
Malam harinya entah mengapa Tazkia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, diliriknya Sinta yang sudah tertidur dengan lelapnya di sebelah, membuat Tazkia berkali kali menghela nafas panjangnya.
" Apa yang harus ku lakukan untuk mendatangkan kantuk ku ini?" ucapnya pada diri sendiri.
Ketika Tazkia sibuk menghitung domba agar bisa tertidur, samar samar ia seperti mendengar suara alunan musik gamelan menggema dari arah luar membuat bibirnya yang semula asyik menghitung domba lantas terdiam membisu. Tazkia menajamkan indera pendengarannya berharap apa yang ia dengar hanyalah sebuah halusinasinya saja, namun sayangnya semakin di pertajam maka semakin jelas pula bahwa yang terdengar barusan adalah alunan musik gamelan yang beradu dengan beberapa alat musik tradisional, seperti tengah ada pesta hajatan besar.
" Gamelan itu benar benar ada!" ucapnya dalam hati sambil terus bertanya tanya serta menerka.
Tazkia berada di kebimbangan yang besar, ia ingin sekali memastikan kebenaran tentang ucapan Aldo, namun ia juga takut kalau dirinya tiba tiba menghilang tanpa di ketahui teman temannya, itu pasti akan membuat teman temannya kesusahan mencarinya, tidak hanya itu Tazkia merasa penampakan kali ini benar benar sungguh absurd dan aneh karena baru kali ini bahkan Tazkia sama sekali tidak melihat sebuah penglihatan tentang kehidupan seseorang di manapun.
Di antara rasa yang ingin dan tidak ingin dari arah luar kamar? Tazkia seperti mendengar bunyi kerincingan berkali kali, lebih tepatnya suara kerincingan yang di pakai ketika mementaskan sebuah tarian.
Tazkia menelan salivanya dengan kasar, ia tahu pasti bahwa yang di depan kamar bukanlah manusia ataupun teman temannya.
" Pergi gak? pergi gak? pergi aja deh bismilah." ucap Tazkia pada diri sendiri menimbang nimbang keputusan untuk keluar atau tidak.
Setelah beberapa menit menimbang dan karena rasa penasaran yang memuncak, perlahan Tazkia mulai bangkit dan melangkah menuju pintu kamar kemudian membukanya sedikit dan mulai mengintip ke arah luar untuk melihat dan memastikan sosok apa yang ada di luar kamarnya.
Di saat Tazkia mengintip dari balik celah pintu ia terkejut bukan kepalang kala melihat yang ada di luar adalah Sinta yang tengah menari dengan lues nya bak penari jaipong profesional dengan alunan gamelan yang mengiringinya dari arah luar kamar.
Tazkia terdiam membeku melihat pemandangan di depannya ia sungguh bingung harus bagaimana, pasalnya Tazkia baru saja melihat Sinta tidur di sebelahnya dan bahkan hingga kini masih terlelap di atas kasur, bagaimana mungkin bisa ada Sinta lagi yang tengah menari di ruang tengah? bukankah itu sebuah keanehan yang terlalu nyata?
" Diantara dia dan dia, mana Sinta yang asli?" ucap Tazkia dalam hati.
Di tatapnya Sinta yang tengah tidur terlelap dengan Sinta yang tengah menari, benar benar bagai pinang di belah dua tidak ada satupun celah yang bisa Tazkia lihat untuk membedakan keduanya, hanya saja Sinta yang Tazkia kenal tidak bisa menari sama sekali, jangankan untuk menari jaipong bahkan dance biasa saja Sinta masih kaku, benar benar membutuhkan banyak waktu jika harus mengajarinya untuk menari sebagus itu.
__ADS_1
" Enggak enggak dia bukan Sinta! Sinta tengah tertidur di sana, lagi pula mana mungkin Sinta menari dengan gerakan lues seperti itu? hahaha sepertinya aku ngantuk mangkanya jadi lihat yang aneh aneh." ucapnya kemudian menutup kembali pintu perlahan mencoba mengacuhkan apa yang baru saja ia lihat. "Tunggu dulu, kalau yang di luar ternyata Sinta dan ia sedang kesurupan bagaimana?" ucapnya lagi.
