Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
End ~Ular tangga keramat #11


__ADS_3

Sementara Faris sedang sibuk dengan makhluk itu, Tazkia kini tengah berpikir keras bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam gudang tanpa ketahuan oleh makhluk itu.


"Bagaimana caranya aku bisa masuk tanpa ketahuan makhluk itu?" tanya Kinara dalam hati.


Menghilang


Suara itu tiba tiba terdengar kala Tazkia tengah berpikir dengan keras mencari solusi dari masalahnya.


"Kalau itu aku juga tahu! tapi masalahnya aku kan tidak bisa menghi... bisa! aku bisa melakukannya." ucap Tazkia kemudian kala baru teringat sesuatu tentang kemampuan yang dimilikinya. Jika mereka memang terjebak dalam dunia lain, bukankah itu artinya Tazkia lebih mudah menggunakan kemampuannya.


"Oke Kia... tarik nafas... buang... semoga saja berhasil.." ucap Tazkia pada diri sendiri, Tazkia lantas mulai mengatur nafasnya berulang kali mencoba sebisa mungkin untuk fokus dan hanya berpikir tentang gudang dan gudang secara berulang kali.


Cling


Secara ajaib tubuh Tazkia benar benar berpindah ke dalam gudang, membuat Tazkia yang semula tak percaya mendadak langsung bahagia kala berhasil masuk ke dalam gudang.


"Aku berhasil!" teriak Tazkia dengan gembira.


Tanpa membuang waktu lagi Tazkia kemudian lantas menyusuri seisi gudang mencari papan kayu tersebut, hingga kemudian pandangannya terhenti pada sebuah lemari di mana atasnya nampak papan kayu tersebut. Tazkia yang melihat itu, lantas langsung bergegas menghampiri papan kayu tersebut dan berusaha menggapainya.


Butuh sedikit usaha lebih keras bagi Tazkia untuk menjangkaunya mengingat posisi lemari yang terletak cukup tinggi, hingga mengharuskan Tazkia untuk melompat. Pada percobaan pertama dan kedua lompatan mengalami kegagalan, sampai pada lompatan ketiga dengan ancang ancang yang lebih prepare pada akhirnya Tazkia berhasil mendapatkan papan itu.


Setelah papan berhasil ia dapatkan, Tazkia mencoba untuk kembali fokus dan membayangkan keberadaan Aditya sambil merapalkannya berulang kali hingga kemudian...


Dalam hitungan detik Tazkia sudah berpindah. Hanya saja ia tidak tahu kalau yang di hadapi oleh Aditya kali ini adalah pocong, jadilah tepat ketika Tazkia membuka matanya yang nampak di depan matanya adalah muka si pocong tersebut yang membuat Tazkia terkejut.


Karena terkejut dengan gerakan reflek Tazkia lantas memukul kepala pocong tersebut dengan papan kayu yang ia pegang. "Aaaaaaaaa dasar pocong lo..." teriak Tazkia dengan kencang yang lantas membuat Aditya dan juga Prasetia di buat melongo oleh aksi Tazkia barusan.


"Lo sejak kapan ada di situ Ki?" tanya Aditya yang bingung karena melihat Tazkia yang tiba tiba saja muncul.

__ADS_1


"Itu gak penting! yang penting lo cepat bakar tuh papan biar gue yang tangani pocong pocong itu." ucap Tazkia kemudian sambil melempar papan kayu tersebut ke arah Aditya.


Aditya yang menerima lemparan papan kayu tersebut tanpa basa basi mulai mencari korek dan berniat hendak membakar papan tersebut namun koreknya tidak kunjung ketemu.


"Pras koreknya kagak ada..." ucap Aditya dengan raut wajah yang bingung.


"Dit kenapa harus di saat seperti ini sih?" ucap Prasetia dengan kesal karena Aditya tidak menyiapkan segalanya terlebih dahulu.


Semakin lama semakin lama pocong pocong tersebut mulai berdatangan dan seakan hendak mengeroyok ketiganya.


