Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kedatangan Melisa


__ADS_3

Keesokan harinya di kantin kampus.


Baik Tazkia, Aditya, Sinta dan juga Prasetia nampak hanya terdiam sambil terus mengaduk aduk makanan mereka masing masing, sepertinya mereka tidak terlalu berselera untuk makan kali ini. Bayangan demi bayangan permainan gila itu terus terlintas di benak mereka, meski kelimanya berhasil kembali dengan selamat.


"Sudahlah geis, sebaiknya kita lupakan saja kejadian kemarin. Mari kita anggap itu hanya mimpi buruk belakang." ucap Aditya yang sadar dengan tingkah teman temannya yang aneh.


"..."


"Em baiklah, sepertinya sudah cukup merenunginya. Bukankah kita juga harus melanjutkan hidup bukan? lagipula tidak ada yang terluka dan juga kekurangan, kita sama sama pulang dengan keadaan yang lengkap... ya meski mungkin mental kita agak sedikit terganggu tapi it's ok lah. Mari kita coba melupakannya geis, semangat..." ucap Tazkia yang juga ikut menyemangati teman temannya.


Mendengar ucapan Aditya dan juga Tazkia lantas membuat Sinta dan juga Prasetia saling pandang satu sama lain, namun detik berikutnya mereka tersenyum seakan menyetujui ucapan keduanya.


"Semangat!" teriak Prasetia dan juga Sinta secara bersamaan.


*******


Sementara itu di sebuah jalanan yang sepi dan juga kumuh sebuah mobil nampak berhenti di tengah jalan. Seorang gadis cantik nan imut lantas terlihat turun dari mobil dan berlarian menuju ke sebuah tempat pembuangan sampah. Gadis itu mengambil sebuah boneka perempuan dengan gaun pengantin yang melekat di tubuh boneka tersebut. Gadis itu nampak senang kala menatap ke arah boneka tersebut, meski penampilan boneka itu agak kusam karena mungkin sudah berhari hari atau bahkan berbulan bulan berada di tempat pembuangan sampah.


"Ah kamu begitu lucu, bukankah sayang jika kamu harus tidur di tempat yang kumuh seperti ini? mari ikut dengan ku... aku akan membawa mu ke tempat yang indah." ucap gadis itu kemudian berlarian kembali ke mobil dengan menggenggam sebuah boneka di tangannya.


Entah gadis tersebut menyadarinya atau tidak tepat disaat gadis itu membawa boneka tersebut masuk, mata boneka tersebut nampak berkilat merah, sedangkan mulut boneka tersebut perlahan seperti di tarik dan membentuk senyum sempurna yang mengerikan.


******


Malam harinya di mansion milik Prasetia.


Di ruang tengah Prasetia tengah sibuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosen. Prasetia nampak fokus ke arah layar laptopnya dengan di temani secangkir kopi dan juga beberapa cemilan di meja.


Ting tong


Suara bel di tekan dari luar lantas menghentikan gerakan tangannya yang tengah sibuk mengetik sedari tadi.

__ADS_1


"Tumben ada tamu jam segini?" ucap Prasetia pada diri sendiri ketika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10 malam.


Ting tong ting tong


Mendengar bel pintu lagi lagi di tekan membuat Prasetia lantas bergegas menuju ke arah pintu utama, siapa tahu ada tamu penting pikir Prasetia dalam hati.


Hanya saja, tepat ketika Prasetia membuka pintu utama di luar benar benar kosong dan tidak ada siapapun di sana, membuat Prasetia lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.


"Mungkin tadi hanya perasaan ku saja." ucap Prasetia lagi sambil menutup pintu utama. Namun baru beberapa kali melangkah, bel pintu depan lagi lagi kembali terdengar nyaring. Sebisa mungkin Prasetia untuk bersikap sabar dan tetap positif thinking dalam hal ini padahal dalam hatinya sudah merutuki dengan kesal siapapun orang yang memencet bel rumahnya dengan iseng.


Perlahan Prasetia kembali membuka pintu utama dan kali ini Prasetia lantas di buat terkejut kala di depan pintu berdiri seorang gadis dengan posisi menunduk, seluruh wajahnya tertutupi oleh rambut panjang miliknya membuat sosoknya semakin menyeramkan. Belum lagi di tambah boneka kumuh yang di bawanya membuat Prasetia mengira itu adalah sosok hantu sungguhan.


"Astaga!" teriak Prasetia yang terkejut dengan penampakan di hadapannya.


