Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Bedakan mana candaan mana bukan!


__ADS_3

Villa nenek


Prasetia terlihat sudah bersiap dengan pakaian santainya untuk berolahraga sebentar dengan lari pagi mengelilingi villa, hitung hitung sambil menikmati segarnya udara di sekeliling villa yang masih asri tanpa adanya polusi maupun asap rokok.


Prasetia menghabiskan pemanasan dengan berkeliling villa sebanyak 3 kali kemudian ia memutuskan untuk berjalan jalan sejenak memasuki kawasan hutan pinus di sekitar villa.


"Sepertinya duduk istirahat sebentar di sini enak." batin Prasetia sambil mendudukkan dirinya di bawah pohon besar dekat sumur tua.


Prasetia menatapi keindahan hutan pinus yang berjajar sangat rapi di sekeliling villa, benar benar tempat yang luar biasa memang untuk merefresh pikiran kita dari sekian banyak tugas dan masalah yang selama ini menjadi beban pikiran.


Ketika sedang asyik menikmati suasana, tiba tiba setetes air menetes tepat di pipi sebelah kiri Prasetia membuatnya berpikir sedang gerimis, namun saat tangannya menengadah ke atas tidak ada hujan atau bahkan rintik air yang kembali turun. Entah Prasetia memang kurang kerjaan atau apa ia dengan iseng malah mencium air yang tadi jatuh tepat di pipinya.


"Apa ini? bau banget, tai?" ucapnya bertanya tanya.


Prasetia kemudian lantas mendongak ke atas berusaha mencari seekor burung siapa tahu yang barusan menetes adalah ulah salah satu burung di atas, namun sayangnya ketika Prasetia mendongak ke atas bukan burung yang ia jumpai melainkan Aditya yang seperti tengah tertidur namun nyangkut di atas pohon dengan posisi tengkurap di dahan besar.


"Kampret bangun gak lo, jigong lo kemana mana nih!" teriak Prasetia dengan kesal namun Aditya tak kunjung bangun juga.


Prasetia yang sudah terlanjur kesal karena mengira Aditya sedang mengerjainya, lantas melepas salah satu sandalnya kemudian ia lempar hingga mengenai pantat Aditya.


Aditya yang memang dalam posisi sedang tidur lalu tiba tiba di bangunkan dengan cara dilempar sendal lantas terkejut kemudian jatuh ke bawah tanpa aba aba.


Aw


"Rasain! emang enak." ucap Prasetia dengan nada dingin.


Aditya yang memang belum sadar sepenuhnya lantas hanya menatap celingukan sambil mengusap pantatnya yang sakit karena terjatuh dari dahan pohon walau tidak terlalu tinggi. Namun beberapa menit ketika kesadarannya sudah terkumpul dan teringat akan apa yang terjadi semalam, dengan spontan Aditya langsung berteriak dan langsung loncat memeluk Prasetia yang tengah berdiri aneh memandanginya.


"Turun gak lo! najis tau... apaan sih lo?" ucap Prasetia yang semakin di buat kesal dengan kelakuan Aditya.

__ADS_1


"Aaaaaa Pras untung ada lo..." ucap Aditya sambil berteriak membuat Prasetia semakin kebingungan.


**********


Di sebuah mobil yang tengah di kendarai Faris.


Faris akhirnya bisa bernafas lega kala sudah mendengar segala hal secara gamblang dari Arini. Sebuah senyuman singkat terbit dari bibirnya kala mengingat kelakuannya yang tiba tiba meminta ijin melamar Tazkia, padahal niat awalnya hanya ingin mengetahui tentang sebab akibat malah berubah menjadi sebuah pinangan.


Namun ketika Faris mengingat kembali ucapan Arini ketika perpisahan keduanya, membuat Faris lantas langsung menepikan mobilnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan berwarna hitam kecil dari sakunya.


"Ternyata sosok itu menepati janjinya, aku tidak akan tahu jika tante Arini tidak mengatakannya tadi." ucap Faris sambil menatap bungkusan kecil itu dengan intens.


Flashback on


Setelah perbincangan yang cukup mendalam antara keduanya, Faris kemudian berpamitan pulang untuk meminta ijin ke rumah sakit mengambil cuti dan menyusul Tazkia kembali.


