Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Lanjut ~ Ular tangga keramat #4


__ADS_3

Prasetia yang memang tidak tahu menahu mengenai apa yang terjadi pada teman temannya, lantas hanya menatap keempatnya dengan tatapan bertanya tanya, apalagi ketika melihat penampilan Sinta yang awut awutan dan tangan Aditya yang penuh dengan bercak darah yang telah mengering, membuat Prasetia semakin bingung akan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? apa kalian baik baik saja?" tanya Prasetia sambil menatap keempatnya satu persatu.


"Permainan ini gila, kalau kita gak segera menyelesaikannya yang ada kita akan mati konyol, dan gue gak mau itu terjadi!" ucap Aditya dengan nada yang kesal.


"Jangan sampai kita berhenti di ekor ular atau kejadian ini akan terulang lagi." ucap Faris kemudian yang semakin membuat Prasetia kebingungan.


"Ayo kita mulai kembali permainannya, semakin cepat selesai mungkin akan semakin baik." ucap Tazkia kemudian yang di balas anggukan oleh yang lainnya.


Prasetia kemudian lantas membuka kembali papan kayu itu, sesuai urutan giliran kali ini adalah giliran Sinta untuk bermain. Semua orang di sana nampak berwajah tegang berharap Sinta tidak mendapatkan ekor ular atau semacamnya.


Sinta mulai mengocok dadu secara cepat lalu melemparnya, dadu perlahan mulai menggelinding dan berhenti tepat di angka 5, membuat mereka lantas sedikit bernafas lega karena terlihat anak tangga di sana. Pion milik Sinta mulai terlihat muncul dan bergerak ke angka lima kemudian naik ke atas melompati dua kotak.


Baru saja mereka senang karena Sinta mendapat anak tangga, sayangnya secara perlahan raut wajah mereka berubah kala menyadari terdapat pion milik Tazkia di kotak nomer 7, jika ini adalah permainan ular tangga biasa maka dalam peraturannya pion yang datang terakhir dapat menendang pion milik lawan mainnya kembali ke garis start. Tapi sayangnya, permainan ini berbeda dari yang lainnya membuat wajah kelimanya mulai menegang.


Faris memegang erat tangan Tazkia, ia tahu Tazkia tengah gugup kali ini, menunggu klue apa yang akan muncul sebentar lagi.


Selamat kamu mendapatkan anak tangga dan bisa meLewati dua kotak sekaligus, sayangnyA dua pion tak bisa meNjadi satu. Kalian harus menyingkirkan salah satunya! agar bisa melanJUTkan permainannya.


Tulisan itu perlahan muncul, membuat kelimanya dengan serius mencerna maksud dari tulisan di papan itu.


Tazkia menatap ke arah Faris seakan memastikan bahwa yang ada di pikirannya bukanlah apa yang akan terjadi.


"Tenanglah ini tidak..." ucap Faris namun terpotong karena tubuh Tazkia tiba tiba melayang dan membentur ke arah rak buku, membuat yang lainnya terkejut sekaligus bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Bug


Suara itu begitu nyaring terdengar di telinga, beberapa buku nampak berjatuhan dan menimpa Tazkia. Ada sedikit darah segar keluar dari mulut Tazkia, mungkin karena benturan yang keras kala tubuhnya terlempar tadi.


"Kia!" teriak Faris, Aditya, dan juga Prasetia secara bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya kemudian langsung bangkit dan berlarian ke arah di mana Tazkia berada hendak menolong Tazkia.


Tanpa mereka sadari, ketika ketiganya sibuk membantu Tazkia, Sinta yang sedari tadi diam saja nampak berjalan keluar dari arah kafe dengan membawa pisau di tangannya. Manik matanya nampak hitam keseluruhannya, sepertinya Sinta tengah kerasukan saat ini.


"HARUS ADA YANG MATI!" ucap Sinta berulang namun dengan nada lirih yang tentu saja tidak akan terdengar oleh mereka.


Faris mengecek keadaan Tazkia takut terjadi luka dalam akibat benturan itu, sedangkan Aditya dan Prasetia menyingkirkan buku buku yang menimpa Tazkia.


"Kamu baik baik saja Ki?" tanya Faris khawatir, sedangkan Tazkia hanya mengangguk pelan karena memang seluruh tubuhnya terasa sakit semua.


