Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
End ~ Boneka arwah penuntut balas #7


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Sindi dan juga Faris berhenti tepat di halaman mansion milik Prasetia, keduanya lantas bergegas turun dan masuk ke dalam.


"Pintunya di kunci dok" ucap Sindi.


"Kita lewat pintu samping saja" ucap Faris kemudian mengajak Sindi memutar.


Sementara keduanya melipir ke arah samping, pintu mobil bagian belakang milik Sindi perlahan terbuka. Agung terlihat turun dari bagasi mobil milik Sindi, tanpa Faris dan juga Sindi sadari Agung masuk ke dalam ketika keduanya lengah. Agung melangkahkan kakinya menuju ke arah mansion, perlahan tapi pasti Agung berjalan melipir mengikuti jejak Sindi dan juga Faris dengan wajah yang penuh ketakutan namun ia tetap melangkah masuk ke dalam.


"Sudah cukup, boneka setan itu harus di hentikan." ucap Agung dengan bibir yang gemetar. "Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku." imbuhnya lagi kali ini dengan nada yang yakin dan tak gentar.


****


Kembali ke Tazkia dan juga Aditya


"Hanya sedikit... gak akan mati, mungkin hanya gegar otak saja hehehe." ucap Aditya cengengesan.


"Adit!" teriak tazkia dengan kesal karena Aditya malah melawak di saat saat seperti ini.


Di saat Tazkia sedang kesal akan ulah Aditya, tanpa keduanya sadari boneka itu nampak marah menatap ke arah keduanya.


Kalian terlalu menganggap remeh aku rupanya!


Ucap boneka tersebut yang lantas membuat Aditya dan juga Tazkia menatap ke arah boneka itu. Kilatan amarah terlihat jelas di mata boneka itu yang berubah menjadi berwarna merah darah. Mendadak barang barang di sekitarnya terlihat mulai melayang di kanan dan kiri Tazkia.


"Lari Dit! kita seret Prasetia sama sama." ucap Tazkia yang sadar situasinya semakin menegang.


Cetar


Sebuah guci melayang hampir mengenai ketiganya dimana Tazkia dan juga Aditya sedang berusaha menyeret tubuh Prasetia yang tengah pingsan.


"Adit awas!" teriak Tazkia ketika melihat sebuah meja melayang dan hendak mengenai Aditya.


Aditya yang mendengar teriakan Tazkia barusan, lantas dengan spontan tiarap sambil memegangi kepalanya meski ia tidak tahu betul apa yang sedang terbang menghampirinya. Hingga kemudian suara meja terlempar dan membentur dinding terdengar dengan keras menggema di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Untung gue sigap" ucap Aditya sedikit bersyukur.


Sedangkan Faris dan juga Sindi yang masuk dari arah samping lantas terkejut ketika melihat keadaan rumah yang sudah berantakan hampir mirip dengan kapal pecah. Faris menatap ke arah Tazkia dan juga Aditya yang nampak kesusahan menggeret tubuh Prasetia, sedangkan Sindi lantas menoleh ke sekitar mencari sesuatu seperti kain penutup yang bisa ia gunakan untuk mengarungi boneka tersebut.


Sindi mengambil taplak meja dengan sembarangan kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah boneka itu bersiap untuk mengemasnya.


"Satu... dua... ti.... ga" ucap Sindi lirih menghitung langkahnya dan hap boneka itu berhasil ia bungkus dengan taplak meja.


Apa apaan ini?


Teriak boneka itu dengan penuh amarah karena mendadak di sekelilingnya menjadi gelap gulita. Sindi sedikit bernafas lega ketika ia berhasil membungkus boneka itu. Sampai kemudian, ketika Sindi ingin membawa gulungan yang berisi boneka tersebut tanpa di duga boneka tersebut memberontak dan terus berusaha membuka taplak meja tersebut.


Bungkusan tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri membuat Sindi sedikit kewalahan memeganginya. Sampai kemudian bungkusan yang berisi boneka tersebut lantas bergerak ke atas, Sindi yang memang enggan untuk melepaskannya lantas mulai terangkat dan melayang perlahan.


