Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Terjebak 4 hari 3 malam ~Misteri villa nenek #12


__ADS_3

Panas mentari semakin terik menyengat tepat di ubun ubun mereka, perbekalan milik Aditya benar benar sudah habis kali ini, rasa putus asa mulai menggelayut memenuhi pikiran mereka masing masing.


"Aku sudah tidak sanggup lagi!" ucap Aditya sambil mengangkat tangannya dan duduk kelesotan di bawah.


Melihat Aditya sudah di bawah, Prasetia dan Sinta pun ikut luruh ke bawah rerumputan hijau yang terbentang luas di sekeliling mereka. Ketiganya lantas merebahkan diri mereka di sana, sambil memandang teriknya mentari di kala rasa lelah dan putus asa bercampur menjadi satu memenuhi hati mereka.


"Sepertinya kita akan mati di sini." ucap Aditya kemudian.


"Ya maybe, kaki gue sudah tidak bertenaga sama sekali." ucap Prasetia yang ikut ikutan pasrah.


"Ada apa dengan kalian geis, katanya mau berjuang kok cepat banget nyerahnya?" ucap Sinta namun dengan nada yang lirih.


Keduanya terdiam mendengar perkataan Sinta barusan, entahlah kenapa rasanya kaki mereka sudah tidak bertulang lagi, padahal jika di hitung mereka hanya nyasar selama sehari semalam, namun rasanya seperti sudah berhari hari mereka tak menemukan jalan keluar, bukankah itu aneh?


"Apakah kalian yakin ingin menyerah sekarang?" ucap Faris yang tiba tiba muncul menutupi teriknya mentari yang menyinari ketiganya.


"Sepertinya kita sedang halusinasi, bahkan gue melihat wajah Faris." ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh Sinta dan juga Aditya.


Mendengar ucapan Prasetia yang ngelantur membuat Faris lantas mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Hei bangunlah! jika kamu mati sekarang, siapa nanti yang akan bersaing cinta denganku?" ucap Faris.


Mendengar hal itu baik Prasetia, Sinta dan juga Aditya langsung bangkit dan menatap ke arah sumber suara yang awalnya mereka kira hanya halusinasi saja.


"Dokter Farisssssss!" teriak Aditya kala melihat itu benar benar adalah Faris.


*********


Di villa nenek Tazkia.

__ADS_1


Tazkia sedang bersantai di halaman depan menikmati indahnya hamparan pohon pinus yang berjajar rapi di sepanjang villa, rasa penyesalan sepertinya mulai hinggap kala ia menyuruh Faris untuk kembali ke Jakarta tadi pagi, jika Tazkia tahu ia akan kesepian tentu ia tidak akan mendorong dan meyakinkan Faris agar berangkat kembali pulang demi melaksanakan tugasnya.


"Ah tidakkah aku terlalu egois? jika menginginkan Faris tetap di sini." ucapnya pada diri sendiri.


"Kia!"


Tazkia bangkit berdiri kala mendengar teriakan seperti suara teman temannya, di tatapnya sekeliling mencari sumber suara dan pandangannya terhenti kala melihat ketiga sahabatnya berlarian mendekat ke arah tempat Tazkia berdiri.


**


Di meja makan nampak ketiganya tengah asyik menyantap makanan dengan lahap seperti orang yang sudah lama tidak makan, sedangkan Tazkia hanya melihat ketiganya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Sejak kapan kalian tersesat di hutan? kenapa tidak mencoba mengabari?" tanya Tazkia sambil menatap ke arah ketiga sahabatnya secara bergantian.


"Kami tersesat kira kira sehari semalam, udah kami coba untuk menghubungi mu tapi selalu tidak dapat sinyal, ketika kami ingin coba lagi baterai ponsel gue habis." ucap Prasetia sambil meminum jus di gelas yang terletak di hadapannya.


"Sebentar, sepertinya kalian salah hitung hari deh, sekarang adalah weekend! logikanya jika kalian tersesat semalam dan berangkat hari rabu pagi pasti kalian akan berada di sini pada hari kamis sore atau gak paling lambat jum'at pagi, bukankah begitu?" ucap Tazkia.


