
Tazkia sampai di mansionnya sore harinya, ia rebahkan dirinya di ranjang favorit miliknya, hari ini benar benar melelahkan dan menguras emosinya. Tazkia tidak pernah membayangkan bahwa Prasetia memiliki perasaan kepadanya ( lebih tepatnya sih Tazkia yang tidak menyadarinya ). Kini Tazkia mengerti alasan bahwa sikap Prasetia mendadak menjadi berubah, apalagi berita tentang dirinya dan juga Faris tentu saja melukai Prasetia, namun Tazkia bersyukur karena Prasetia masih memikirkan persahabatan mereka dan tidak menjadi egois.
"Jika sudah begini, aku harus bagaimana? gak mungkinkan aku memutuskan Faris untuk Pras, ah bisa gila aku! menyebalkan." ucap Tazkia dengan frustasi sambil memandangi langit langit kamarnya berharap mendapat solusi terbaik dalam masalahnya.
Ketika Tazkia sedang sibuk memikirkan segala masalahnya, mendadak ruangan kamar Tazkia suasananya menjadi hening, aura mistis mulai memenuhi ruangan membuat Tazkia bertanya tanya ada apa? sekelebat bayangan tiba tiba saja melintas tepat di area kamar mandi, posisi Tazkia yang memang sedang terlentang tentu tidak bisa melihat bayangan itu dengan jelas namun masih bisa melihatnya secara samar. Tazkia lantas langsung bangkit ketika sekelebat bayangan itu melintas, dilihatnya setiap sudut ruangan kamarnya mencari siapa sosok di balik bayangan itu namun ia tak menemukan siapapun di kamarnya.
"Siapa kamu? jangan ganggu gue hari ini! gue benar benar gak mood!" ucap Tazkia setengah berteriak sambil memandangi sekeliling kembali, siapa tahu ada yang menampakkan dirinya.
Tidak lama beberapa asap mulai terlihat membumbung di sudut sofa kamarnya, Tazkia tahu asap itu karena semenjak ulang tahunnya yang ke 22 asap seperti itu sudah merupakan hal lumrah yang ia lihat sehari harinya. Asap itu semakin besar dan berkumpul menjadi sesuatu seperti hendak membentuk sebuah sosok namun kemudian menghilang karena suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan segalanya.
Tok tok tok
"Non, temannya sudah datang dan menunggu di bawah." ucap Ratmi.
"Hu tanggung banget padahal dikit lagi." ucap Tazkia dalam hati saat melihat kepulan asap itu menghilang bagai diterpa angin lalu. "Iya mbok, bentar lagi Kia turun." ucap Tazkia kemudian sambil bangkit berdiri.
"Ya sudah"
*********
Tazkia menuruni anak tangga perlahan melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu untuk menemui Sinta. Tazkia tersenyum kala melihat tas koper besar di sebelah Sinta dan juga sebuah cermin?
"Sin lo hanya menginap beberapa hari di sini bukan selamanya? kenapa koper lo besar sekali, di dalam juga ada baju gue kali kenapa repot repot bawa?" sindir Tazkia sekaligus.
Sinta meringis garing mendengar sindiran Tazkia.
"Ya kali gue udah numpang masih minjam baju." ucap Sinta cengengesan.
"Tapi tunggu, untuk lo bawa cermin? di sini kan banyak cermin Sin." ucap Tazkia bingung sambil memperhatikan cermin yang di bawa Sinta.
"Oh ini, tadi gue di jalan gak sengaja lihat toko antik banget karena penasaran ya gue mampir, dan wala gue ketemu sama cermin ini, keren kan?" ucap Sinta dengan semangat.
Tazkia hanya diam tak menanggapi ucapan Sinta ia hanya fokus menatap cermin itu. Tidak ada yang aneh, dari bentuknya hanyalah sebuah cermin biasa pada umumnya dengan beberapa ukiran mengelilingi cermin tersebut, ukuran cermin itu tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, sungguh hanyalah sebuah cermin tapi entah mengapa ketika Tazkia melihatnya cermin tersebut seperti memiliki sinar dan daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya, tidak hanya itu seperti ada hawa lain yang menyelimuti cermin itu.
"Yuhu Ki! lo dengerin gue ngomong gak sih?" ucap Sinta dengan kesal karena Tazkia hanya diam saja sedari tadi.
"Iya iya gue denger gak usah pakai ngegas, oh ya lo mau tidur sendiri atau berdua bareng gue?"
