Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kalau kita mati, aku akan menghantui Kia ~ Misteri villa nenek #10


__ADS_3

Capek, lelah, dan frustasi kini sudah memenuhi benak ketiganya, hanya saja perasaan saling menguatkan satu sama lain menjadi dorongan mental yang tak terbatas bagi ketiganya untuk tetap terus maju dan melanjutkan langkah mereka.


Baik Prasetia, Sinta dan juga Aditya memutuskan untuk terus berjalan kali ini bukan mencari bengkel melainkan mencari villa nenek Tazkia, bukan tanpa sebab ketiganya memutuskan berubah haluan, masalahnya adalah mereka saja bahkan sudah lupa posisi mobil mereka berada, bagaimana bisa mencari bantuan jika posisi mobil mereka di mana saja mereka lupa.


Beruntung perbekalan yang di bawa Aditya di tasnya cukup banyak, meski hanya makanan ringan dan beberapa roti tapi setidaknya cukup untuk mengganjal perut mereka bertiga. Perjalanan yang mereka lakukan terus berlanjut, selangkah demi selangkah mereka tempuh untuk mencari jalan menuju villa nenek Tazkia.


"Bagaimana kalau kita tidak menemukan jalan ke villa nenek Tazkia? akankah kita mati disini?" tanya Aditya dengan tiba tiba namun dengan tawa yang receh seakan sengaja untuk menutupi ke khawatiran dalam dirinya.


Prasetia dan Sinta saling tatap mereka juga bingung harus menanggapi apa pertanyaan dari Aditya barusan. Sinta bahkan rasanya ingin sekali menyerah dan menangis sekeras kerasnya, namun rasa itu seakan sirna kala melihat semangat Aditya dan juga Prasetia yang pantang menyerah.


"Setidaknya jasad kita pasti akan ditemukan Dit, dan Tazkia akan mengenang kita sebagai sahabat sejati yang tak pantang menyerah dalam mencari keberadaannya." ucap Prasetia dengan senyum mengembang begitu pula Sinta.


"Kalau tidak ketemu?" tanya Aditya yang lantas membuat senyuman di wajah keduanya perlahan turun dan berganti dengan raut wajah yang khawatir.


"Gue akan hantui Kia sampai ia menemukan jasad kita, Kia kan bisa lihat hantu jadi gampang lah bisa diatur." ucap Prasetia dengan nada datar namun malah membuat ketiganya tertawa dengan lepas mendengar ide gila dari Prasetia yang boleh di coba jika mereka benar benar mati (pasrah banget ya? tenang saja author gak sejahat itu kok).


********


Sementara itu dengan perasaan yang kalut dan hanya di penuhi pikiran pikiran negatif, Tazkia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah halaman belakang, berniat untuk mengecek mobil Faris apakah masih ada di sana atau sudah menghilang dan kembali ke Jakarta sejak semalam.

__ADS_1


Tazkia mempercepat langkah kakinya menuju ke arah parkiran, berharap mobil Faris masih ada di sana. Dan Tazkia sedikit bernafas lega karena ketika sampai di parkiran mobil Faris masih ada di sana, Tazkia melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil Faris terparkir ingin mengecek apakah ada Faris di dalam atau tidak namun sayangnya kosong.


Tazkia kemudian menatap sekeliling mencari keberadaan Faris dan pandangannya jatuh pada sebuah bangku di halaman belakang, terlihat Faris sedang tidur dengan hanya berselimutkan jaket yang menutupi bagian atas tubuhnya saja.


Tazkia berjalan mendekat ke arah Faris, di tatapnya Faris dengan perasaan bersalah karena membuatnya sampai tidur di luar seperti ini.


"Maaf" ucap Tazkia dengan nada yang sendu.


Setelah mengatakan hal tersebut Tazkia hendak melangkah pergi dari sana, namun tanpa di duga tangan Faris menahan Tazkia dan menghentikan langkahnya.