Ketika Faris hendak masuk ke dalam mobil panggilan Arini menghentikan langkahnya.


"Sepertinya kamu sudah mendapatkan balasan dari kebaikanmu, apapun itu jika kamu yakin dan pasrah kepada sang pemberi kehidupan tante yakin itu akan berhasil." ucap Arini dengan tersenyum.


"Bagaimana tan?" tanya Faris sekali lagi karena ia masih tidak mengerti dengan ucapan Arini barusan.


"Lihatlah di saku celana mu, bukankah dia sudah menjanjikannya padamu?" ucap Arini kemudian melenggang pergi masuk ke dalam mansion.


Flashback off


Faris kemudian kembali melajukan mobilnya dan menuju ke rumah sakit, namun kali ini dengan wajah yang sumringah karena mendapat lampu hijau dari Arini, tidak seperti kemarin kemarin yang nampak lesu dan tak bersemangat karena selalu terpikirkan tentang Tazkia.


********

__ADS_1


Villa nenek


Sore itu Tazkia dan teman temannya nampak tengah berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar berbincang dan menikmati waktu bersama. Baik Prasetia, Sinta dan juga Tazkia nampak have fun berbagi cerita, lain halnya dengan Aditya yang hanya diam di pojok sofa sambil memeluk bantal sofa dengan erat seakan tak ingin lepas dari bantal tersebut.


Prasetia yang melihat hal itu tiba tiba terbesit rasa jahil dan langsung mendekat ke arah Aditya, dengan perlahan sambil memberikan isyarat kepada Tazkia dan juga Sinta agar diam dan tidak bersuara.


Prasetia kemudian sedikit berjongkok dan dalam hitungan ketiga dengan menggunakan bahasa isyarat perlahan Prasetia menarik kaki Aditya, awalnya Prasetia dan yang lainnya menganggap Aditya akan bersikap seperti biasa, tapi tanpa di duga Aditya malah berteriak histeris sambil melempar bantal sofa yang sedari tadi ia peluk, hingga ketiganya saling berpandangan satu sama lain mencoba mencari jawaban namun tak kunjung mereka temukan.


"Dit kita hanya bercanda." ucap Prasetia kemudian sambil menepuk pundak Aditya untuk menyadarkannya.


Aditya yang mendengar suara Prasetia lantas langsung menghentikan teriakannya kemudian membuka matanya dan menatap sekeliling.


"Kalian pikir ini lucu ha! bedakan mana candaan mana bukan!" ucap Aditya kesal sambil bangkit berdiri dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.


Prasetia, Sinta dan juga Tazkia langsung terdiam mereka tidak menyangka bahwa respon Aditya akan seperti itu.


"Dit janganlah marah, kami minta maaf oke kalau kami salah." ucap Tazkia sambil mencoba menenangkan Aditya.


"Tapi gak gini caranya Ki, kalian bahkan gak tau rasanya gimana di seret makhluk mengerikan itu bukan? dan barusan kalian malah menjadikannya candaan, it's not funny!" ucap Aditya kali ini dengan nada setengah berteriak membuat semua orang yang di ruangan itu lantas semakin terdiam mendengarkannya.


"Gue minta maaf Dit." ucap Prasetia sambil melangkah mendekat ke arah Aditya.


"Sudahlah, gak penting juga bukan? maaf gue terlalu emosi tadi." ucap Aditya kemudian melenggang pergi dari ruang keluarga.


Ketiganya menatap kepergian Aditya hingga menghilang dari pandangan mereka, Tazkia kemudian memunguti bantal yang sudah Aditya lempar tadi lalu mengambil duduk di sofa sambil menghela nafasnya panjang.


"Apa gue keterlaluan tadi ya?" tanya Prasetia sambil memijat pelipisnya pelan merasa bersalah atas perbuatannya tadi.


"Tidak perlu terlalu dipikirkan Pras, kita tunggu sampai Adit tenang dulu nanti kita bicarakan lagi." ucap Sinta mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Iya Sinta ada benarnya, lebih baik kita tunggu sampai Aditya baikan dulu."


Bersambung


__ADS_2