Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Apakah ini wajar menurutmu?~ Lukisan berdarah #13


__ADS_3

Tazkia kemudian lantas membuang muka karena malas berdebat dengan Aditya, Tazkia mencoba berpikir dan mencari cara agar bisa membawa Waluyo, karena sedari tadi Waluyo dan sosok gadis tersebut masih dengan asyik bercumbu tanpa menggubris kehadiran Aditya dan Tazkia seakan akan mereka tidak mengetahui kehadiran Tazkia dan Aditya.


Cukup lama Tazkia berpikir sampai kemudian ia menemukan sebuah ide.


" Aku tahu!" ucap Tazkia yang langsung membuat Aditya menatap ke arahnya.


" Tahu apaan?" ucap Aditya dengan bingung sambil menatap ke arah Tazkia.


" Sudah ikuti saja aku." ucap Tazkia yang malah semakin membuat Aditya kebingungan.


Tazkia kemudian mencoba memusatkan kembali pikirannya dan mulai memejamkan mata untuk melakukan telepati kepada Waluyo.


" Semoga saja berhasil." ucap Tazkia dalam hati sebelum memulai telepati nya.


" Pak! pak Waluyo, saya sudah berhasil menemukan Aditya kita harus segera pergi dari sini pak, yang anda lakukan saat ini adalah salah, dia bukan Maya pak." ucap Tazkia dalam telepati nya.


" Lagi ngapain sih lo ki? tidur atau apa?" ucap Aditya bingung kala melihat Tazkia diam mematung sambil memejamkan matanya.


Hening beberapa saat tak ada jawaban apapun dari Waluyo yang lantas membuat Tazkia hampir mengira bahwa telepati yang ia lakukan gagal, namun detik berikutnya Tazkia lantas seperti mendengar suara Waluyo namun secara samar samar.


" Pergilah ki mungkin ini sudah jalan bapak, tinggalkan bapak disini." ucap Waluyo yang tentu saja hanya bisa di dengar oleh Tazkia saja.


" Tidak bisa begitu pak, kita datang bersama itu berarti kita pulang juga bersama." ucap Tazkia lagi masih dalam telepati nya.


" Tidak perlu kau khawatirkan tentang itu, bapak bahagia ada di sini, jangan lupa berikan jasad bapak pada keluarga bapak dan bilang saja bapak meninggal karena serangan jantung, jangan pernah membuka tentang semua hal yang sudah kita lakukan di sini, apa kamu mengerti?" ucap Waluyo lagi.


" Mana bisa saya melakukan itu pak, keluarga anda pasti akan merasa sedih kehilangan anda, ayo kita pulang pak." ucap Tazkia lagi berusaha membujuk Waluyo.


" Pergilah, jangan lupakan pesan bapak." ucap Waluyo masih dalam telepati nya.


Tazkia yang tidak terima dengan pilihan Waluyo lantas menyudahi telepati yang ia lakukan.


" Kita harus pulang pak!" ucap Tazkia setengah berteriak yang lantas mengejutkan Aditya dan juga Waluyo yang masih tengah asyik bercumbu.

__ADS_1


" Ki! bisa gak lo gak teriak teriak begitu." ucap Aditya kesal karena Tazkia tiba tiba berteriak.


Makhluk tersebut lantas menatap ke arah Tazkia dengan tatapan yang tidak suka kepadanya, sedangkan Waluyo yang berada di bawah kungkungan makhluk itu lantas menggelengkan kepalanya seakan akan mengatakan bahwa jangan memancing makhluk ini namun tanpa suara.


Tazkia mencoba meredam rasa takutnya karena bagaimanapun ia harus membawa Waluyo bersamanya.


" Pergilah!" teriak Waluyo.


" Tidak pak!" ucap Tazkia tidak kalah lantang.


Aditya hanya menatap keduanya dengan bingung karena jujur saja dia tidak tahu apapun yang sedang terjadi saat ini.


" Ayo kita pergi saja ki, toh ini hanya mimpi." ucap Aditya yang lantas mendapat tatapan tajam dari Tazkia karena ucapan Aditya sama sekali tidak membantu.


