Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Sudah terlalu jauh untuk berhenti ~ Desa tanjung tari #7


__ADS_3

Keesokan paginya Tazkia dan kawan kawan memulai sosialisasinya, sesuai dengan pembagian Prasetia kemarin mereka mulai berpencar dan melaksanakan tugas masing masing.


Prasetia dan juga Tazkia bergegas pergi ke rumah mbah Harjo, perjalanan yang mereka lalui ternyata cukup panjang, awalnya Tazkia dan juga Prasetia mengira rumah mbah Harjo terletak tidak jauh, namun nyatanya ujung jalan yang di maksud oleh mbah Harjo kemarin benar benar lumayan panjang dan cukup melelahkan.


" Keren juga ya beliau berjalan kaki dengan jarak cukup lumayan setiap harinya, gue kira ujung yang beliau maksud kemarin hanyalah di sebelah namun ternyata ujung yang sebenarnya adalah benar benar ujung." ucap Tazkia dengan mata berbinar kagum.


" Ya mungkin itu salah satu alasan bahwa penduduk di desa lebih sehat dan jauh dari penyakit ketimbang penduduk yang tinggal di daerah perkotaan."


" Ya lo benar."


Ketika keduanya saling bercakap cakap dari belakang Tazkia merasa seperti tengah di ikuti oleh sesuatu, semak semak di sekitarnya bahkan bergerak gerak seperti di lewati sesuatu.


" Ada apa ki?" tanya Prasetia.


" Tak apa ayo kita lanjut."


Tazkia mencoba mengacuhkan perasaannya dan melanjutkan langkah kakinya menuju rumah mbah Harjo.


Setelah melewati beberapa kilometer mereka berdua akhirnya sampai di rumah mbah Harjo.


" Permisi, mbah ..." ucap Tazkia sambil mengetuk perlahan pintu rumah mbah Harjo.


Cukup lama keduanya mengetuk pintu rumah tersebut, hingga kemudian perlahan pintu mulai terbuka.


" Oh kalian, mari masuk."


Mendapat sambutan yang ramah membuat Tazkia dan juga Prasetia tersenyum dengan ramah pula, kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah mbah Harjo.


Rumah itu hanya sebuah bangunan dengan dinding yang terbuat dari bambu namun dengan pondasi batu bata, ukurannya tidak terlalu kecil namun juga tidak terlalu besar. Tazkia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan sambil melihat benda benda unik yang terpajang di dinding maupun meja kecil yang terletak di ruangan itu, sampai kemudian pandangannya terhenti pada foto seorang gadis yang tengah tersenyum lebar dengan mengenakan baju tari khas daerah tersebut, melihat hal itu tentu saja membuat Tazkia cukup terkejut karena wajah gadis itu mirip dengan penari berwajah sendu waktu penyambutan kemarin.

__ADS_1


" Silahkan di minum, maaf hanya seadanya." ucap Harjo sambil tersenyum ke arah Tazkia dan juga Prasetia.


Prasetia dan juga Harjo kemudian melanjutkan dengan berbagai macam obrolan mengenai lingkungan sekitar serta pendidikan di desa itu, keduanya asyik bertukar pikiran satu sama lain sedangkan Tazkia ia masih terus menatap ke arah foto tersebut dengan pikiran yang terus menerka nerka benang tipis yang satu persatu mulai muncul ke permukaan.


Dari arah luar terlihat Sumi istri dari Harjo tengah menampi beras seorang diri, Tazkia yang penasaran lantas berbisik kepada Prasetia mengatakan akan keluar sebentar.


Mendapat persetujuan dari Prasetia, Tazkia kemudian lantas melangkah keluar dan hendak menghampiri Sumi. Di saat jarak keduanya hampir dekat Tazkia baru menyadari bahwa gadis di foto itu tengah berada di belakang Sumi sambil berjongkok dengan pandangan yang kosong menatap ke arah Sumi.


" Permisi bu" ucap Tazkia.


" Eh iya, kenapa keluar? suguhannya gak sesuai ya nak? mbah minta maaf ya karena hanya itu yang kami punya." ucapnya membuat Tazkia yang mendengar hal itu tentu saja menjadi tidak enak.