__ADS_1
"Berdua lah, ngapain gue ke sini kalau ujung ujung tidur sendiri." ucap Sinta kesal.
"Ya udah terserah lo, bawa naik ke atas barang barang lo kecuali cermin itu, cermin itu letakkan saja di atas lemari itu." ucap Tazkia sambil menunjuk ke arah lemari kecil tempat ia biasa menaruh kunci cadangan.
"Yah kok gitu, bawa masuk ya plis."
"No"
"Ayolah Ki jangan terlalu pelit."
"No!"
********
Malam harinya semua terlelap dan berlayar ke alam mimpi masing masing, pada akhirnya Sinta lebih memilih mengalah dan meletakkan cermin itu di dinding tepatnya di atas lemari. Di saat suasana malam semakin larut perlahan cermin itu mulai bersinar dan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Samar samar terdengar suara senandung seseorang dari sekitaran ruang tengah, secara perlahan kilauan sinar di cermin itu menghilang berganti dengan sosok ayu memakai pakaian kebaya lawas nan anggun terlihat di dalam cermin.
Lingsir wengi
Sepi durung bisa nendra
Ngerindhu ati
Kawitane
Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta
Kadung lara
__ADS_1
Sambat sambat sapa
Rina wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine muga bisa tak ugemi
Suaranya begitu indah dan halus hingga menggetarkan siapa saja yang mendengarkannya, sosok tersebut perlahan tersenyum dan tersenyum namun seketika berubah menjadi sosok mengerikan dengan sanggul yang sudah tak berbentuk, sedangkan wajah sosok tersebut perlahan lahan sobek dan mengeluarkan darah hingga membasahi kebaya yang ia kenakan.
hhhhhhhhhhhhhhh
Tazkia terbangun dari mimpinya, sosok di dalam cermin itu benar benar nyata dan semua hal mengerikan barusan sungguh sangat nyata. Tazkia mengelap keringat yang membasahi dahinya, di liriknya Sinta yang tengah tertidur dengan pulas nya.
"Kenapa pakai acara habis sih air minumnya." ucap Tazkia dengan kesal ketika melihat teko air minumnya kosong.
Dengan langkah ogah ogahan Tazkia tetap bangkit dan berjalan menuju ke arah dapur untuk mengisi ulang air minumnya. Tazkia melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga, namun di saat ia melangkah tepat di anak tangga ketiga samar samar ia mendengar seseorang bersenandung sama persis seperti dalam mimpinya tadi.
"Lagu ini... tidak mungkin sosok itu bukan?" ucap Tazkia ketika mendengar suara senandung itu.
Dengan perasaan yang penasaran Tazkia mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sumber suara. Tazkia berjalan semakin dekat dan semakin dekat hingga di saat jarak antara dirinya dengan suara itu sudah dekat, benar saja Tazkia melihat sebuah cahaya terpancar dari cermin yang di bawa Sinta tadi. Perasaan Tazkia sudah tidak karuan segala yang terjadi di mimpinya mungkin akan terjadi juga kali ini, sayangnya yang jadi pertanyaannya kenapa Tazkia malah mendekat? jika memang dia sudah tahu bagaimana akhirnya.
Langkahnya terhenti tepat di depan cermin tersebut. Kilauan sinar itu perlahan menghilang dan menampilkan sosok ayu yang ia lihat di mimpinya tadi.
"Siapa kamu?" ucap Tazkia memberanikan diri.
Mendengar hal itu sosok tersebut lantas tertawa keras kemudian berubah bentuk menjadi sosok menyeramkan dengan bola mata yang tiba tiba keluar dari cermin dan menggelinding ke arah Tazkia.
Tazkia yang melihat hal tersebut tentu saja spontan mundur, namun ia kalah cepat dengan bola mata tersebut karena bola mata itu sudah sampai di sebelah kaki Tazkia.
Dengan rasa takut yang perlahan mulai menyelimutinya Tazkia memberanikan diri menatap bola mata itu dan yang terjadi...
Crass
Bola mata itu pecah dan membuat Tazkia terkejut hingga ia tanpa sengaja menjatuhkan tekonya, hingga pecahannya berhamburan dan mengenai kakinya.
Hhhhhhhhhhh
__ADS_1
"Aku bermimpi lagi?" ucap Tazkia kala terbangun dengan baju yang sudah basah karena keringat.
Bersambung