
"Kepala ular!" ucap Aditya dengan nada yang terkejut.
Tidak hanya Aditya, bahkan semua orang yang ada di sana nampak ikut terkejut. Jantung mereka mulai berdebar dengan kencang kala menantikan clue apalagi yang akan muncul pada papan kayu tersebut.
Kamu mendapatkan kepala ular! pion milik mu akan turun dan berhenti di ekor ular, turun satu kotak berarti 5 menit waktu yang kalian gunakan untuk bertahan. Semoga kalian selamat dan dapat melanjutkan permainan.
Semua orang nampak serius membaca clue yang mulai muncul di papan permainan.
"Bertahan? bertahan dari apa?" tanya Aditya kepada yang lainnya, namun hanya di balas gelengan kepala karena mereka juga tidak tahu maksud dari kata bertahan pada clue tersebut.
Ketika semua sedang sibuk menerka nerka akan maksud dari clue tersebut, tanpa di duga Tazkia mendapat sebuah penglihatan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dalam penglihatannya Tazkia seperti melihat sosok pocong bertebaran memenuhi ruang baca ini. Sosoknya begitu mengerikan dengan wajah yang rusak seperti hangus terpanggang, disertai dengan beberapa hewan melata seperti belatung dan ular ular kecil memenuhi wajah pocong tersebut.
Kengerian mulai terlihat ketika pocong tersebut mulai berpindah pindah tempat sambil menggeleng gelengkan kepalanya, seakan akan tengah mengejek Tazkia saat ini.
Kia!
Panggilan itu tiba tiba terdengar dan menyadarkannya dari apa yang ia lihat barusan. Semua orang nampak melihat Tazkia dengan penasaran sekaligus bingung apa yang sedang terjadi pada Tazkia sebenarnya.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Faris yang di balas Tazkia dengan anggukan.
"Geis, entah ini akan terjadi atau tidak, namun gue melihat banyak pocong di ruangan ini." ucap Tazkia yang lantas membuat yang lainnya terkejut sekaligus takut dengan apa yang di ucapkan Tazkia barusan. "Pada clue tersebut mengatakan kepada kita untuk bertahan selama 5 menit, bertahanlah sebaik mungkin jangan sampai terkena air liur dari pocong tersebut, ingat itu baik baik." ucap Tazkia kemudian.
"Memangnya apa yang terjadi jika kita terkena air liur itu?" tanya Sinta penasaran.
"Sangat buruk, jika air liur itu mengenai mata maka kalian akan buta. Namun, jika itu mengenai tubuh kita kemungkinan terburuknya kita akan mengalami penyakit kulit selama 40 hari." ucap Tazkia.
"Widih serem amat ya?" ucap Aditya ngeri.
"Bertahanlah sebaik mungkin, kita harus pulang dalam keadaan utuh dan sama sama." ucap Tazkia yang di balas anggukan oleh yang lainya.
Di saat kelimanya sedang berdiskusi tentang apa yang akan terjadi, mendadak papan itu melayang tinggi di atas membuat mereka berlima lantas di buat terkejut akan apa yang baru saja terjadi.
Permainan akan di mulai! bersiaplah mencari tempat teraman.
10 9 8
"Ingat pesan gue, pergilah berpencar sekarang!" ucap Tazkia kemudian.
__ADS_1
7 6 5
Mendengar seruan Tazkia mereka lantas mulai berpencar kecuali Faris yang masih setia di sisinya.
"Pergilah, tak perlu menghiraukan aku." ucap Tazkia dengan tersenyum seakan menenangkan Faris bahwa semua akan baik baik saja.
4 3
"Tidak aku akan tetap bersamamu." ucap Faris sambil menarik tangan Tazkia mengajaknya mencari tempat untuk bersembunyi.
2 1
Permainan bertahan di mulai!
**
Deg deg deg deg
Suasana mendadak menjadi hening seketika, semua orang menempati posisinya masing masing. Angin mulai berhembus dengan kencang menandakan datangnya makhluk yang tak diinginkan kehadirannya.