" Bukan mbah, aku hanya ingin melihat dan menemani mbah membersihkan beras." ucap Tazkia dengan tersenyum.


" Baiklah nak, jika begitu mbah juga tidak keberatan."


Tazkia menatap gadis itu sedari tadi tanpa mengalihkan pandangannya, Tazkia sungguh penasaran dengan gadis itu.


" Bukan putri melainkan cucu saya."


" Oh ya? cantik ya mbah, bahkan ia terlihat sangat sayang dengan mbah, buktinya ia selalu ada di samping mbah." ucap Tazkia sambil menatap gadis itu.


Mendengar ucapan Tazkia awalnya Sumi seperti terkejut dan langsung menatap Tazkia, namun detik berikutnya Sumi membalas senyuman itu dengan ramah.


" Iya nak, dia adalah gadis yang pintar dan juga periang mbah sangat menyayanginya." ucap Sumi kemudian.


" Lalu kenapa sekarang jadi murung dan pucat mbah? apakah sedang sakit?" tanya Tazkia.


Mendengar hal itu lagi lagi Sumi di buat terkejut dengan ucapan Tazkia, namun selanjutnya ia kembali tersenyum kemudian menghampiri Tazkia.

__ADS_1


" Kamu bisa aja nak, lebih baik kamu masuk kasihan temanmu sendirian di dalam sana." ucap Sumi kemudian.


Mendengar anjuran Sumi, Tazkia kemudian masuk ke dalam dan kembali duduk di sebelah Prasetia.


" Apa dulu gadis itu mengenal Utari ya? tapi di mana dan bagaimana?" ucap Sumi menerka nerka sambil kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


******


Sementara itu Aditya, Sinta, Doni dan juga Aldo mulai mendatangi rumah rumah warga untuk memberikan sosialisasi, mereka berempat memilih untuk berpencar yang tentunya dengan pembagian Aditya bersama Sinta sedangkan Doni bersama Aldo.


Di saat Aditya dan juga Sinta memulai bersosialisasi di salah satu rumah warga, Aldo dan Doni memilih melipir sedikit masuk ke dalam hutan kemudian menyalakan rokok di sana. Tidak ada pembicaraan apapun antara keduanya hanya keheningan yang menemani mereka sedari tadi dengan kepulan asap rokok yang mengepul di sekitar mereka.


" Al apa sebaiknya kita hentikan saja rencana kita?" ucap Doni tiba tiba membuat Aldo lantas menghentikan gerakannya dan langsung menatap ke arah Doni.


" Ada apa dengan mu? rencana kita sudah hampir berhasil dan kau malah menyerah begitu saja?" ucap Aldo dengan kesal sambil membuang puntung rokoknya sembarangan.


" Sudah cukup Al, apa yang kita lakukan tidaklah benar! mencampur teknologi modern dengan hal gaib bukanlah sesuatu yang benar, semua sudah ada porsinya dan keduanya berjalan masing masing, mana bisa kita yang hanya manusia biasa mengubah takdir yang sudah lama berjalan!" ucap Doni mencoba membicarakannya dengan Aldo.


Awalnya Doni mengira Aldo akan luluh dengan kata katanya namun ternyata Doni salah Aldo sungguh tidak pernah bisa di peringatkan.


" Sudah terlambat! apa yang sudah di mulai tidak akan bisa di hentikan begitu saja, jika kau ingin kau cobalah, kita lihat siapa yang akan berhasil kau atau aku!" ucap Aldo dengan penekanan di setiap kata katanya kemudian melangkah pergi meninggalkan Doni sendiri.


Doni menatap kepergian Aldo dengan perasaan yang frustasi, satu persatu kenangan masa lalu mulai terlintas di kepalanya, Doni benar benar di buat frustasi oleh Aldo.


" Aku harus bagaimana lagi untuk membujuknya? ini benar benar salah, Aldo bahkan sudah terlalu jauh tapi aku ... aku bahkan tidak bisa menariknya kembali ke permukaan argh." ucap Doni dengan frustasi.


Kresek kresek


" Siapa di sana?" ucap Doni ketika mendengar bunyi semak semak yang seperti di injak oleh seseorang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2