Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Ending


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Kepergian Tazkia yang begitu tiba tiba menyisakan sejuta luka di hati semua orang. Semua nampak berbeda sejak kepergian Tazkia, tidak ada lagi canda tawa yang menghiasi hari hari mereka.


Suasana kampus begitu terasa hampa tanpa adanya Tazkia yang selalu bersama melewati suka duka keseharian mereka. Prasetia, Aditya dan juga Sinta terlihat melangkahkan kaki mereka dengan lunglai mengambil duduk di sekitaran pagar area rooftop. Ya semenjak kepergian Tazkia, rooftop adalah tempat tongkrongan mereka untuk sekedar melepas penat ketika menghadapi tugas kuliah maupun ketika ketiganya merindukan Tazkia.


Suasana nampak hening tidak ada pembicaraan sama sekali yang terjadi di antara ketiganya, hanya helaan nafas yang terus terdengar saling bersahutan dari ketiganya.


"Harusnya gue waktu itu ikut masuk ke dalam ruangan itu bersama lo dan Kia..." ucap Prasetia dengan nada sendu di setiap ucapannya, mulai membuka pembicaraan.


"Harusnya gue tidak tidur di saat itu dan ikut pergi bersama dengan kalian." ucap Aditya yang juga ikut menyesali perbuatannya waktu itu yang malah memilih untuk tidur dan membiarkan ketiganya bergerak sendirian tanpa dirinya.


"Tidak.. yang salah di sini adalah gue yang tidak bisa menjaga Kia dan membiarkannya di bawa oleh Faris begitu saja, pria brengsek, bajingan dan sok polos itu benar benar membuat ku muak dan membencinya." ucap Sinta dengan emosi.


"Kita semua salah di sini... gue salah, Aditya salah, dan lo juga salah Sin... jadi mari kita hentikan penyesalan kita. Semakin kita meratapinya entah mengapa rasanya malah semakin berat untuk melangkah." ucap Prasetia kemudian yang lantas membuat Aditya dan juga Sinta terdiam ketika mendengar hal tersebut.


Setelah mendengar ucapan Prasetia barusan, baik Aditya dan juga Sinta lantas terdiam seribu bahasa menyelami pikiran mereka masing masing. Kehilangan Tazkia benar benar membuat kacau segalanya, tidak ada lagi tawa maupun candaan yang terdengar ketika mereka berkumpul bersama.


Hingga tak berapa lama Aditya nampak bangkit, membuat keduanya lantas menoleh ke arahnya dengan tatapan yang penasaran.


"Gue balik dulu kalau begitu..." ucap Aditya dengan singkat, membuat Sinta lantas ikut bangkit ketika mendengar ucapan Aditya barusan.


"Gue ikut Dit, lo gimana Pras?" tanya Sinta kemudian.


"Kalian cabut saja duluan gue masih ada urusan sebentar." ucap Prasetia yang di balas keduanya dengan anggukan.


Setelah memutuskan untuk pulang, Aditya dan Sinta melangkahkan kaki mereka meninggalkan Prasetia seorang diri di sana dengan seribu kegundahan di hatinya.


"Tumben tante Arini ngajak ketemuan? apa ada sesuatu ya?" ucap Prasetia mencoba menerka nerka setelah tadi ia mendapat pesan dari Arini.


****


Mansion milik Tazkia


Setelah Prasetia mendapat pesan dari Arini, ia langsung menuju ke mansion Tazkia secepat mungkin. Ada perasaan penasaran sekaligus bertanya tanya yang mendadak muncul pada diri Prasetia setelah mendapat pesan singkat tersebut.

__ADS_1


Prasetia yang sampai satu jam kemudian di mansion Tazkia, lantas langsung di sambung hangat oleh Arini dan di tuntun masuk ke dalam, perlakuan Arini yang seperti itu membuat Prasetia semakin di buat penasaran ada maksud apa sebenarnya Arini mengundangnya kemari.


Arini terlihat melangkahkan kakinya dari arah dapur dengan membawa secangkir teh untuk Prasetia kemudian menaruhnya tepat di meja ruang tamu.


