Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Bangunan dengan makam di dalamnya


__ADS_3

Mobil Faris terus melaju memasuki jalanan dengan pohon pohon besar di kanan kirinya, namun sama sekali tak menyurutkan senyumannya, Faris benar benar sangat bahagia kali ini. Ditatapnya jalanan sekitar memastikan jalan yang ia ambil adalah benar, bukan tidak tahu jalan atau apa hanya saja terlalu banyak cabang di jalanan ini, sehingga Faris harus fokus dan memperhatikan jalan dengan benar jika tidak mungkin nasibnya akan sama dengan teman teman Tazkia yang kemarin tersesat ketika perjalanan menuju villa.


Hari beranjak sore dan Faris masih di jalanan ini, jika mengikuti jalan yang ia ambil ketika pertama kali ia datang bersama Tazkia harusnya petang nanti ia sudah sampai di villa.


"Aku sungguh tak sabar." ucap Faris dengan senyum yang tanpa henti hentinya terlukis di wajah tampannya.


Namun entah memang kebetulan atau apa? cuaca tiba tiba saja mendadak mendung dengan beberapa kabut mulai terlihat menutupi jarak pandang Faris ketika berkendara. Faris berdecak kesal melihat kabut yang mulai menutupi jalanan membuat jarak pandangnya menjadi terganggu.


Faris terus melajukan mobilnya namun kali ini dengan kecepatan yang sedang karena kabut kali ini benar benar parah.


"Apapun yang terjadi aku harus sampai di villa tepat waktu." tekadnya dalam hati sambil terus melajukan mobilnya menembus kabut tebal.


Brukkkk


Sebuah benda besar hitam tiba tiba saja terjatuh di mobil bagian depan Faris hingga membuatnya langsung banting stir ke kiri karena saking terkejutnya, membuat mobil Faris hilang kendali dan menerabas masuk ke dalam hutan, mobil yang di kendarai Faris berkelok kelok ke kanan dan ke kiri karena Faris berusaha mengendalikan mobilnya di antara kabut tebal yang menutupi jalanan sekitar membuatnya berkali kali terkejut karena hampir menabrak pohon.


Namun sebaik baik tupai melompat tentu akan jatuh juga bukan? peribahasa itulah yang sekarang di alami oleh Faris, sebaik dan sepandainya Faris menghindari pepohonan pasti akan menabrak juga.


Kepulan asap terlihat membumbung tinggi dari kap mobil Faris tepat setelah mobilnya menabrak sebuah pohon besar, sedangkan Faris ia terlihat tidak bergerak dengan darah segar yang nampak mengalir di kepala dan juga beberapa pakaiannya.


Setetes demi setetes bensin terlihat mengalir membasahi rerumputan sekitar namun Faris tak kunjung sadar juga dan masih berada di dalam mobil.


**********


Villa nenek

__ADS_1


Glegek glegek


Aditya meminum air dingin dengan begitu nikmat layaknya seperti iklan iklan di telivisi yang ada lemon lemonnya itu. Aditya mengelap bibirnya yang basah karena terkena air kemudian menutup kembali pintu kulkas.


Ditatapnya ruang dapur satu persatu dengan tatapan yang aneh dan waspada takut makhluk itu berada di suatu tempat dan sedang mengintainya.


"Benar benar menyebalkan." ucap Aditya lirih.


Baru saja Aditya mengatakan hal tersebut dari kejauhan terdengar samar samar seperti langkah kaki yang semakin dekat ke arah dapur. Aditya yang bingung harus kemana lantas langsung berjongkok dan bersembunyi di bawah mini bar.


"Ngapain gue jadi sembunyi sih? gue kan bukan maling!" ucap Aditya lirih merutuki kebodohannya.


Aditya yang sadar melakukan kebodohan perlahan hendak bangkit namun urung karena melihat Rita yang masuk ke dapur dengan gerak gerik mencurigakan.