" Aaaaaaaaaaaaaaa"


Tiba tiba saja suara teriakan terdengar memekakkan telinga, tepat setelah teriakan tersebut terdengar, Tazkia mendadak terlempar ke belakang cukup jauh hingga membentur dinding lorong yang langsung membuat Aditya panik bukan kepalang.


Bruk


" Uhuk uhuk."


Tazkia berusaha bangkit dan mengelap darah yang menetes di sekitar dagunya, Aditya membantu Tazkia untuk bangun namun langsung Tazkia tepis dan hendak melangkahkan kakinya kembali memasuki ruangan tersebut.


" Pergi!" teriak Waluyo lagi.


" Ti-dak akan pak!" ucap Tazkia terbata sedangkan Aditya hanya menatap Tazkia dengan bengong.


" Sebenarnya apa yang tengah di lakukan Tazkia? bukankah ini hanya mimpi gue?" ucap Aditya dalam hati kebingungan.


Tazkia melangkah dengan tertatih hendak memasuki ruangan tersebut namun lagi lagi Tazkia langsung terpental dan kembali menabrak pintu kamar sebelah dengan cukup keras.


Detik berikutnya setelah Tazkia terpelanting, pintu ruangan kamar yang terdapat Waluyo di dalamnya langsung tertutup dengan keras membuat Tazkia seakan akan tidak mempunyai harapan lagi untuk membawa Waluyo bersamanya.

__ADS_1


***********


Apartment golden place.


Hari berganti petang namun ketiganya belum juga terbangun dari tidur panjang mereka. Prasetia dan juga Sinta mulai terlihat gusar dan cemas menanti kedatangan teman temannya.


Saat rasa lelah dan juga kantuk menghampiri mereka berdua, tiba tiba saja Prasetia dan juga Sinta di kejutkan dengan Tazkia yang secara mendadak terbatuk-batuk dengan memuntahkan darah segar hingga membasahi baju bagian atasnya.


" Kia!" teriak Prasetia yang lantas mengejutkan Sinta yang hampir saja tertidur di sebelah Tazkia.


Keduanya lantas panik mengetahui Tazkia muntah darah cukup banyak namun masih dengan mata yang terpejam.


" Sin ambilkan tisu cepat." ucap Prasetia sambil bangkit mendekat ke arah Tazkia dan memiringkan badan Tazkia ke samping agar muntahannya tidak tertelan kembali.


Sinta lantas dengan cekatan mengambil tisu kemudian membersihkan darah yang membasahi area wajah Tazkia.


Setelah di rasa Tazkia tidak lagi muntah Prasetia kemudian kembali menidurkannya secara terlentang dan membersihkan sisanya.


" Pras lo yakin ini masih wajar? ini udah gak wajar Pras?" ucap Sinta dengan nada gemetar menahan tangisnya karena jujur saja perasaan takut di hatinya terus menyebar hingga memenuhi otaknya.


" Aku tahu ini salah, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu mereka kembali sin." ucap Prasetia yang juga kebingungan harus melakukan apa di saat saat seperti ini.


" Kita harus memanggil bantuan sekarang Pras!" ucap Sinta lagi.


" Bantuan? bantuan yang seperti apa yang lo maksud? ok kita panggil bantuan tapi apa pernah lo pikir, bagaimana kita menjelaskan segalanya yang terjadi di sini sekarang ha? tenanglah Sin! lo pikir gue gak panik apa? gue juga sama, gak hanya lo." ucap Prasetia dengan nada kesal karena Sinta tidak pernah memikirkan segala sesuatunya terlebih dahulu.


" Aku, aku sungguh tidak memikirkan itu hiks hiks." ucap Sinta di selingi dengan tangis yang sudah membasahi pipinya sedari tadi.


Prasetia kemudian menarik Sinta dan memeluknya sambil menepuk perlahan punggung Sinta untuk menenangkannya.


" Sudahlah aku juga sama dengan mu, kita tunggu dulu sampai nanti malam oke? setelah itu baru kita minta batuan, bagaimana lo setuju?" ucap Prasetia sambil melepas pelukannya dan menatap ke arah Sinta.


Mendengar ucapan Prasetia barusan lantas membuat Sinta sedikit tenang, tidak ada sangkalan dari Sinta, ia hanya mengangguk menuruti ucapan Prasetia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2