
Setelah kejadian Tazkia dan juga Doni yang tiba tiba menghilang keadaan kembali tenang dan damai seperti biasa, hari demi hari mereka lewati dengan tenang kegiatan penyaluran pendidikan di desa tersebut berjalan dengan lancar.
Setelah kegiatan mengajarnya selesai Tazkia menarik nafasnya dengan lega. ia kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju rumah peristirahatan mereka, Tazkia memang sengaja pulang lebih awal ia berencana untuk pulang lebih dulu dan memasak untuk mengisi perutnya dan juga teman temannya yang sudah mulai keroncongan. Ketika sedang dalam perjalanan pulang Tazkia melihat gadis itu, si gadis penari yang berwajah sendu. Tidak ingin menyianyiakan kesempatan Tazkia bergegas hendak menghampiri gadis itu dan menyelesaikan segala rasa penasarannya.
Gadis itu berdiri dengan mematung tepat di antara dua pohon besar yang berdiri berhadapan dengan beberapa akar kayu yang melilit dahannya, Tazkia berjalan semakin dekat dan semakin dekat menuju gadis itu kemudian memegang pundaknya, saat tangan Tazkia bersentuhan dengan gadis itu mendadak Tazkia mendapat sebuah penglihatan.
Di dalam penglihatannya Tazkia dibawa pada sebuah kejadian di mana tepat di antara kedua pohon yang saling berhadapan, gadis itu terlihat berhenti setelah berlarian dengan keringat yang sudah membasahi bajunya, gadis itu terlihat celingukan ke kanan dan ke kiri seperti tengah bersembunyi dari sesuatu atau lebih tepatnya dari kejaran seseorang.
Gadis itu lantas terlihat bernafas lega kala mengetahui tidak ada siapapun di sekitarnya, tanpa ia sadari bahwa bahaya yang ia hindari malah berada di dekatnya.
" Awas!" teriak Tazkia namun tentu saja tidak bisa terdengar oleh gadis itu.
Ketika dia lengah tanpa gadis itu sadari seorang pria kisaran umur 40 an keluar dari balik pohon dan berhasil menangkap tubuh gadis itu.
" Tidak pak ku mohon, lepaskan Tari lepaskan Tari!" ucap gadis itu dengan air mata yang sudah berderai sedari tadi.
Mendengar gadis itu menangis bukannya iba malah membuat laki laki itu tersenyum puas.
" Tenanglah Utari, bapak nanti akan menyelamatkan mu, bapak sudah sakti sekarang, tidakkah kau bangga mempunyai bapak?" ucapnya dengan tawa yang cukup keras.
" Tidak pak! biarkan Utari pergi hiks hiks hiks." ucapnya dengan memelas.
" Maafkan bapak ya nak, bapak janji setelah ini bapak akan segera menolong mu." ucap pria itu.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut pria tersebut lantas membunuh Utari dengan mencekiknya hingga meregang nyawa, setelah itu mencoba memeriksa Utari apakah masih hidup atau mati. Setelah di rasa Utari sudah meninggal bukannya berhenti di situ pria tersebut malah memperkosa mayat Utari penuh nafsu, barulah setelah menyelesaikan nafsu bejatnya pria tersebut kemudian mengubur jasad Utari tepat di antara pohon yang saling berjajar dengan berhadapan.
Tazkia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, adegan demi adegan yang baru saja terjadi sungguh membuat Tazkia terkejut sekaligus merasa ngeri, pembunuhan yang dilakukan pria tersebut sungguh keterlaluan dan tidak mempunyai hati nurani sama sekali.
Cukup lama pria itu menyelesaikan sisanya, kebetulan pada saat adegan itu terjadi suasana tengah sore hari dengan hujan rintik rintik membuat jalanan sore itu sepi, di tambah lagi di bagian kanan jalan tersebut berbatasan dengan hutan sehingga bila hampir petang beberapa warga memilih untuk berdiam di rumah daripada harus keluar dengan keadaan sekitar yang gelap dan cukup menyeramkan. Satu hal yang membuat Tazkia cukup terkejut melihatnya, setelah di rasa semuanya sudah selesai pria tersebut lantas mengeluarkan sebuah benda kecil dan mulai menekannya, detik berikutnya yang terjadi adalah pria itu menghilang begitu saja.
" Dia time traveler?" ucap Tazkia.