"Bisa tolong ambilkan air minum di kafe?" ucap Faris kemudian yang di balas anggukan oleh Aditya.


Tepat setelah Aditya bangkit dan berbalik hendak pergi ke arah kafe, ia sedikit terkejut kala melihat Sinta yang mengacungkan pisau ke arah mereka dengan mata yang menghitam seluruhnya.


"Sinta apa apaan lo!" teriak Aditya sambil dengan sepontan mendorong tubuh Sinta hingga ia terjatuh ke belakang.


Baik Tazkia, Faris dan juga Prasetia nampak terkejut dengan teriakan Aditya barusan.


"Eng.. gak mungkin Dit!" ucap Tazkia pelan tidak percaya dengan ucapan Aditya barusan.


Sinta yang tadi nampak terjatuh, lantas mendadak bangkit dan tersenyum menyeringai menatap ke arah keempatnya sambil mengacungkan pisau ditangannya.


"HARUS ADA YANG MATI ANTARA AKU DAN DIA, APA KALIAN TIDAK INGIN PULANG?" ucap Sinta sambil tertawa cekikikan.


"Jangan gila lo Sin!" teriak Aditya kesal.


Hahahaha


Baru saja tertawa, Sinta tiba tiba berlarian mendekat ke arah di mana Tazkia berada. Ketiganya yang menyadari ada yang tidak beres terhadap Sinta, mulai bergerak takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Pergilah dok, biar aku yang menangani Sinta di sini." ucap Prasetia.

__ADS_1


Faris yang mengerti dengan ucapan Prasetia barusan, lantas langsung bergerak dan menggendong Tazkia ala bridal style, membawa Tazkia pergi dari sana.


"Jangan bawa aku Ris, kita harus menolong Sinta, aku bisa menyadarkannya." ucap Tazkia lirih namun masih bisa di dengar oleh Faris yang tengah menggendongnya.


"Kita pulihkan dulu kondisi mu oke? setelah itu kita menolong Sinta." ucap Faris dengan senyum, ia tahu Tazkia pasti sangat khawatir sekarang.


Faris menggendong Tazkia ke arah kafe kemudian mendudukkannya di kolong mini bar agar tidak terlihat oleh Sinta. Setelah memastikan Tazkia duduk dengan baik, Faris kemudian melangkahkan kakinya menuju lemari mencari sebotol air mineral di sana untuk Tazkia minum.


"Minumlah dulu Ki." ucap Faris sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sudah di buka penutupnya.


Tanpa banyak protes Tazkia menerima air itu lalu meminumnya sedikit.


"Minumlah lagi lebih banyak Ki." ucap Faris yang melihat Tazkia hanya meminumnya sedikit.


Sesuai ucapan Faris barusan Tazkia kembali meminumnya, lalu memberikannya kembali pada Faris.


"Apakah kamu merasa lebih baik sekarang? bagian mana yang terasa sakit hem?" tanya Faris sambil melihat seluruh bagian tubuh Tazkia takut terdapat lebam atau semacamnya.


Tazkia yang mendapat pertanyaan itu lantas langsung menggenggam erat tangan Faris, Tazkia tahu kini Faris tengah khawatir terhadap dirinya, dan Tazkia bersyukur mempunyai pasangan yang begitu perhatian terhadapnya seperti Faris.


"Aku tak apa, sudah ya? jangan terlalu khawatir." ucap Tazkia dengan lembut.


"Apa kamu yakin?" tanya Faris sekali lagi memastikannya dan di balas anggukan oleh Tazkia.


Mendengar hal itu Faris nampak lega sedikit, ia kemudian mendudukkan bokongnya di sebelah Tazkia, sedangkan Tazkia yang mengetahui hal itu lantas sedikit mencondongkan kepalanya pada bahu Faris dan memejamkan matanya perlahan.


Faris mengelus pelan rambut Tazkia kemudian mencium puncak kepalanya.


"Jika aku tidak selamat dalam permainan ini, kamu harus melanjutkan hidup mu Ris!" ucap Tazkia tiba tiba sambil masih memejamkan matanya.


"Tidak akan Ki! aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." ucap Faris dengan tegas dan tak ingin di bantah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2