Rita nampak berjalan celingukan menatap ke kanan dan ke kiri seperti memastikan sesuatu namun Aditya tidak tahu apa itu. Rita terus melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah lemari yang terletak di atas, di bukanya lemari itu perlahan dan dari sana Rita terlihat mengambil sebuah kotak kayu yang tentu saja Aditya juga tidak tahu apa itu.


Setelah mengambil benda itu Rita kemudian nampak melangkahkan kakinya melenggang pergi dari sana, Aditya yang memang dasarnya kepoan lantas berjalan mengendap mengikuti kemana perginya Rita.


Rita terus melangkahkan kakinya menuju ke arah belakang villa, sedangkan Aditya terus mengikutinya di belakang dengan mengendap endap agar Rita tidak mengetahuinya.


Rita kemudian berhenti tepat di sebuah bangunan kecil mungkin hanya 5 x 5 meteran dengat dinding bercat warna putih, Aditya nampak mengerutkan keningnya bertanya tanya tempat apa itu.


"Kok gue baru sadar ada tempat kayak gitu di villa nenek Kia, bangunan apaan tuh? benar benar mencurigakan." ucap Aditya dalam hati sambil terus bersembunyi tak jauh dari Rita.


Setelah memastikan Rita masuk ke dalam, barulah Aditya nampak keluar dari tempat persembunyiannya lalu berjalan mendekat ke arah bangunan itu.

__ADS_1


Aditya menatap setiap sudut bangunan itu mencari celah agar ia dapat mengintip bagian dalam bangunan itu, hingga kemudian Aditya menemukan sebuah lubang ventilasi yang terletak di tembok samping kiri bangunan, melihat hal itu tanpa membuang waktu lagi Aditya melangkah ke arah sana dan mulai melihat dari lubang ventilasi tersebut.


Dalam lubang tersebut Aditya melihat Rita seperti tengah memberikan persembahan untuk sebuah makam, membuat Aditya lantas di buat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Makam? gila." ucapnya tanpa sadar membuat Rita lantas langsung menoleh ke arah belakang, membuat Aditya dengan spontan langsung menunduk bersembunyi agar Rita tak mengetahui keberadaan dirinya.


Rita bergegas pergi dari sana ketika merasa ada yang sedang mengikutinya, setelah itu mengunci bangunan tersebut dengan rapat lalu melenggang pergi dengan langkah terburu sambil celingukan menatap ke kanan dan ke kiri.


Aditya menjembulkan kepalanya sedikit kala merasa Rita sudah pergi dari sana, setelah itu Aditya bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk bangunan tersebut.


"Yah di kunci, gak asyik ni pakai acara kunci kuncian." ucap Aditya sambil berdecak kesal karena mendapati pintu bangunan itu terkunci.


Aditya lantas merogoh sakunya mencari sesuatu di sana, sampai beberapa menit kemudian senyuman nampak terbit di wajahnya kala mendapati sebuah peniti di saku celananya.


"Jika mengikuti beberapa film action yang gue tonton harusnya bisa bukan?" ucapnya dengan bahagia sambil memodifikasi peniti tersebut.


Diangkatnya peniti itu tinggi tingi dengan senyum yang mengembang lalu ia masukkan perlahan pada lubang kunci yang terdapat pada daun pintu, diputar putarnya perlahan peniti itu seperti layaknya seorang maling profesional yang hendak membobol sebuah rumah sampai kemudian ...


Cklek


Pintu terbuka dengan ajaibnya, Aditya yang mengira itu karena usahanya lantas tersenyum bangga sambil masuk ke dalam bangunan tersebut, baru saja masuk ke dalam senyuman di wajah Aditya perlahan memudar kala ia kini melihat dengan jelas makam tersebut.


"Diajeng Roro Kandita? siapa dia? artis? ulama? atau..." ucap Aditya bertanya tanya setelah membaca sebuah tulisan yang terukir indah di batu nisan taman tersebut. "Nenek...Kia!" ucapnya setengah berteriak karena terkejut kala berbalik badan yang terlihat oleh mata kepalanya adalah foto nenek Tazkia yang selama ini selalu ia pertanyakan di mana keberadaannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2