Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Hanya bunga tidur


__ADS_3

Keesokan paginya.


Faris yang memang sudah mengantongi izin cuti dari rumah sakit, lantas dengan wajah yang sumringah mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju kembali ke villa nenek Tazkia.


Alunan musik mp3 yang kebetulan tengah memutar lagu milik Rizky febian dengan judul hingga tua bersama, menambah suasana hati Faris seakan melayang membayangkan wajah Tazkia yang beberapa hari ini tidak ia jumpai karena pekerjaannya.


Sampai kemudian ia terpaksa harus menghentikan laju mobilnya secara mendadak, kala melihat sesuatu seperti bayangan tiba tiba melintas di depannya membuatnya sedikit terkejut karena mengira telah menabrak seseorang.


Faris bergegas keluar dari mobil untuk mengecek yang barusan itu benar benar manusia atau memang hanya halusinasinya saja, namun ketika dirinya sudah berada di luar dan memutari mobilnya tidak ada siapapun di sana membuat Faris lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Menyadari tidak ada apapun di luar perlahan Faris melangkahkan kakinya menuju pintu mobil untuk kembali melajukan mobilnya menuju ke villa nenek Tazkia.


"Sepertinya yang tadi hanya firasat ku saja." ucap Faris sambil kembali fokus berkendara menatap jalanan sekitar.


********


"Faris!" teriak Tazkia ketika terbangun dari tidurnya.


Bulir bulir keringat sudah membasahi dahi serta baju tidurnya karena mimpi buruk yang ia alami barusan, bagaimana tidak? dalam mimpinya Tazkia melihat mobil yang di tumpangi Faris melesat dengan kencang membelah jalanan, namun tidak beberapa lama terlihat kabut tebal menutupi penglihatan Faris hingga ia kehilangan kendali dan mobil yang ia tumpangi terperosok masuk ke dalam jurang dan meledak.


Membayangkannya saja sudah membuat jantung Tazkia berdegup dengan kencang, bagaimana jika itu benar benar terjadi? Tazkia pasti akan merasa hancur bahkan mungkin lebih hancur ketika Ratmi meninggal kala itu.


"Hhhhhhhhhhhh gue hanya bermimpi! ya hanya mimpi, dan benar benar mimpi." ucap Tazkia pada diri sendiri meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik baik saja.


Perlahan Tazkia mengusap peluh di dahinya kemudian meminum segelas air putih di atas nakas, untuk menenangkan hatinya yang masih gelisah memikirkan tentang Faris.


Tazkia kemudian mengambil ponselnya yang berada di dekat bantalnya ingin menghubungi Faris dan menanyakan kabarnya, namun belum sempat menelpon ketika Tazkia menatap ke layar ponselnya sama sekali tidak ada sinyal membuat Tazkia semakin putus asa memikirkan tentang Faris.

__ADS_1


"Ah di bawah kan ada telpon duduk, sebaiknya gue segera mandi dan bergegas ke bawah." ucap Tazkia dengan gembira seakan menemukan oase di gurun yang tandus.


**


Di ruang tengah villa terlihat Tazkia tengah menelpon menggunakan telpon duduk, Tazkia menunggu dengan gelisah panggilan telponnya di angkat oleh Faris.


"Halo"


"Syukurlah aku kira sedang terjadi sesuatu, kamu sedang apa?" tanya Tazkia sedikit bisa bernafas lega.


"Kia? Ada apa ini? kenapa nada bicaramu nampak gelisah?"


"Tak apa, hanya saja aku baru bermimpi buruk tentang kamu." ucap Tazkia.


"Tenanglah aku baik baik saja, sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju villa, kamu tunggu aku ya." ucap Faris sambil tersenyum yang tentu saja tidak bisa terlihat oleh Tazkia saat ini.


"Baiklah aku akan menunggumu, jaga diri baik baik." ucap Tazkia kemudian mengakhiri telponnya.


"Tidak semua yang gue impikan menjadi kenyataan? masih ada beberapa yang hanya menjadi bunga tidur dan gue yakin mimpi kali ini hanyalah sebuah bunga tidur." ucapnya dengan nada penuh keyakinan.