Pada akhirnya Tazkia lantas memberanikan diri untuk keluar dan mendekat ke arah Tazkia yang masih saja menari sedari tadi.
" Sin? Sinta?" ucapnya lirih dengan perasaan yang campur aduk.
Mendengar ucapan Tazkia, sosok Sinta yang tengah menari dihadapannya lantas langsung berhenti sejenak, kemudian menatap ke arah Tazkia dengan senyum yang menyeringai dan berbalik badan kembali. Sosok itu perlahan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, entah angin atau apa pintu mendadak terbuka dengan sendirinya, diiringi dengan kepulan asap dan juga alunan gamelan yang terdengar lebih jelas di pendengaran Tazkia.
Tazkia yang seperti terhipnotis akan suara itu lantas mulai melangkahkan kakinya tanpa sadar mengikuti langkah kaki yang ia duga sebagai Sinta.
"Jangan pergi!" ucap Aldo yang tiba tiba saja menarik tangan Tazkia yang sudah hampir ke luar dari rumah jika tidak di cegah oleh Aldo, sedangkan sosok tersebut perlahan mulai menghilang seiring dengan hilangnya kepulan asap tadi.
Tazkia lantas langsung menatap Aldo dengan kebingungan karena Aldo menarik tangannya dengan tiba tiba.
" Ada apa?" tanya Tazkia dengan bingung.
" Aku sama sekali tidak berniat mengikuti alunan gamelan itu, aku hanya ingin mengejar Sinta keluar, ia bisa tersesat jika pergi di jam segini." jelas Tazkia.
" Dia bukan Sinta, kalau lo gak percaya lo cek di kamar sekarang!"
Tazkia yang mendengar hal itu tentu tidak akan langsung percaya begitu saja, Tazkia kemudian melangkah dan mengecek sendiri dengan mata kepalanya. Di saat pintu terbuka, benar saja Sinta masih tertidur dengan lelapnya di kamar membuat Tazkia lagi lagi di buat terdiam dengan kejadian demi kejadian yang ia alami.
" Kenapa diam perkataan gue bener kan?" ucap Aldo.
" Makasih ya udah nolongin gue barusan." ucap Tazkia dengan tulus.
__ADS_1
" Tidak perlu sungkan, sekarang masuklah ke dalam dan beristirahatlah." ucap Aldo yang di balas anggukan oleh Tazkia.
Tazkia kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kamar dan pergi istirahat.
" Sebaiknya aku tidur."
*******
Sementara itu setelah memastikan Tazkia masuk kembali ke kamar, Aldo melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Ia kemudian merogoh ponselnya dan mendial nomor seseorang di sana.
" Sepertinya perlahan saya sudah membawanya masuk pak, saya pastikan ia akan langsung jatuh ke perangkap." ucap Aldo begitu sambungan telponnya terhubung dengan seseorang di ujung sana.
" Bagus pastikan semua berjalan dengan lancar, aku sudah menjadikan mu murid ku, tidak ada kegagalan dalam duniaku, kau mengerti?" ucapnya.
" Tentu saja pak, aku akan melakukan cara apapun untuk mewujudkan keinginan anda." ucap Aldo dengan tersenyum licik sambil membayangkan keberhasilannya kelak.
" Buktikan dengan tindakan, aku tidak mau hanya omong kosong saja yang keluar dari mulut mu itu." ucap bapak bapak itu dengan nada suara yang dingin.
" Anda jangan khawatir, saya akan melakukan tugas saya dengan benar." ucapnya lagi
" Ya saya tunggu hasilnya dengan segera."
" Baik pak." ucapnya kemudian terdengar suara panggil di putus dari sana.
" Aku tidak boleh gagal kali ini, akan ku pastikan semua hal sesuai dengan permintaanya." ucap Aldo kemudian bangkit dan melangkah kembali ke arah kamarnya.
__ADS_1
Bersambung