
"Cepat keluar dari tubuh itu! kau tidak berhak berada di sana!" teriak Faris yang lantas mendapat tatapan tajam dari Sinta.
"Aaaaaaaaaaaaaaa" teriak Sinta dengan nyaring membuat Faris dan juga Prasetia dengan spontan menutup kedua telinga mereka.
Seluruh kaca mendadak pecah dan berserakan kala teriakan Sinta menggema memenuhi ruangan kamar tersebut, benar benar berantakan seperti telah di guncang gempa dengan kekuatan yang dahsyat.
"Lepaskan aku!" teriaknya lagi dan lagi dengan kesetanan.
"Tidak akan pernah!" ucap Faris.
Faris kemudian mengambil ponselnya dan memutar muratal pembersih jiwa dan beberapa bacaan semacam merukiah diri secara manual. Niat hati agar sosok yang mendiami Sinta kesakitan lalu pergi tapi nyatanya tidak, sosok dalam diri Sinta semakin menjadi jadi.
Sinta tertawa cekikikan dengan suara cukup keras sambil menirukan isi muratal di ponsel Faris, dan detik selanjutnya ponsel itu terlempar jauh tepat di sebelah Faris dan Prasetia berdiri.
"Kalian pikir itu akan mempan? jika hanya begitu aku juga bisa hahahahahaha." ucap Sinta dengan tawa yang menggema.
"Bagaimana ini dok?" tanya Prasetia yang melihat Sinta semakin menjadi.
"Saya juga bingung, karena saya juga tidak pernah menangani kesurupan secara langsung." ucapnya.
"Apa kita panggil seorang ustad dok?"
"Mana ada ustadz di lingkungan perumahan ini? kita harus pergi ke daerah dulu dan itu pasti akan memakan waktu, mana cukup?" ucap Faris dengan nada yang frustasi.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita tunggu Tazkia sebentar lagi." ucapnya.
Mendengar percakapan keduanya membuat Sinta lagi lagi tertawa dengan keras kemudian ranjang itu jatuh dari atas dengan suara yang menimbulkan dentuman keras, setelah itu seperti di seret dan mendekat ke arah Faris dan juga Prasetia.
"Teman mu itu sudah membuat perjanjian, apa yang dijanjikan tidak akan bisa di tarik lagi hahahaha." ucap Sinta lagi kemudian ranjang itu kembali mundur dan melayang disertai dengan tawa cekikikan.
"Perjanjian apa yang dimaksud?" ucap keduanya bertanya tanya.
Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamar itu, Prasetia dan juga Faris yang mendengar hal itu cukup terkejut karena ketika mereka melihat langkah siapa itu ternyata adalah milik Ratmi.
__ADS_1
"Mbok Ratmi?" ucap Prasetia dan juga Faris secara bersamaan dengan saling pandang satu sama lain karena melihat gelagat Ratmi yang menurut mereka aneh dengan pandangan yang kosong.
Seiring dengan beragam pertanyaan yang timbul di benak keduanya perlahan senandung lingsir wengi kembali terdengar.
"Pras tutup telinga, jika ada pakai headset sekarang!" peringat Faris tiba tiba.
"Ada apa dok?"
"Lakukan saja!"
Lingsir wengi, sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang, ngerindhu ati
Kawitane mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane, aku dhewe kang nemahi
Sambat sambat sapa
Ratmi terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang itu berada, seiring dengan kedatangan Ratmi ranjang yang tadinya melayang perlahan mulai turun sedangkan Sinta tersenyum melihat kehadiran Ratmi.
"Bukankah sesuatu yang berharga milik seseorang lebih enak? ketimbang sebuah tumbal yang ku dapat sendiri hahahaha." ucap Sinta sambil tertawa menatap ke arah Ratmi.
Karena memang Faris dan Prasetia yang mengenakan headset, jadilah mereka tidak terlalu mendengar dengan jelas ucapan Sinta hanya seperti kata kata yang terputus tidak terlalu jelas namun hanya terdengar ujung ujungnya saja.
Tak berapa lama tepat setelah matahari tenggelam suasana mendadak sunyi dan hening, barang barang yang tadinya melayang seketika jatuh dan pecah, sedangkan tubuh Sinta dan Ratmi perlahan lahan limbung dan tak bergerak.
