai jaket seperti jamper dengan tudung hitam di kepalanya.
Setelah mengatakan hal tersebut, pria bertudung itu lantas langsung melesat dengan cepat ke arah Tazkia kemudian mencengkram lehernya dengan erat sambil mendorongnya ke bawah.
Bum
Dengan secepat kilat keduanya berpindah lokasi ke sebuah area gudang yang gelap dan juga tanpa penerangan cahaya. Hanya cahaya cahaya rembulan yang menembus ke celah celah ruangan tersebut dan berfungsi sebagai penerangan dalam ruangan itu.
"Apa yang ku inginkan dari ku!" teriak Tazkia sambil berusaha melepas cengkraman tangan pria itu.
"Aku menginginkan mu!" ucapnya sambil tertawa.
"Kau benar benar gila" teriak Tazkia sambil menendang titik pusat pusaka milik umat laki laki.
Aaaaa
Teriak pria itu karena tendangan Tazkia tepat mengenai miliknya yang berharga. Sedangkan Tazkia yang melihat ada celah lantas segera bangkit dan mencoba melarikan diri dari sana sebelum pria itu bangkit dan kembali mengejarnya.
"Kau pikir bisa lari dari ku ha?" ucap pria bertudung tadi dengan nada suara yang meremehkan Tazkia.
Tazkia yang di tarik cukup keras lantas terkejut, namun bukan karena tarikannya yang terlalu kencang atau gerakan pria itu yang sangat cepat. Melainkan tepat ketika tangan pria itu menyentuh lengannya sebuah penglihatan mendadak terlintas di benaknya, membuat Tazkia terkejut bukan main karena mendapati sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
"Faris!"
****
Sementara itu Aditya yang tengah tertidur pulas terpaksa harus bangun karena merasakan ranjangnya bergoyang dengan tiba tiba. Aditya yang semula mengira itu adalah gempa, lantas di buat terkejut ketika bangun yang terlihat pertama kali adalah sosok wanita dengan rambut panjang yang tersenyum menatap ke arahnya.
"Astaga! gue hanya mimpi... gue hanya mimpi..." ucap Aditya terus mengulang ucapannya sambil memejamkan matanya dengan paksa karena ketakutan.
Ayo bangun! kenapa kau malah tidur lagi!
__ADS_1
Ucap sebuah suara yang lantas membuat Aditya membuka matanya seketika karena seperti pernah mendengar suara itu.
"Ap... apa lo Icha?" tanya Aditya kemudian namun tidak berani menatap ke arah depan karena takut yang tengah duduk di sana bukanlah peliharaannya Tazkia. (Peliharaan? sadis amat Dit🤔)
Tentu saja Icha, memang siapa lagi?
Mendengar hal itu secara perlahan Aditya mulai bangkit dan mencoba menatap ke arah depan kemudian menutup kembali matanya dengan spontan. Reflek karena terkejut mendadak ia bisa melihat Icha.
Penjelasannya panjang, ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan sekarang.
"Secara tiba tiba? mengapa harus gue? bukankah lo peliharaannya Kia?" ucap Aditya dengan bingung.
Kia sedang dalam bahaya, terima ini dan cepat bantu dia!
Ucap Icha lagi sambil memberikan sebuah bambu kuning dengan ukuran 20 cm dengan bagian ujungnya yang sudah di asah dan sangat lancip.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Aditya kemudian sambil menatap ke arah bambu itu dengan tatapan yang bingung dan tidak mengerti.
Yang harus kamu lakukan sekarang adalah bangun dan selamatkan Kia... sekarang.....
Ucap Icha dengan nada yang berteriak membuat Aditya lantas terkejut dan langsung dengan spontan terbangun dari tidurnya.
Hhhhhhhhhhh
Aditya terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah engah seperti telah berlari maraton dengan jarak yang cukup jauh.
"Ternyata hanya mimpi..." ucap Aditya sambil menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan Icha namun tidak ia temukan di manapun.
Aditya yang merasa kegerahan karena mandi keringat akibat mimpi barusan, lantas mengangkat tangannya hendak mengelap keringat di dahinya. Hanya saja ia di buat terkejut bukan main karena tiba tiba Aditya mendapati sebuah barang di tangannya yang sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya.
"Bukankah ini benda yang di berikan oleh Icha? bukankah tadi hanya sebuah mimpi? pertanda apa ini sebenarnya?" ucap Aditya bertanya tanya sambil terus menatap ke arah benda tersebut.
__ADS_1
Bersambung