"Makasih tan" ucap Prasetia dengan sopan.


"Bagaimana kuliah mu? lancar Pras?" tanya Arini basa basi mulai membuka pembicaraan di antara keduanya.


"Lancar tan, mungkin kalau tidak ada halangan bulan depan Pras sudah mulai menulis skripsi." ucap Prasetia mencoba sebisa mungkin tersenyum ramah walau dalam hatinya perasaan bertanya terus saja berputar di kepalanya.


"Tante ikut seneng dengernya kalau begitu." ucap Arini sambil tersenyum lega ketika mendengarnya.


"Ngomong ngomong ada apa ya tan, tante memanggil Pras kesini?" tanya Prasetia kemudian.


Mendengar pertanyaan tersebut Arini nampak terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu, hingga kemudian terdengar helaan nafas yang berasal dari Arini. Arini nampak mengeluarkan sesuatu kemudian memberikannya kepada Prasetia.


"Bukankah ini liontin pemutar waktu?" ucap Prasetia dalam hati ketika menerima benda pemberian Arini barusan.


"Tante menitipkan ini untuk mu, pakailah dengan bijak. Tante tahu kamu orang yang baik." ucap Arini dengan nada yang ambigu membuat Prasetia lantas menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung.


Mendengar ucapan Prasetia barusan membuat Arini kembali tersenyum. Arini tahu bahwa Prasetia mengetahui dengan jelas benda apa itu, penolakan yang di lakukan oleh Prasetia barusan membuat Arini semakin yakin bahwa Prasetia adalah orang yang cocok untuk memilikinya.


"Ambillah... tante percayakan padamu." ucap Arini meyakinkan kembali Prasetia agar mau menerimanya.


Melihat Arini yang terus meminta dirinya untuk menjaga liontin tersebut, membuat Prasetia pada akhirnya mau menerima liontin itu.


Setelah Prasetia menerima liontin tersebut, pembicaraan keduanya terus berlangsung cukup lama. Hingga kemudian setelah di rasa cukup lama Prasetia pamit undur diri dari sana.


**


Setelah kepergian Prasetia dari sana, Irawan nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arini.


"Apa kamu yakin Prasetia bisa melakukannya ma?" tanya Irawan kepada sang istri yang masih menatap kepergian Prasetia dari ambang pintu utama.


"Kita hanya bisa bertaruh pada takdir pa, aku yakin pertemanan mereka berempat lebih dari apa yang kita pikirkan, percayalah kepada mereka... mama yakin mereka bisa melakukannya." ucap Arini dengan nada yang penuh harap di setiap ucapannya.

__ADS_1


"Semoga saja begitu ma.." ucap Irawan sambil mengusap pelan pundak istrinya seakan menyalurkan energi positif untuk sang istri.


***


Sementara itu di mansion milik Prasetia.


Setelah kepulangannya dari mansion Tazkia, Prasetia merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Pikirannya melayang jauh membayangkan kembali semua obrolannya bersama dengan Arini tadi.


Entah mengapa Prasetia merasa setiap perkataan yang keluar dari mulut Arini memiliki sebuah arti tertentu yang Prasetia sendiri tidak tahu apa itu.


Prasetia menatap ke arah liontin pemberian Arini tadi dengan tatapan yang menelisik. Hingga kemudian sebuah pikiran yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya lantas langsung terlintas di benaknya.


"Haruskah aku menyelamatkan mu Ki?" ucapnya kemudian sambil menatap ke arah liontin tersebut yang terlihat sedikit bersinar ketika ia tatap semakin dalam.


...End...


Terima kasih bagi yang sudah mengikuti petualangan Tazkia dan kawan kawan, sampai jumpa di petualangan petualangan selanjutnya yang akan membuat hati kalian berdebar karena kengeriannya.


Mampir ke karya author yang lainnya...



Bodohnya aku yang percaya akan cinta


Bisakah kau buka hatimu untukku


Ku sangka kau malaikat


Alia (Apakah kamu baik baik saja?)



Sampai jumpa di karya karya yang author berikutnya...


see you... 😘

__ADS_1


__ADS_2