"Sindi!" teriak Faris yang bergerak separuh jalan hendak menuju Tazkia, sedangkan Tazkia dan juga Aditya yang memang tidak menyadari kehadiran Faris lantas langsung menoleh ketika mendengar teriakan Faris memanggil nama seseorang.


"Faris?" ucap Tazkia dengan nada yang terkejut karena Faris tiba tiba ada di sini.


"Lepaskan saja!" teriak Faris dari bawah yang sudah tidak kuat karena tubuhnya seakan sedikit demi sedikit ikut terangkat ke atas.


"Tidak mau dok, boneka ini harus segera dimusnahkan!" ucap Sindi menolak dengan keras.


"Ku bilang lepaskan!" ucap Faris kemudian dengan kesal sambil menarik tubuh Sindi cukup keras membuat Sindi langsung jatuh dan menimpa tubuh Faris, sedangkan boneka tersebut melesat tepat setelah pegangan Sindi terlepas dari bungkusan tersebut.


**


Setelah memastikan Prasetia aman di sudut sofa, Tazkia lantas menghampiri Faris dan juga Sindi yang tergeletak ke bawah berusaha untuk bangkit.


"Kalian tidak papa?" tanya Tazkia sambil membantu Sindi bangkit berdiri.


"Awas Ki!" ucap Faris sambil mendorong tubuh Tazkia karena dari arah belakang Faris melihat sebuah pisau terbang melayang ke arah Tazkia berada.


Dia harus mati!

__ADS_1


"Cukup Sa! mereka tidak bersalah." ucap sebuah suara yang langsung membuat pisau yang tadinya melayang jatuh dengan sendirinya ke bawah.


Kau Agung, akhirnya menampakkan diri juga.. hahaha


"Mereka tidak bersalah, lepaskanlah mereka!" ucap Agung dengan nada yang lirih.


Semua yang ada di sana lantas terdiam dan mencerna ucapan demi ucapan keduanya. Faris dan juga Sindi yang mengetahui kondisi Agung seperti apa, lantas di buat terkejut ketika tiba tiba mengetahui Agung sudah berada di sini padahal keduanya jelas jelas melihat Agung berada di rumah sakit tadi.


"Aku yang bersalah di sini bawalah aku, bukankah itu yang kamu inginkan?" ucap Agung menawarkan dirinya membuat semua orang yang ada di sana lantas terkejut bukan main.


Tawa cekikikan mulai terdengar memenuhi ruangan membuat bulu kuduk mereka lantas merinding di buatnya. Beberapa pisau nampak melayang di udara memutari boneka tersebut.


Baiklah jika kau sendiri yang menawarkannya.


Tazkia yang melihat pisau itu mulai bergerak ke arah Agung lantas bangkit dan berlari ke arah Agung berniat untuk menyelamatkannya.


"Awas pak!" teriak Tazkia sambil mencoba menggapai tangan Agung berniat untuk menariknya, hanya saja karena penglihatan yang tiba tiba datang ketika tangan keduanya bersentuhan membuat tarikan tangan Tazkia meleset dan Tazkia terhuyung jatuh ke bawah.


Beberapa pisau yang tadinya melayang lantas menembus beberapa area tubuh Agung hingga membuatnya limbung dan sekarat. Darah segar terlihat mulai mengalir membanjiri lantai membuat Tazkia yang masih terdiam karena penglihatan yang tiba tiba lantas ikut bersimbah darah.


Bruk


Boneka tersebut mendadak jatuh begitu saja ke bawah tepat setelah Agung terlihat menghembuskan nafas terakhirnya.


Faris dan Sindi lantas berlarian menuju ke arah Agung dan juga Tazkia.


"Papa!" teriak Sindi ketika berada tepat di sebelah tubuh ayahnya sudah tidak bernyawa itu.


"Beliau sudah pergi" ucap Faris setelah mengecek keadaan Agung barusan, sedangkan Sindi yang mendengar hal itu lantas langsung memeluk jasad ayahnya sambil menangis tersedu.


"Maafkan Sindi pa... maafkan Sindi... hua papa..." ucapnya dengan tangisan yang tersedu sedu menyesali perbuatannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2