"Ayo lakukan Dit, apa lagi yang lo tunggu!" teriak Tazkia sambil menendangi pocong pocong tersebut agar tidak mendekat ke arah Aditya.


"Koreknya kagak ada..." teriak Aditya dengan putus asa, rasanya kali ini Aditya benar benar ingin menangis hanya karena korek yang tidak tahu di mana rimbanya.


Prasetia kemudian lantas merogoh saku celananya lalu melempar korek tersebut ke arah Aditya, "Pakai itu Dit!" ucap Prasetia.


Aditya yang melihat hal tersebut kemudian lantas dengan sigap menerima korek api tersebut. Butuh beberapa waktu untuk membuat api agar dapat bertahan dan membakar papan kayu tersebut, mengingat ukuran papan kayu tersebut yang lumayan besar dan tebal sehingga agak sedikit susah membakarnya.


"Iya sebentar masih gue usahain." ucap Aditya dengan berusaha membakar papan kayu tersebut.


Aditya yang melihat api tidak ingin menyala juga, lantas mulai mengambil satu buku dan menyobeknya secara sembarangan dan melemparnya ke arah papan tersebut untuk membuat kobaran api. Benar saja ide Aditya kali ini benar benar cemerlang, api mulai tampak membesar dan membakar papan tersebut. Sosok sosok pocong yang tadinya terlihat jelas dan semakin banyak kini lantas berubah menjadi sosok bayangan yang terbang ke kanan dan ke kiri secara tidak beraturan hingga kemudian menghilang tak berbekas.


Hap


Mendadak mereka berlima lantas seperti tertarik kemudian kembali kepada posisi duduk melingkari sesuatu namun di tengah tengah mereka kosong dan tak ada apapun. Baik Prasetia, Sinta, Aditya, Tazkia dan juga Faris nampak saling pandang dan hanya terbengong menatap sekeliling sampai kemudian suara seseorang mengejutkan mereka berlima.


"Permisi, dari go food mau ngantar pesanan..." teriak sebuah suara yang berasal dari arah pintu depan.


Mendengar suara barusan lantas semakin membuat kelimanya saling tatap dan bertanya tanya, apakah ini benar benar sungguhan?

__ADS_1


"Permisi dari go food..." teriaknya lagi karena tidak ada seorang pun yang menjawab.


Mendengar suara itu lagi, lantas langsung membuat kelimanya bangkit dan berlarian ke arah abang abang go food dengan beramai ramai membuat abang abang go food itu melihat aneh ke arah mereka.


"Makanan bang?" tanya Aditya.


"Hari ini hari apa?" tanya Prasetia.


"Pukul berapa bang?" tanya Sinta.


"Saya pesan makanannya kapan?" tanya Faris.


"Abang nyampek ke sini berapa menit?" tanya Tazkia.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat abang go food menjadi semakin bingunglah.


"Ini makanan, hari ini weekend, pukul 12, pukul 11, 15 menitan." jawab abang tersebut sambil menatap bingung ke arah kelimanya.


Mendengar hal tersebut mereka berlima lantas langsung saling berpelukan seakan merayakan keberhasilan mereka keluar dari permainan gila itu. Mungkin saat ini lebih tepatnya mereka sih yang di anggap gila oleh abang ojol pengantar makanan itu.


"Kita pulang geis... kita berhasil!" teriak kelimanya secara bersamaan sambil loncat loncat.


"Em permisi... ini makanannya gimana ya?" tanya abang go food tersebut.


Faris yang mendengar hal itu lantas langsung sadar dan melepas pelukannya. "Iya maaf ya bang ini uangnya makasih." ucap Faris kemudian.


"Kembaliannya?"


"Gak usah ambil saja." ucap Faris kemudian sambil tersenyum ramah ke arah abang go food tadi.

__ADS_1


Sementara itu tanpa mereka sadari di gudang tepatnya di atas lemari, sebuah papan kayu nampak mengkilap dan berkilauan, di mana pada bagian atas papan kayu tersebut terdapat ukiran yang bertuliskan "Apa yang sudah di mulai harus di selesaikan hingga akhir!".


Bersambung


__ADS_2