Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Ada yang aneh dengan perjalanan kita ~ Desa tanjung tari #4


__ADS_3

Tazkia dan kawan kawan kemudian di antar ke salah satu rumah yang akan mereka tempati selama tiga bulan kedepannya, bangunan rumah tersebut tidak dari bambu seperti rumah rumah yang di tinggali warga lainnya, melainkan rumah dengan pondasi batu bata namun dengan arsitektur kuno dan nampak sederhana dari bagian luarnya.


" Ini kuncinya nak Pras, kalian bisa istirahat terlebih dahulu dan memulai kegiatannya esok hari, di dalam ada 3 kamar, satu kamar mandi serta dapur, hanya minus televisi saja maklum lah nak sudah lama tidak di tempati jadi beberapa barang sudah tidak berfungsi dengan baik." ucap Harjo.


" Iya mbah tidak apa, ini sudah lebih dari cukup." ucap Prasetia.


" Baiklah mbah tinggal dulu ya, kalau butuh apa apa rumah mbah ada di ujung sebelah sana kalian bisa mampir ke sana." ucap Harjo sambil menunjuk ke arah rumah di ujung jalan sana.


" Baik mbah" ucap Prasetia.


Setelah obrolan ringan itu Harjo melangkahkan kakinya meninggalkan mereka menuju ke rumahnya.


*****


Tazkia dan yang lainnya perlahan memasuki rumah tersebut, ketika masuk di dalam mereka tidak melihat adanya furnitur apapun yang terpajang di dalamnya, hanya ada sebuah ruang kosong yang mungkin berfungsi sebagai ruang tamu namun tanpa adanya kursi dan perkakas lainnya benar benar kosong hanya ada karpet yang terpasang di lantai rumah tersebut.


Dari arah depan nampak di bagian kanan terdapat 3 kamar yang saling berdekatan dan hanya terpisah oleh masing masing dinding rumah, sedangkan di sebelah kirinya terdapat pintu seperti akses untuk ke arah samping rumah, terdapat juga pembatas tembok yang menyisahkan sedikit ruang untuk pintu namun tanpa daun pintu atau di biarkan terbuka tepat di sebelah kamar paling ujung. Yah terlihat sangat sederhana namun masih nyaman untuk ditinggali, berbeda halnya dengan Tazkia entah mengapa perasaan yang Tazkia rasakan saat memasuki rumah ini benar benar berbeda seperti hawa aneh langsung menyapa ke arahnya namun Tazkia tidak tahu apa itu.


" Yah setidaknya ruangannya bersih meski agak menyeramkan." ucap Aditya.


" Tidak ada yang lebih menyeramkan ketimbang muka lo dit." ucap Sinta dengan tawa terkekeh membuat Aditya langsung berwajah masam.


" Kampret lo Sin." balas Aditya.


" Sudah sudah kalian memang tidak pernah akur ya." ucap Tazkia menengahi.


" Baiklah geis, karena di rumah ini terdapat tiga kamar maka akan gue bagi untuk kamar pertama akan di tempati oleh Aldo dan Doni, kamar kedua Sinta dan juga Tazkia, sedangkan kamar terakhir akan gue dan Aditya tempati, bagaimana apa ada yang keberatan?" ucap Prasetia memberikan instruksi yang dibalas gelengan oleh semua orang menandakan mereka setuju dengan saran Prasetia.

__ADS_1


" Kalau begitu silahkan kalian istirahat nanti sore kita kumpul dan berdiskusi tentang planning esok hari." ucap Prasetia lagi.


Setelah menerima instruksi dari Prasetia satu persatu mulai meninggalkan tempat dan masuk ke dalam kamar masing masing.


*****


Di kamar yang di tempati Sinta dan juga Tazkia.


Tazkia dan Sinta meletakkan barang bawaan mereka di samping kasur, tidak ada ranjang di ruangan itu melainkan hanya kasur yang di letakkan di lantai, terdapat satu meja rias di sana dan juga lemari di dekat pintu masuk.


Tazkia perlahan mulai merebahkan diri ke kasur mencoba untuk beristirahat setelah perjalanan panjang dan juga melelahkan itu di susul Sinta yang juga ikut merebahkan dirinya di sebelah Tazkia.