***********
Sementara itu setelah selesai beberes Prasetia, Sinta dan juga Aditya bergegas untuk kembali ke rumah peristirahatan mereka.
" Hari ini lumayan juga ya, apalagi anak anak di sini lucu lucu semua." ucap Sinta dengan mempraktekan gaya yang gemas.
" Entahlah gue juga tidak tahu, cuman tadi Doni pamit katanya hendak jalan jalan sebentar." ucap Aditya.
" Ya sudah kalau begitu kita balik aja duluan." ucap Prasetia lagi yang di balas anggukan oleh Sinta dan juga Aditya.
Obralan ketiganya lantas terus berlanjut sepanjang jalan kepulangan mereka, sesekali candaan serta godaan terlontar dari mulut Aditya membuat perjalanan mereka terasa lebih menyenangkan.
Hingga kemudian ketika sampai di perbatasan hutan tepatnya di dekat pohon kembar yang berhadapan, samar samar mereka seperti tengah melihat bayangan seseorang sedang menari dengan gerakan yang luwes. Awalnya mereka mengira itu adalah warga desa yang tengah berlatih tarian untuk sebuah pementasan, namun ketika jarak ketiganya semakin dekat, barulah mereka terkejut ternyata seseorang yang tengah menari itu adalah Tazkia, sadar bahwa ada yang tidak beres dengan Tazkia ketiganya lantas mempercepat langkah mereka menuju ke arah Tazkia.
" Ki lo ngapain?" tanya Aditya.
__ADS_1
Mendengar hal itu bukannya menjawab Tazkia malah tersenyum dengan sinis dan melanjutkan gerakan tariannya, melihat hal itu ketiganya lantas menyadari bahwa yang di depan mereka bukanlah Tazkia.
" Keluar kamu dari tubuh Tazkia! pergi!" teriak Prasetia yang lantas membuat keadaan sekitar menjadi mencekam.
Angin kencang perlahan datang mendekat dan menerbangkan beberapa dedaunan kering yang berserakan di tanah. Setelah teriakan Prasetia terdengar memang Tazkia menghentikan gerakannya namun bukannya keluar Tazkia malah menatap Prasetia dengan tatapan seakan akan marah, bukan Prasetia namanya jika ia menyerah begitu saja, tanpa rasa takut Prasetia lantas balik menatap ke arah Tazkia dengan tatapan yang tajam. Beberapa menit kemudian suara aneh mulai terdengar keluar dari mulut Tazkia dengan nada suara yang berganti ganti.
" Aku hanya sedang bercerita, biarkanlah aku sebentar" ucap suara pertama yang keluar dari mulut Tazkia dengan nada yang memelas.
" Kami tidak ada waktu untuk mendengarkan mu, cepat keluar dari tubuh itu!" ucap Prasetia lagi setengah berteriak membuat wajah Tazkia yang semula memelas berubah menjadi menunduk dan terdiam beberapa menit.
" Ki?" panggil Sinta pelan, detik berikutnya Tazkia kembali mengangkat kepalanya namun kali ini dengan suara yang berbeda lagi.
" Mau main, mau main" ucap Tazkia sambil mengeluarkan suara khas anak anak yang tengah merajuk karena permintaannya tidak dituruti. " Antar aku pulang hihihihihihihi" ucapnya kemudian yang berganti menjadi suara perempuan namun dengan tawa yang cekikikan.
Mendengar suara yang lain ketiganya lantas saling pandang dan bingung harus berbuat apa untuk menyadarkan Tazkia. Baru saja terpikir untuk menyadarkan Tazkia, beberapa menit kemudian Tazkia kembali berbicara dengan suara yang asing membuat ketiganya semakin bingung harus berbuat apa untuk menyadarkan Tazkia.
" Teman mu spesial, jangan biarkan dia membuka mata batinnya dan berinteraksi dengan mereka ketika ia sedang sendiri, karena itu akan memancing beberapa makhluk halus datang mendekat dan memasuki tubuhnya." ucap Tazkia lagi kemudian.
Setelah mengatakan hal tersebut perlahan lahan angin yang berhembus dengan kencang mulai mereda, tubuh Tazkia mendadak oleng ke samping, Prasetia yang melihat hal itu langsung berusaha menangkapnya kemudian menggoyangkan tubuh Tazkia secara perlahan untuk menyadarkannya.
" Ki ... Kia? Ki ..." ucap Prasetia sambil menepuk perlahan bahu Tazkia.
Bersambung
__ADS_1