Prasetia dan Faris yang melihat hal itu lantas langsung melepas headset mereka dan berlari mendekat ke arah keduanya.
Faris mengecek keadaan Sinta dan ternyata ia hanya pingsan dan dalam keadaan yang baik. Sedangkan Prasetia mengecek keadaan Ratmi, ia sedikit tersentak kaget karena Ratmi seperti tidak bernafas.
"Dok kemarilah sebentar!" panggil Prasetia dengan raut wajah yang sudah gelisah.
__ADS_1
Mendengar hal itu Faris langsung mendekat dan mengecek keadaan Ratmi, dan benar saja Faris sedikit terkejut melihat keadaan Ratmi yang tiba tiba saja kritis. Faris kemudian memberikan pertolongan pertama berupa CPR dan juga nafas buatan untuk Ratmi secara berkala, namun hingga beberapa menit pertolongan dilakukan, detak jantung Ratmi tidak kunjung kembali, yang menandakan bahwa ia telah pergi untuk selamanya.
"Mbok Ratmi sudah pergi." ucap Faris yang lantas membuat Prasetia menatap tak percaya ke arahnya.
"Bagaimana mungkin? jelas jelas tadi mbok Ratmi masih sehat, dokter lihat sendiri bukan?" ucap Prasetia yang masih tidak percaya.
"Cepat telpon Kia dan beritahu apa yang terjadi." ucap Faris kemudian.
Tanpa keduanya sadari Tazkia dan Aditya sudah muncul tepat di depan pintu menatap ke arah keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Tazkia sambil menatap ke arah kamar orang tuanya yang sudah tak berbentuk lagi.
"Ki mbok Ratmi meninggal!" ucap Faris kemudian.
"Bagaimana mungkin, bukankah tadi..." ucap Tazkia namun terpotong kala ia mengingat perjanjian apa yang sudah ia buat dengan pria misterius itu. "Jadi sesuatu berharga milikku adalah mbok Ratmi?" ucapnya dalam hati.
Ditatapnya jari tangan Tazkia bekas tusukan jarum tadi, perlahan air matanya berlinang dengan tubuh yang lemas hingga ia langsung terduduk di lantai membuat ketiga pria tersebut bingung menatap ke arah Tazkia.
Prasetia yang melihat hal itu tentu saja tidak tega dan hendak membantu Tazkia, namun dicegah oleh Faris membuat langkahnya terhenti.
"Kamu urus mbok Ratmi dulu, aku akan membantu Kia!" ucap Faris kemudian bangkit berdiri menghampiri Tazkia.
Pikiran Tazkia benar benar kosong dan blank, perkataan pria misterius itu terus berputar di kepalanya tanpa henti, membuat kepalanya semakin terasa berat hingga tanpa sadar Tazkia memukul sendiri kepalanya. Aditya dan juga Faris yang melihat hal itu sontak terkejut dan langsung menahan Tazkia agar tidak melanjutkan aksinya.
"Hei hei ada apa Ki? jangan seperti ini." ucap Faris menenangkan Tazkia.
"Ak..aku..pembunuh..hiks hiks... aku membunuhnya.... ehhhhhh" ucapnya sambil terisak membuat ketiganya lagi lagi bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Gak kamu bukan pembunuh! kamu bukan pembunuh, tenang ya tenang." ucap Faris sambil merengkuh tubuh Tazkia yang terus meronta sambil menangis sesenggukan.
"Aku membunuhnya Ris, jangan dekati aku aku pembunuh hiks hiks..." ucap Tazkia sambil meronta ronta kemudian mendorong tubuh Faris agar melepaskannya. "Kalian jangan dekati aku! aku seorang monster, pergi kalian jauh jauh dariku." ucapnya dengan berlinang air mata kemudian berlari ke atas menuju ke arah kamarnya.
Ketiganya lagi lagi saling pandang dan bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat Tazkia begitu histeris dan terus mengulang kata pembunuh pada kalimatnya.
"Aku membutuhkan penjelasan mu tentang Kia nanti Dit!" ucap Faris kemudian melenggang pergi menyusul Tazkia.
__ADS_1
Bersambung