Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Senyuman itu hanya sebuah kepalsuan?


__ADS_3

Keesokan harinya Tazkia bersiap untuk pergi ke ruang terapi, Arini mendorong kursi roda Tazkia secara perlahan menyusuri lorong lorong rumah sakit pagi itu.


" Selamat pagi." sapa dokter Faris dengan tersenyum ramah ke arah Arini dan Tazkia begitu melihat keduanya memasuki ruangan terapi.


" Pagi dok." ucap Arini sambil tersenyum ramah. " Mama tinggal dulu ya nak." sambung Arini yang lantas di balas anggukan oleh Tazkia.


Beberapa saat kemudian setelah kepergian Arini dokter Faris lantas mulai berjalan mendekat ke arah Tazkia berada.


" Apa kamu sudah siap?" tanya Faris sambil terus melangkah ke arah Tazkia berada.


Tazkia hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Faris, ia hanya menatap fokus ke arah belakang karena samar samar ia seperti melihat sosok perempuan namun tidak begitu jelas.


" Ada apa?" tanya Faris karena melihat Tazkia hanya terdiam sambil melihat ke arah belakangnya.


" Tidak ada, tumben dokter sendiri, bukankah biasanya ada perawat jaga yang membantu saya ketika terapi?" ucap Tazkia mengalihkan pembicaraan.


" Oh kebetulan saya sedang kosong pagi ini, jadi khusus hari ini saya akan langsung menangani terapi mu." ucap Faris sambil tersenyum cerah ke arah Tazkia.


" Kenapa gue merasa senyuman dokter Faris hanya sebuah kepalsuan ya? rasanya seperti dia sengaja tersenyum agar orang orang tidak ada yang tahu akan perasaannya." ucap Tazkia dalam hati sambil menatap ke arah Faris.


" Baiklah bisa kita mulai sekarang?" tanya Faris yang di balas Tazkia dengan anggukan.


Setelah mendapat persetujuan dari Tazkia, Faris lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tazkia untuk memulai sesi terapi kali ini.


" Baiklah sekarang pegang tangan saya, saya bantu kamu bangkit secara perlahan oke." ucap Faris sambil sedikit membungkuk agar Tazkia mudah menjangkaunya.

__ADS_1


Tazkia kemudian lantas mulai menggenggam tangan Faris, ketika tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja Tazkia mendadak mendapat sebuah penglihatan tentang kehidupan Faris.


Dalam penglihatannya Tazkia di bawa ke sebuah waktu di mana ia melihat Faris tengah tersenyum ceria bersenda gurau dan bersantai bersama keluarganya, sungguh benar benar keluarga yang harmonis, setelah mendapat penglihatan tersebut Tazkia lantas kembali di tarik namun kali ini terlihat Faris tengah berada di dalam kamarnya dengan suasana yang gelap, tanpa penerangan apapun yang diiringi dengan kilatan petir menyambar melalui balkon kamarnya, botol alkohol terlihat berserakan di mana mana, Faris benar benar terlihat kacau dan berantakan kala itu sambil memegang selembar foto perempuan paruh baya yang masih cantik walau termakan usia.


Beberapa detik kemudian Tazkia lantas tersadar dari penglihatannya barusan, keringat dingin mulai membasahi dahinya dengan deru nafas yang memburu seperti tengah berlari maraton.


" Apa itu barusan? aku bahkan tidak berniat untuk melihat kehidupan dokter Faris, tapi kenapa tangan ini semakin tidak terkontrol ketika menyentuh seseorang." ucap Tazkia dalam hati kebingungan.


Faris yang menyadari bahwa Tazkia seperti sedang tidak baik baik saja, lantas langsung menangkap tubuhnya yang hampir jatuh karena seperti terkejut akan sesuatu yang Faris tidak ketahui apa itu.


" Apa kamu baik baik saja? bagian mana yang sakit? kita bisa istirahat dulu jika kamu belum siap." ucap Faris sambil menopang tubuh Tazkia agar tidak jatuh.