Hahahaha


Prasetia yang semula terkejut bercampur dengan takut melihat sosok di depannya, lantas urung karena mendengar suara tawa khas yang tidak asing di pendengarannya.


"Melisa!" teriak Prasetia dengan kesal karena ulah jahil Melisa.


Sedangkan Melisa yang mendengar teriakan itu lantas mulai menghentikan tawanya dan mengintip perlahan ke arah Prasetia. Senyum garing mulai Melisa perlihatkan kala dirinya mendapat tatapan tajam dari Prasetia saat ini.


"Kok kak Pras tahu ini aku?" tanya Melisa sambil sesekali terkekeh.


"Oh ya? masalahnya hanya kamu seorang yang tertawanya mirip dengan babi ngik ngik. Sungguh tidak akan mungkin bukan kalau hantu tertawanya ngik ngik?" ucap Prasetia dengan kesal kemudian melangkah masuk ke dalam.


Melihat Prasetia masuk ke dalam, Melisa kemudian lantas mengikuti langkah kaki sepupunya itu. Jangan sampai ia tidak diijinkan menginap di sini hanya karena tingkah usilnya.


Prasetia terus melangkahkan kakinya kemudian mengambil duduk kembali di ruang tengah untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda tadi.


"Ada apa?" tanya Prasetia dengan nada yang ketus.

__ADS_1


"Boleh aku menginap di sini ya...please." ucap Melisa dengan nada yang memohon.


"Berapa lama?" tanya Prasetia, memang tidak bisa di pungkiri jika kedatangan Melisa ke mansionnya pasti ada maunya. Melisa tak pernah mampir hanya untuk singgah tau sekedar basa basi saja.


"Tidak lama hanya sebulan, boleh ya...." bujuknya dengan nada yang memelas.


"Jangan gila deh, gak mau aku kalau selama itu. Bisa jadi apa mansion milik ku nantinya, jika sebulan harus tinggal bersama mu." ucap Prasetia menolak keras permintaan Melisa, bukan Prasetia pelit atau apa, hanya saja Prasetia yang memang tipikal orangnya cuek dan juga suka dengan kedamaian, akan sangat sulit jika di satukan dengan Melisa yang selalu jahil dan juga tidak bisa diam itu.


"Ayolah kak Pras jangan pelit, Melisa ingin menghabiskan liburan sekolah keliling Jakarta. Apa kakak tidak kasihan dengan Melisa? lagi pula mang ujang juga sudah Melisa suruh pulang tadi." rengek Melisa tidak mau kalah.


"Sekali tidak ya tidak Mel, jangan ganggu! kakak sedang sibuk." ucap Prasetia dengan ketus. "Lagian kalau mau liburan itu ke Bali bukan ke Jakarta, mau lihat apa kamu di sini? orang utan? sudahlah jangan mengada ngada, besok biar aku yang akan mengantar mu pulang." ucap Prasetia tegas tidak ingin di bantah.


"Sekali tidak mau ya tidak mau, pokoknya aku akan tetap di sini!" ucap Melisa dengan nada setengah berteriak.


Ketika keduanya sedang berselisih tegang deringan ponsel milik Prasetia lantas membuyarkan segalanya. Prasetia yang melihat ibunya yang menelpon lantas langsung mengambil langkah sedikit menjauh dari Melisa lalu mengangkatnya.


"Halo iya ma..." ucap Prasetia kala panggilan telpon tersebut ia angkat.


"Jika Melisa ke sana, biarkan saja Melisa di situ sesukanya. Jangan coba coba untuk mengusirnya." ucap Indah tanpa basa basi.


"Ayolah ma, mama menelpon ku hanya karena Melisa? yang benar saja ma." keluh Prasetia karena awalnya ia mengira ibunya menelpon karena ada hal penting namun nyatanya hanya membahas soal Melisa.


"Ayolah Pras kali ini saja, mama tidak enak jika harus menolak permintaan keponakan mama sendiri." ucap Indah dengan nada memohon.


"Jika mama tidak enak pada Melisa, lalu bagaimana dengan ku?" gerutu Prasetia tidak terima.


"Hanya sebulan sayang mama janji, jangan lupa ya love you." ucap Indah sambil langsung memutus panggilan telponnya.


"Tapi ma... ma... halo..." ucap Prasetia terpotong karena sambungan telpon yang di putus secara sepihak oleh Indah. "Mama benar benar keterlaluan." ucap Prasetia dengan kesal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2