Tazkia kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, atmosfir aneh mulai terasa kala Tazkia melangkahkan kakinya menuju meja makan, bukan karena hal gaib melainkan ketiga temannya yang tampak aneh di meja makan, Prasetia dan Aditya nampak diam dengan raut wajah yang tidak bisa terbaca.


Tazkia mengambil duduk di sebelah Sinta bermaksud menanyakan tentang sikap keduanya yang nampak aneh, namun ternyata Sinta juga tidak mengetahui penyebabnya sama sekali.


"Nenek lo gak ikut sarapan lagi Ki?" tanya Prasetia tiba tiba memecah keheningan.


"Kalau sarapan, nenek gak bakal ikut mungkin nanti malam." ucap Tazkia. "Btw ada apa dengan leher lo Pras? apakah terjadi sesuatu?" imbuhnya kala melihat ada luka lebam di leher Prasetia.

__ADS_1


Sinta dan Aditya yang mendengar hal itu tentu saja langsung menoleh ke arah Prasetia, dan mereka juga baru tahu tentang luka itu meski telah bersama Prasetia sejak tadi.


"Oh ini, kemarin ada makhluk yang iseng dan ingin bermain dengan gue, tapi gue beruntung karena ada nenek lo yang nyelamatin gue karena suara tongkatnya." ucap Prasetia dengan tertawa garing seakan itu bukan masalah besar.


"Apa makhluk dengan mata merah menyala?" tanya Aditya tiba tiba yang lantas membuat ketiganya menatap ke arahnya dengan penasaran.


"Matanya memang merah menyala, hanya saja wujudnya persis sama seperti gue." ucap Prasetia.


Sedangkan Tazkia yang mendengar hal itu tentu saja tersentak, pikirannya kembali melayang jauh kepada sosok yang menyerupai Faris kala itu dengan mata merah menyala.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Tazkia penasaran mencoba mencocokkan dengan apa yang ia alami.


"Sosok itu tiba tiba melesat dan mencekik gue sambil mengatakan tentang kesayangannya dan..." ucap Prasetia sambil mengingat ingat namun keburu di potong oleh Aditya.


"Dan sosok itu mengatakan dia membenci kita dan menyuruh untuk pergi menjauh dari kesayangannya, bukankah begitu?" ucap Aditya menebak.


"Lo tau dari mana?" tanya Prasetia yang terkejut akan ucapan Aditya barusan.


Mendapat pertanyaan dari Prasetia barusan membuat Aditya menghela nafasnya panjang, kemudian ia memulai menceritakan kejadian kemarin ketika ia di seret oleh makhluk itu dan di lempar ke dahan pohon. Ketiganya yang mendengarkan dengan seksama cerita Aditya, lantas merasa bersalah karena menjadikannya sebagai bahan candaan kemarin, kini baik Prasetia, Sinta dan juga Tazkia akhirnya mengerti kenapa Aditya kemarin nampak marah sekali kala Prasetia menarik kakinya walau hanya bercanda dan main main.


"Gue benar benar minta maaf Dit, gue sungguh gak tahu soal itu, gue kira kemarin lo memang ketiduran di atas pohon bukan mengalami kejadian seperti yang lo ceritakan." ucap Prasetia dengan nada yang tulus karena ia merasa kelakuannya kemarin sudah sangat keterlaluan.


"It's oke lagi pula semua sudah berlalu, yang harus kita pikirin sekarang adalah siapa kesayangan yang dimaksud makhluk itu?" ucap Aditya.


"Iya lo bener, dan satu hal lagi untuk kalian berdua sebaiknya lebih hati hati lagi, gue takut mangsa selanjutnya adalah kalian berdua." ucap Prasetia memperingatkan Sinta dan juga Tazkia.


Tazkia terdiam ia bimbang antara mengatakan yang sebenarnya atau tidak, sampai kemudian ia memutuskan untuk memberitahu semuanya kepada ketiga sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada sesuatu yang kalian harus tahu..." ucap Tazkia dengan ragu ragu yang lantas membuat ketiga sahabatnya menatap ke arahnya dengan raut wajah penasaran.


Bersambung


__ADS_2