
Sementara itu setelah Tazkia berhasil masuk ke dalam toko, ia lantas celingukan mencari keberadaan Aditya namun Tazkia tidak menemukannya di mana pun, bahkan dari dalam toko Aditya sama sekali tidak nampak dari sana, hanya mobil Tazkia yang terlihat terparkir di luar.
"Aditya gimana sih? di suruh ngikut malah ngilang, nyusahin deh!" gerutu Tazkia sambil melihat dari dalam pintu kaca toko tersebut.
"Selamat datang." ucap sebuah suara berat yang mengagetkan Tazkia.
"Eh iya pak" ucap Tazkia sambil menatap ke arah pria tinggi tegap bertubuh besar.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak tersebut.
"Begini pak, saya ingin bertanya apakah cermin ini dari toko bapak?" tanya Tazkia dengan sopan.
Mimik wajah pria tersebut lantas langsung berubah ketika Tazkia menunjukan cermin yang ia bawa sejak tadi.
"Masuklah kita bicarakan di dalam." ucapnya dengan nada yang datar.
**
Tazkia menatap keadaan sekitar dengan pandangan yang beragam, semakin ia masuk ke dalam entah mengapa rasanya seperti memiliki aura yang berbeda, terasa hampa dan juga seakan kosong.
"Kenapa jam tangan gue berhenti di pukul 12?" ucapnya dalam hati.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu ketahui?" ucap pria tersebut sambil mengambil duduk pada sebuah kursi goyang yang terletak di sudut ruangan.
"Tolong saya pak, jiwa teman saya terjebak di dalam cermin ini." ucap Tazkia dengan nada memohon.
"Tidak bisa, cermin itu sendiri yang memilih temanmu sebagai tumbal." ucapnya.
"Bagaimana bisa pak, teman saya bahkan tidak melakukan sebuah perjanjian, bukankah itu sangat tidak adil?" ucap Tazkia.
Pria itu hanya tersenyum mendengar perkataan Tazkia.
__ADS_1
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, harus ada sesuatu yang di korbankan." ucapnya dengan tawa menggema.
"Apa maksud bapak?"
"Berikan sesuatu yang berharga milikmu!" ucap pria itu.
"Bagaimana bisa seperti itu pak?"
"Harus ada harga yang di bayar untuk setiap perjanjian?" ucap pria tersebut dengan tersenyum iblis.
Tazkia terdiam, ia benar benar bingung akan apa yang harus ia berikan, bahkan Tazkia saja tidak tahu apa yang di minta oleh pria itu. Butuh waktu cukup lama bagi Tazkia untuk menimbang keputusan apa yang harus ia ambil.
"Mungkin suatu barang? mama telah memberiku banyak barang jika harus di ambil satu tak apa bukan?" pikirnya. "Baiklah pak saya setuju." ucap Tazkia namun dengan nada yang terdengar ragu.
"Ingatlah satu hal, apa yang sudah dijanjikan tidak bisa di tarik kembali." ucap pria itu memperingati Tazkia, namun bukannya tenang malah membuat perasaan Tazkia jadi tidak karuan menanti apa yang akan direnggut pria di hadapannya ini.
Pria tersebut kemudian meminta tangan Tazkia agar sedikit mendekat ke arahnya, dengan ragu Tazkia mengulurkan tangannya. Pria itu nampak memegang tangan Tazkia sambil seperti merapal sebuah mantra kemudian ia mengambil sebuah jarum dan ditusukkan ke tangan Tazkia hingga mengeluarkan sedikit darah, setelah itu darah yang timbul di jari tangan Tazkia ia tempelkan pada selembar kertas layaknya seperti membuat surat perjanjian namun kali ini dengan stempel darah milik Tazkia yang tercap di sana.
"Pulanglah temanmu akan kembali seperti semula setelah matahari tenggelam, ingat satu hal jangan biarkan sosok yang mendiami tubuh teman mu lolos dari pandanganmu sebelum matahari terbenam, atau semuanya akan sia sia." ucap pria itu memperingati Tazkia agar tidak sampai melanggarnya.