" Lo ngerasa aneh gak sih ki?" tanya Sinta tiba tiba.


" Tentang?"


" Yah tentang semuanya, mulai dari perjalanan kita, Prasetia yang ada dua, dan desa ini. Lo ngerasa gak sih bahkan rumah ini pun terasa aneh?" ucap Sinta sambil membalik tubuhnya menjadi tengkurap kemudian menatap ke arah Tazkia.


" Kecuali apa?"


" Kecuali bapak bapak yang memakai baju koko dengan sarung hijau kemarin yang mengajak kita ke surau, lo pasti gak bakalan nyangka kalau gue bilang di saat Prasetia berbincang dengan bapak bapak itu, orang tersebut melakukan telepati dengan gue." ucap Tazkia acuh karena ia yakin Sinta pasti akan menganggapnya halu.


" Yang bener lo?"


" Seriusan, udah ah kalau lo gak percaya juga gak papa tidur aja istirahat." ucap Tazkia kemudian balik menghadap ke kiri dan memunggungi Sinta.


Sinta yang melihat hal itu tentu saja kesal, bisa bisanya ketika rasa penasaran sudah sampai ke ubun-ubun Tazkia malah pakai acara ngambek gak jelas. Dengan kesal Sinta kemudian menarik lengan Tazkia agar menghadap kembali ke arahnya.

__ADS_1


" Gini yah nona muda Tazkia yang terhormat, budayakan kalau lo mau cerita lanjutkan sampai khatam jangan setengah setengah lo kira lagi beli nasi bungkus setengah porsi, sebel gue lama lama sama lo." ucap Sinta nyerocos.


" Kok jadi elo yang ngambek?"


" Lah karena lo nyebelin sih." ucap Sinta dengan kesal. " Gini ya ki sebenarnya gue antara percaya dan gak percaya, hanya saja setelah beberapa kali kejadian demi kejadian gue alami gue perlahan mulai menerima ketidakbiasaan itu, jadi lo jangan salah faham dulu karana gue juga butuh waktu untuk mencerna hal hal yang berbau mistis." imbuhnya.


" Wah gila ini benar benar Sinta? tumben bijak." goda Tazkia.


" Lo ngomong gitu lagi gue tampol lo." ucap Sinta sambil mendengus kesal. " Jadi apa yang elo bicarakan dengan bapak bapak itu ketika sedang bertelepati?" tanya Sinta kemudian.


" Gak banyak sih, beliau hanya menasehati gue agar lebih jaga diri dan lain sebagainya, namun di akhir kalimatnya ada sesuatu yang membuat gue bertanya tanya, entah maksud beliau apa? beliau mengatakan bahwa gue harus menjaga dan terus memperhatikan kalian, terutama Aldo dan Doni karena kedua anak itu seperti tengah merencanakan sesuatu." ucap Tazkia.


" Seriusan? yang bener loh!" teriak Sinta tiba tiba membuat Tazkia langsung membekap mulut Sinta dengan spontan karena takut Aldo dan Doni mendengarnya.


Bruk


Suara pintu dibuka dengan keras membuat Tazkia dan juga Sinta terkejut mendengarnya.


" Kalian ngapain sih? bikin spot jantung aja!" ucap Aditya dengan kesal menatap ke arah Tazkia dan juga Sinta yang ternyata malah asyik bermain sedangkan ia dan juga Prasetia mengira tengah terjadi sesuatu dengan keduanya.


Mendengar teriakan Aditya, Tazkia kemudian lantas melepas tangannya dari mulut Sinta.


" Tidak ada apa apa, tadi hanya ada kecoa jadi Sinta berteriak." dalih Tazkia.


" Lo yakin? jika hanya itu nanti gue akan mengurusnya lebih baik kalian pergi istirahat dulu saja." ucap Prasetia kemudian menarik Aditya untuk keluar dari sana dan menutup pintu kamar.


" Lo sih Sin, di sini bukan mansion yang mempunyai dinding kedap suara, jadi lebih baik kita bicara dengan nada pelan atau gue tidak akan melanjutkan ceritanya lagi." ucap Tazkia.

__ADS_1


" Iya iya gue janji kali ini akan lebih pelan."


Bersambung


__ADS_2