Prang


Suara ayam goreng terjatuh ke piring ketika sedang di gigit Aditya karena saking terkejutnya mendengar ucapan Tazkia barusan, ketiganya lantas saling pandang satu sama lain, jika memang yang di ucapkan Tazkia benar itu artinya mereka tersesat bukanlah sehari semalam melainkan 4 hari 3 malam. Pantas saja lutut mereka terasa sangat lemas dan tidak lagi bertenaga ketika tadi pagi Faris menemukan mereka bertiga.


"Setelah makan sebaiknya kalian istirahat." ucap Tazkia yang tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena Tazkia berpikir kemungkinan terbesarnya ketiga temannya ini di bawa masuk ke alam gaib sampai terakhir kali di temukan oleh Faris.


Awalnya Tazkia tidak yakin, namun setelah mendengar penjelasan dari ketiganya barulah Tazkia dapat menarik kesimpulan tentang apa yang tengah terjadi pada ketiganya.


********


Rumah sakit Harapan Bunda.

__ADS_1


Terlihat Faris melangkahkan kakinya dengan lunglai menuju ke ruangannya, ya hari ini benar benar sungguh melelahkan, perjalanan yang cukup jauh antara villa ke ibu kota saja sudah sangat melelahkan, sedangkan kini harus di tambah dengan tugas yang datang bertubi tubi. Faris menyelesaikan pekerjaannya tepat pada pukul 3 pagi, karena perjalanan panjang yang ia tempuh hampir memakan waktu seharian sehingga membuat pekerjaannya tertunda, meski beberapa rekan dokter sudah membantunya tapi tentu saja itu belum cukup, karena kecelakaan kali ini merupakan dalam skala besar.


Faris mengistirahatkan sejenak pinggang serta kakinya yang sedikit sakit karena terlalu lama berdiri. Pikirannya jauh melayang memikirkan tentang bagaimana cara menyelamatkan Kia dari makhluk bernama Wowo itu.


"Bahkan namanya saja tidak keren, mana bisa dia yang bukan manusia bersaing dengan ku." ucap Faris dengan kesal.


Di saat Faris tengah memikirkan cara yang ampuh untuk mengusir arwah yang menyukai Tazkia, mendadak lampu ruangannya menjadi gelap dan terang dengan selang waktu beberapa detik, hawa dingin perlahan masuk dan menusuk ke pori pori kulit Faris.


"Aku sedang lelah, jangan ganggu aku kali ini saja." ucap Faris yang jelas tahu pertanda apa barusan.


Tepat setelah Faris mengatakan hal itu, dari arah pintu ruangannya perlahan muncul sosok yang menembus pintu membuat Faris memutar bola matanya jengah karena kemunculan sosok di depannya ini benar benar tidak tahu situasi dan kondisi sama sekali.


"Aku bisa membantu mu, asal kamu membantu ku."


Ucap sosok yang menembus pintu tadi dengan wujud seorang wanita berambut panjang, mengenakan dress berwarna abu abu, namun sebagian kulitnya sudah melepuh dengan luka bakar yang mengerikan.


"Aku tidak percaya dengan setan seperti kalian!" ucap Faris santai.


Melihat Faris tak tergiur sama sekali dengan penawarannya, sosok tersebut lantas bergerak semakin dekat dengan Faris, dengan cara menghilang kemudian muncul menghilang lagi kemudian muncul dan semakin mendekat ke arah Faris hingga wajahnya yang setengah rusak itu berada di depan wajah Faris dengan jarak yang tersisa hanya 5 senti saja.


Terkejut? tentu saja, siapa yang tidak terkejut kala mendapati penampakan sejelas dan sedekat itu, hanya saja Faris sebisa mungkin mencoba untuk tetap tenang dan bersikap seakan tidak terjadi apa apa.


"Bantulah aku! bantulah aku!"


Ucapnya lagi secara berulang membuat kepala Faris seperti hendak meledak karena sosok itu terus saja mengganggunya di sela sela waktu istirahatnya.


"Katakan ada apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2