Tazkia hanya mengiyakan ucapan pria itu kemudian melenggang pergi dari sana, entahlah Tazkia juga tidak tahu apakah ucapan pria tersebut bisa dipercaya atau tidak, yang terpenting Tazkia sudah mencobanya bukan?
Tazkia melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut, baru beberapa langkah Aditya sudah berlarian ke arahnya dengan heboh.
"Ki lo dari mana aja sih? gue udah keliling keliling cariin lo dari tadi" cerca Aditya begitu sampai di dekat Tazkia.
"Ya dari toko lah, lo sih gue ajak masuk kagak mau tadi." ucap Tazkia dengan nada datar.
"Toko pala lo peyang, jelas jelas belakang lo itu hanya ada pohon beringin doang, jangan ngelawak bisa gak sih Ki..." ucap Aditya dengan gemas.
Mendengar hal itu tentu saja Tazkia langsung balik badan untuk memastikan ucapan Aditya barusan, dan benar saja di belakangnya hanya ada sebuah pohon beringin besar, toko tadi kembali menghilang dan lenyap, Tazkia kemudian menatap ke arah arlojinya terpasang dan di sana tertera pukul 16.00, sontak saja hal itu membuat Tazkia terkejut padahal Tazkia merasa hanya sebentar berada di dalam toko tersebut mungkin tidak sampai 15 menit, tapi ini... bukankah terlalu mustahil?
__ADS_1
*****
Sementara itu di mansion milik Tazkia.
Pada akhirnya Prasetia menceritakan dari awal kejadian demi kejadian yang di alami oleh mereka, Faris mendengarkan dengan seksama tanpa menyanggah ataupun terkejut, karena baginya hal mistis sudah menjadi makanan kesehariannya, karena meski Faris tidak seistimewa Tazkia, tapi ia dapat di kategorikan dalam seseorang yang diberi kelebihan untuk melihat sosok yang tidak bisa terlihat.
"Lalu dimana Kia dan temanmu Adit?" tanya Faris kemudian karena tidak melihat keduanya di manapun.
"Mereka berdua tengah mencari toko barang antik itu, semoga saja ketemu soalnya Kia bilang toko itu tiba tiba saja menghilang." jelas Prasetia.
"Pasti itu bukanlah toko biasa."
"Ya anda benar."
Baru saja keduanya bisa bersantai dan bernafas lega, terdengar bunyi gaduh dari arah kamar orang tua Tazkia. Faris dan juga Prasetia yang memang posisinya sedang di ruang makan lantas saling pandang dan menerka tentang suara apa itu.
"Sebaiknya kita cek." ucap Faris yang di balas anggukan oleh Prasetia.
**
Langkah keduanya lantas mematung di pintu kamar kala melihat ranjang milik orang tua Tazkia melayang dengan Sinta di atasnya. Angin ribut perlahan berhembus hanya di ruang kamar itu, membuat beberapa pajangan serta beberapa barang di kamar itu ikut melayang dan terlempar berserakan.
"Kalian mau main main dengan ku rupanya." ucap Sinta tiba tiba dengan posisi yang sudah duduk namun kaki dan tangannya masih terikat sambil tertawa cekikikan hingga menggema memenuhi ruangan.
"Cepat keluar dari tubuh itu! kau tidak berhak berada di sana!" teriak Faris yang lantas mendapat tatapan tajam dari Sinta.
"Aaaaaaaaaaaaaaa" teriak Sinta dengan nyaring membuat Faris dan juga Prasetia dengan spontan menutup kedua telinga mereka.
Seluruh kaca mendadak pecah dan berserakan kala teriakan Tazkia menggema memenuhi ruangan kamar tersebut, benar benar berantakan seperti telah di guncang gempa dengan kekuatan yang dahsyat.
"Lepaskan aku!" teriaknya lagi dan lagi dengan kesetanan.
__ADS_1
Bersambung