
Malam harinya
Sesuai kesepakatan yang di buat oleh ketiganya pada akhirnya Prasetia lah yang ikut dengan Tazkia, sedangkan Aditya bertugas untuk menemani Sinta di ruang rawat inapnya.
Aditya nampak duduk termenung dengan wajah di tekuk karena kesal tidak bisa ikut penelusuran bersama Tazkia (Ce ilah penelusuran, berasa Sara Wijayanto kališ¤). Aditya menatap Sinta yang tengah tertidur pulas di ranjang pasien kemudian melirik sekilas jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 malam.
"Harusnya kan gue yang ikut tadi, Pras benar benar menyebalkan." gerutu Aditya sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi menatap ke arah langit langit. "Astaga!" pekik Aditya ketika menghadap ke atas dirinya seperti melihat rambut panjang menjuntai hingga menutupi wajahnya membuat Aditya lantas dengan spontan bangun dan langsung berdiri mencari apa yang barusan menjuntai panjang di atap.
Aditya menatap ke arah sekeliling mencari keberadaan benda yang mirip rambut panjang itu ke sekeliling, bahkan hingga ke bawah kolong ranjang namun hasilnya tetap saja tidak ada. Sampai kemudian pandangannya tertuju pada almari, samar samar Aditya seperti melihat sesuatu yang hampir mirip dengan rambut menjuntai sedikit.
Aditya yang penasaran akan hal itu lantas dengan perlahan mendekat ke arah almari dan mencoba menarik benda tersebut.
"Loh he..." ucap Aditya dengan spontan ketika di tarik benda tersebut malah semakin memanjang seperti tidak ada habisnya.
Aditya melempar gumpalan rambut panjang tersebut ke bawah sambil bergidik ngeri, membayangkan rambut yang tidak habis ketika di tarik layaknya adegan dalam sebuah film horor yang ia tonton beberapa waktu lalu.
Aditya terdiam menatap almari tersebut dengan tatapan yang penuh penasaran. Entah ini Aditya hanya iseng atau memang bodoh, Aditya yang penasaran malah menggenggam pegangan almari tersebut bersiap untuk membukanya.
Aaaaaaaaa
Teriaknya dengan keras ketika almari tersebut di buka yang terlihat di sana adalah potongan kepala Sinta dengan posisi mata yang tengah melotot ke arahnya dengan darah yang masih menetes di area lehernya yang terputus.
Aditya yang sadar itu kepala Sinta lantas langsung menoleh ke atas ranjang dan lagi lagi di buat terkejut karena melihat tubuh Sinta yang tanpa kepala tengah terduduk dan perlahan bangkit menuju ke arahnya.
Dit kenapa kamu terkejut hihihi
__ADS_1
"Dit... Dit... Adit ..." panggil sebuah suara yang lantas menyadarkan Aditya dari mimpi buruknya dengan posisi yang terkejut dan juga bermandikan peluh.
Aditya yang bangun dan langsung melihat Sinta di hadapannya lantas langsung mengecek bagian kepala Sinta takutnya tiba tiba menggelinding dan lepas.
"Aw Dit sakit!" ucap Sinta karena Aditya sedari tadi menggoncang guncangkan tubuhnya hingga membuat tangannya yang sedang di gips sedikit ngilu karena guncangan tersebut.
"Maaf Sin... maaf.. gue hanya takut tiba tiba pala lo menggelinding ke lantai." ucap Aditya sambil bergidik ngeri ketika mengingat kembali mimpinya barusan.
"Enak aja, lo kira gue kunyang apa?" ucap Sinta dengan kesal.
"Entah itu kunyang atau hantu jeruk purut gue kagak peduli. Untung saja yang tadi hanya mimpi..." ucap Aditya barusan membuat Sinta menjadi bingung akan tingkah Aditya.
"Terserah lo, lebih baik sekarang lo ganti baju atau mandi deh baju lo basah banget tuh." ucap Sinta memberikan saran sedangkan Aditya yang mendengar hal itu lantas langsung tersenyum garing kemudian bangkit dan melangkah ke kamar mandi.