Sinta diam di tempat persembunyiannya dengan hati yang gelisah, dipegangnya erat gagang sapu untuk berjaga jaga dari pocong tersebut, siapa tahu mungkin sapu di tangannya akan berfungsi.
Sinta
Panggil sebuah suara yang tak asing bagi Sinta, mendengar hal itu Sinta lantas mempertajam kembali telinganya untuk mendengar apakah yang barusan benar benar tengah memanggil namanya.
Sinta
"Untuk apa Pras memanggil gue sih bukankah kami semua berpencar?" batin Sinta dalam hati bertanya tanya. "Apa jangan jangan Prasetia menemukan tempat teraman untuk bersembunyi?" ucapnya lagi.
Di tatapnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, mencoba menghitung berapa lagi sisa waktu yang di butuhkan untuk bertahan.
"Masih baru satu menit berjalan, apakah suara itu sungguh sungguh Pras?" ucapnya lagi bertanya tanya.
Beberapa detik bergelut dengan pemikirannya sendiri, Sinta kemudian lantas memutuskan untuk keluar dan menghampiri suara itu. Namun baru saja kepalanya mendongak keluar, di hadapannya tengah berdiri sosok pocong dengan rupa yang mengerikan, terlihat beberapa belatung bahkan mulai berjatuhan mengenai tubuh Sinta membuatnya langsung berteriak sekencang mungkin.
Aaaaaaaaaa
Teriak Sinta dengan kencang namun tetap berdiri di sana membuat sosok itu semakin mendekat ke arah Sinta, bau anyir langsung tercium kala jarak keduanya hanya sejengkal saja.
__ADS_1
Sampai kemudian...
Srak
Sebuah payung terbuka tepat di hadapannya, sedangkan dari depan payung itu seperti terkena percikan sesuatu yang lengket. Sepertinya pocong itu tengah meludah sekarang.
"Untung gue masih sempat nyelamatin lo." ucap Prasetia dari arah belakang Sinta.
"Thank you Pras." ucap Sinta kemudian.
"Bukan saatnya untuk membahas itu, kita harus lari sekarang." ucap Prasetia kemudian sambil menarik tangan Sinta untuk menjauh dari sana.
***
Sementara itu Aditya yang tengah bersembunyi di rak buku sebelah selatan, lantas celingukan memantau sekitar.
"Lima menit waktu yang sebentar, gue akan menutup mata beberapa menit dan begitu mata gue terbuka teror makhluk lepet itu pasti sudah menghilang, yap menghilang!" ucap Aditya dengan yakin.
Dengan penuh keyakinan Aditya mulai menutup matanya dan berhitung. Hitungan satu sampai sepuluh masih aman dan tidak terjadi apapun, namun saat hitungan itu menginjak angka tiga belas, bau anyir mulai tercium pada hidungnya membuat Aditya lantas dengan spontan membuka matanya ingin mencari tahu asal bau tersebut.
"Hiya hiya hiya kenapa pakai acara muncul depan gue sih.... gu... guee kan jadi gemeteran anjing! eh salah lepet... eh bukan po...cong!" ucapnya sambil dengan spontan memukul bagian tubuh pocong itu hingga bengkok kemudian mengambil langkah seribu dari sana.
"Mama..... Adit dikejar poci tolong!" teriaknya sambil terus berlari.
Bug
Karena tidak hati hati Aditya menabrak Tazkia dan juga Faris yang memang waktu itu juga sedang berlarian menghindari sekumpulan pocong pocong tersebut yang terus mengejar mereka.
"Aw pelan napa Dit! sakit nih." ucap Tazkia dengan kesal.
"Gue juga sama kali Ki... po...pocong!" ucapnya kemudian kala melihat pocong di belakang Tazkia dan Faris.
"Di belakang lo juga ada Dit!" ucap Tazkia yang lantas membuat Aditya langsung berbalik.
Kali ini baik Aditya, Tazkia dan juga Faris tidak bisa lari lagi. Ketiganya di kepung oleh sekumpulan sosok pocong dengan bentuk yang mengerikan.
"Apakah kita akan mati di sini Ki?" tanya Aditya kemudian kala melihat wajah sosok pocong tersebut dengan ngeri.
Bersambung
__ADS_1