Mendengar ucapan Faris, Tazkia hanya mendongak dengan tatapan kosong menatap ke arah Faris yang membuat Faris semakin bingung akan kelakuan Tazkia.


Karena tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya, Faris kemudian lantas kembali mendudukkan Tazkia di kursi rodanya, kemudian memeriksa denyut nadi serta mengarahkan stetoskop yang ia simpan di saku jasnya ke arah dada Tazkia.


Tazkia yang melihat Faris begitu khawatir lantas membalasnya dengan tersenyum.


" Anda tenang saja ini tidak akan berlangsung lama, hal ini sudah biasa terjadi." ucap Tazkia sambil tersenyum.


" Jangan pernah menganggap remeh sebuah penyakit, saya akan menjadwalkan medical checkup untuk mu agar kita bisa mengetahui sebuah penyakit sedini mungkin." ucap Faris tanpa ingin di bantah.


" Tidak perlu terlalu khawatir dok, ini sudah sering terjadi ketika aku ...." ucap Tazkia menggantung karena ia sadar bahwa percuma menceritakannya pada dokter Faris karena ia pasti tidak akan mengerti.


" Ah mana mungkin aku menceritakannya, pasti dokter Faris mengira aku gila nantinya, kan malah berabe kalau aku malah di suruh ke psikiater, benar benar big no." ucap Tazkia dalam hati.

__ADS_1


" Ketika apa?" tanya Faris dengan penasaran karena Tazkia tidak kunjung melanjutkan ucapannya.


" Itu anu anu ..." ucap Tazkia bingung mencari alasan.


" Anu apa?" ucap Faris lagi lagi dengan kebingungan.


Ketika Tazkia di landa rasa bingung dalam mencari sebuah alasan yang tepat untuk menyambung ucapannya, dari arah pintu terdengar suara ketukan pelan yang memecah ketegangan di hati Tazkia, setidaknya kali ini Tazkia bisa lolos dari pertanyaan itu.


" Permisi dok, ada yang mencari dokter dan saat ini telah menunggu di ruangan anda." ucap seorang suster.


" Baiklah sebentar lagi saya akan ke sana, tolong antar Tazkia kembali ke kamarnya." ucap Faris memberikan perintah.


" Baik dok." ucap suster tersebut mengerti kemudian mengambil alih kursi roda Tazkia.


" Saya tinggal sebentar ya nanti akan saya jadwal ulang terapi hari ini, saya permisi." ucap Faris dengan tersenyum kemudian melangkah pergi setelah dibalas anggukan oleh Tazkia.


" Pasti yang dilaluinya adalah sesuatu yang berat hingga dokter Faris menghabiskan begitu banyak alkohol di tengah kegelapan malam dan kilatan petir yang menyambar, tapi kenapa rasanya aku sangat tertarik akan hal tersebut ya, apa aku sudah gila karena penasaran dengan masalah orang lain?" ucap Tazkia dalam hati sambil melihat kepergian Faris hingga menghilang dari pandangannya.


" Baiklah saya akan mengantar anda kembali ke kamar ya." ucap suster tersebut sambil mulai mendorong kursi roda Tazkia.


Suster tersebut lantas mulai mendorong kursi roda Tazkia melewati lorong lorong rumah sakit yang nampak ramai orang berlalu lalang di saat itu.


Ditatapnya kedua tangan Tazkia dengan seksama sambil sesekali membolak-balikkan kedua tangannya secara berkali kali.


" Sepertinya kekuatan ku semakin tidak terkendali, jika setiap aku menyentuh seseorang dan terus mendapat penglihatan, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa aku kedepannya? sepertinya aku harus mulai berusaha mengontrolnya paling gak mengurangi bersentuhan dengan orang lain, ya mungkin itu adalah solusi yang tepat untuk masalah ku." ucap Tazkia dalam hati sambil terus menatapi kedua tangannya sedari tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2