*****
Sementara itu Prasetia dan juga Tazkia yang sudah sepakat akan mengecek ambulans itu lantas langsung melangkahkan kakinya perlahan menyusuri lorong lorong rumah sakit.
Keduanya sengaja memilih waktu tengah malam karena pada saat itu keadaan rumah sakit sepi dan tidak terlalu banyak orang, mungkin hanya beberapa suster dan juga dokter jaga yang sibuk berlalu lalang mengecek pasien.
Keduanya lantas terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah parkiran menuju mobil ambulans itu berada.
"Pras bisakah lo bersikap biasa saja?" ucap Tazkia kemudian dengan nada yang lirih ketika Prasetia sedari tadi malah bersikap kaku dan menoleh ke kanan kiri setiap beberapa detik membuat seakan akan terlihat jelas Prasetia akan melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Ini gue udah biasa Ki..." ucap Prasetia namun masih sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seakan takut akan ketahuan.
__ADS_1
"Pras jalan dengan normal seperti biasa, lagi pula kita gak ngapa ngapain bukan? hanya menyentuh sebentar mobil ambulans itu lalu kembali ke ruang rawat Sinta, itukan tidak termasuk tindak kejahatan jadi rileks dan santai seperti biasa oke?" ucap Tazkia lagi memperingati Prasetia.
"Baiklah aku akan mencobanya." jawab Prasetia.
Keduanya kemudian lantas melanjutkan langkah kaki mereka ke arah parkiran, tepat setelah sampai di dekat mobil ambulans tersebut baik Tazkia maupun Prasetia langsung melipir ke arah belakang ambulans kemudian berjongkok di sana.
"Ngapain kita jongkok Ki?" tanya Prasetia namun tetap mengikuti gerakan Tazkia yang berjongkok.
"Biar gak ada yang gangguin kita nantinya." ucap Tazkia dengan nada setengah berbisik.
Sedangkan Prasetia yang mendengar hal itu lantas hanya bisa mengangguk dan menuruti ucapan Tazkia tanpa banyak protes sedikit pun.
Tazkia terlihat menarik nafasnya perlahan lalu mengusapkan kedua telapak tangannya dan mulai menyentuh bagian mobil ambulans tersebut.
Perlahan tapi pasti bayangan demi bayangan mulai terlihat sedikit demi sedikit bermunculan di kepala Tazkia. Banyak sekali kenangan atau bahkan memori yang terekam pada mobil ini membuat kepala Tazkia sedikit merasa pusing karena saking begitu banyaknya kenangan maupun tragedi yang telah di lalui mobil ini.
Dalam penglihatannya tersebut ada satu kenangan yang membuat Kinara tertarik dan lebih menjurus fokus kepada kenangan itu. Seorang laki laki kisaran umur 30 tahunan terlihat dengan bangganya menyetir mobil ambulans menjemput satu persatu korban kecelakaan. Jika di lihat dari senyuman dan semangatnya dalam membantu korban, pria ini masuk ke dalam tipe laki laki pekerja keras dan mencintai pekerjaannya.
Sampai suatu ketika sebuah deringan ponsel nampak mengubah raut wajah pria itu yang semula bahagia mendadak menjadi suram setelah menerima panggilan ponsel tersebut. Pikiran laki laki itu tampak terbagi dan tidak fokus menatap jalanan sekitar hingga membuat seorang dokter dan juga perawat di sebelahnya mengingatkannya berkali kali untuk fokus atau berhenti sejenak untuk menenangkan diri karena memang posisi mereka yang baru saja berangkat hendak menjemput pasien.
Dalam penglihatan Tazkia entah dari mana mulanya mendadak mobil yang di kendarai pria itu oleng sehingga membuat pria tersebut terkejut dan banting stir ke kiri kemudian berakhir menabrak pembatas jalan.
"Ki are you ok?" tanya Prasetia ketika melihat peluh keringat membasahi dahi Tazkia hingga membuat rambut bagian depan Tazkia basah terkena keringat.
Bersambung
__ADS_1