"Apa ada yang ingin kamu jelaskan?" ucap Faris dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar hal itu Tazkia langsung menatap ke arah Faris yang masih memejamkan matanya, Tazkia sungguh bingung harus menjelaskannya bagaimana karena ia tidak yakin Faris akan mempercayai semua penjelasannya.


"Kau tahu tadinya aku sangat marah dan berniat langsung pulang kembali ke Jakarta, namun nyatanya rasa sayangku padamu terlalu besar, hingga membuatku tetap tinggal dan menunggu penjelasan mu di sini." ucap Faris sambil tersenyum kecil mengatakan hal tersebut.


Tazkia menatap wajah Faris dengan intens, ia begitu tidak menyangka bahwa Faris akan bersikap lebih dewasa dalam menghadapi segala hal, Tazkia bahkan sempat mengira bahwa Faris akan benar benar pergi dan marah padanya, namun kenyataannya sungguh di luar dugaan Tazkia. Bagaimana bisa laki laki di hadapannya ini selalu berpikir rasional dan menggunakan kepala dingin dalam segala tindakannya?


Tazkia menghela nafasnya panjang sebelum memulai cerita yang mungkin sebagian orang akan menganggapnya hanya berhalusinasi saja. Namun meski Faris percaya atau tidak percaya Tazkia tetap harus menjelaskannya, agar segala kesalahpahaman dalam keduanya dapat terkikis.

__ADS_1


Tazkia memulai ceritanya secara detail dari kejadian awal yang di mulai setelah dirinya hampir jatuh ke dalam sumur tua, rentetan demi rentetan kejadian yang dialaminya sejak awal datang ke villa hingga sosok yang menyerupai Faris dengan mata yang merah menyala tak luput dari ceritanya. Faris menghela nafas panjang setelah mendengar keseluruhan cerita dari Tazkia, Faris kemudian mengusap rambut Tazkia secara lembut dan perlahan, kemudian tersenyum yang lantas membuat Tazkia bingung akan reaksi yang diberikan Faris barusan.


"Jadi sainganku sekarang mereka yang tak terlihat?" ucap Faris dengan entengnya sambil mengulas senyum di bibirnya.


Tazkia lantas langsung menyikut Faris dan memasang muka cemberut karena kesal, yang tadinya Tazkia pikir Faris akan mengatainya hanya halu atau alasan saja, malah tidak menyangka bahwa Faris akan menggodanya seperti ini.


"Uluh uluh marah ni ceritanya?" goda Faris semakin intens yang malah membuat Tazkia kesal namun sekaligus bahagia, bercampur menjadi satu.


Ketika keduanya asyik bersenda gurau dan saling menggoda, tiba tiba saja sebuah batu kerikil mengenai kepala Faris, seperti sengaja di lempar membuat Faris sedikit meringis kesakitan sekaligus terkejut.


"Kamu gak papa?" tanya Tazkia sambil melihat siapa yang melempar kerikil itu namun tidak menemukan siapapun di sana.


"Santai saja mungkin hanya orang iseng, sebaiknya kita masuk dan sarapan aku lapar sekali dan juga butuh kehangatan." ucap Faris sambil tersenyum genit membuat wajah Tazkia langsung bersemu merah.


Faris kemudian bangkit dan menarik tangan Tazkia agar mengikutinya masuk ke dalam villa.


Tanpa Tazkia sadari baru berjalan beberapa langkah Faris nampak menoleh ke arah belakang dengan tatapan yang menghunus tajam, bukan tanpa sebab dari awal Tazkia menghampirinya ia sudah menyadari ada hawa tidak enak sedang berusaha membaur bersama mereka, yang mungkin tidak bisa Tazkia rasakan kehadirannya karena terlalu terbawa emosi tadi.


Faris tersenyum sambil terus bersyukur karena semalam ia tidak jadi meninggalkan Tazkia sendiri di sini. Faris bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Tazkia jika ia tidak berada di sisinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya, meski kau makhluk terkuat di kalangan mu pun, tetap akulah manusia yang derajatnya paling tinggi di antara kalian." ucapnya dalam hati dengan penuh api amarah.


Bersambung


__ADS_2