Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Luka lebam di leher ~ Lukisan berdarah#4


__ADS_3

Apartment Aditya


Di dapur apartment Aditya semua orang tampak sibuk mengerjakan tugas mereka masing masing, dimana Prasetia mencuci daging dan juga seafood, Sinta mencuci sayuran, Aditya menyiapkan segala perabotannya sedangkan Tazkia sibuk membuat saus dan beberapa bumbu lainnya.


Setelah memastikan semua perlengkapannya beres Aditya lantas mengistirahatkan sejenak kakinya dan mengambil duduk di depan mini bar, Aditya menatap satu persatu sahabatnya dan ia baru sadar bahwa sedari tadi Tazkia mengenakan syal di lehernya.


" Tumben lo pakai syal ki? biasanya juga lo vulgar." sindir Aditya.


Mendengar celetuk Aditya, Sinta dan juga Pras langsung menoleh ke arah Tazkia secara bersamaan memastikan ucapan Aditya.


" Iya tumben ki, apa lo gak kepanasan?" tanya Sinta.


" Iya juga aku bahkan sampai melupakan hal penting di balik alasan aku memakai syal hari ini." ucap Tazkia kemudian menaruh mangkuk yang berisi saus ke meja lalu ikut duduk di sebelah Aditya.


" Ada apa?" tanya Prasetia dengan bingung.


" Kemari lah sebentar geis." ucap Tazkia memanggil Sinta dan juga Prasetia untuk mendekat ke arahnya.


Mendengar hal itu Prasetia dan Sinta lantas menaruh bahan bahan di tangan mereka kemudian mendekat ke arah Tazkia dan Aditya ikut mengambil duduk di sana.


" Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian terutama lo dit." ucap Tazkia sambil menatap ke arah Aditya.


" Loh kok jadi gue?" ucap Aditya tidak terima dirinya di bawa bawa dalam permasalahan kali ini.


" Memangnya ada apa Ki?" tanya Sinta penasaran.

__ADS_1


" Jadi gini, semalem pas gue menyelesaikan panggilan alam gue tiba tiba gue mendengar bisikan yang isinya "selamatkan teman mu dia sedang dalam bahaya" gue yang tidak tahu maksudnya apa yang bodoh amat gue lanjut tidur, tapi asal kalian tahu apa yang terjadi dengan gue selanjutnya." ucap Tazkia namun di potong terlebih dahulu oleh Aditya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Tazkia.


" Ya mana kita tau kan lo belum cerita." ucap Aditya memotong ucapan Tazkia.


" Aditya Surya Permana bisa diem gak tuh mulut." ucap Sinta setengah berteriak kepada Aditya karena kesal.


" Woke." ucap Aditya sambil memperagakan gaya mengunci mulutnya.


" Gue lanjutin nih, tiba tiba dari atas gue ada seorang nenek dan langsung jatuh gitu aja menimpa gue." ucap Tazkia sambil memperagakan benda jatuh menimpa dirinya yang lantas membuat ketiga temannya bergidik ngeri menatap Tazkia.


" Tapi yang bikin gue aneh, setelah nenek nenek itu jatuh gue malah berasa kayak di bawa ke suatu dimensi lain, lo tau kan seperti mimpi tapi itu nyata banget, dan yang gue lihat di sana malah si Aditya berduaan ama cewek cantik banget ngeselin kan." ucap Tazkia dengan kesal.


" buhahahahahahahahaha jadi itu semua cuman halu ki." ucap Aditya sambil tertawa terpingkal-pingkal.


" Ok, lanjut." ucap Aditya kemudian.


" Karena gue kesel ngeliat si Aditya hahihi gue panggil lah dia, namun saat gue panggil si cewek langsung menatap gue dengan tatapan tidak suka dan mengajak Aditya lari menjauh dari gue, karena si Adit lari ya gue kejar namun semakin gue kejar anehnya si Adit makin ilang, karena gue capek gue ngasoh sebentar, ketika gue ngasoh dari arah kejauhan samar samar gue melihat seperti bayangan hitam melesat cepat menuju ke arah gue, karena gue pikir itu Adit ya gue diem aja, tapi pas bayangan itu semakin deket semakin deket dan semakin deket, bummmmmmmm entah tuh sosok datang dari mana tiba tiba nyekek gue dengan brutal dan berkata berulang bahwa." dia milikku dia milikku" entah terkejut atau apa gue tiba tiba langsung terbangun dengan keringat yang sudah membasahi baju gue yang awalnya gue kira hanya mimpi buruk seketika langsung berubah setelah gue melihat terdapat bekas ini di leher gue." ucap Tazkia panjang kali lebar kemudian sambil membuka syal yang menutupi lehernya sedari tadi.


Prasetia dan Sinta lantas terkejut kala melihat luka lebam merah di leher Tazkia seperti bekas cekikan, sedangkan Aditya hanya terdiam mendengar cerita tersebut.


" Mengapa cerita Kia sama seperti yang gue alami ya? hanya saja versi Kia lebih menyeramkan ketimbang punya gue." ucap Aditya dalam hati sambil tetap diam.


" Astaga ki, jika lo mendapat luka yang sama persis seperti di mimpi lo, itu tandanya semua yang lo alami adalah kenyataan." ucap Sinta yang dibalas anggukan oleh Tazkia.


" Lantas bagaimana dengan yang lo alami dit?" tanya Prasetia kepada Aditya namun yang Aditya lakukan hanya diam termenung tidak menanggapi ucapan ketiganya.

__ADS_1


" Wei dit ngelamun aja lo." ucap Sinta sambil menepuk pundak Aditya.


" Biasa aja kali sin sakit nih pundak gue." ucap Aditya yang tersadar karena merasakan panas di area pundaknya.


" Jadi apa yang lo alami semalam dit?" tanya Tazkia dengan penasaran begitupun Prasetia dan juga Sinta.


"Emmmm semalem ya gak ada yang aneh aneh sih, semua berjalan normal tapi kalau mimpi ketemu cewek cantik emang iya dan apesnya di mimpi gue juga Kia ngejar ngejar gue sambil berteriak manggil gue kenceng namun gue malah di ajak lari sama cewek cantik tersebut seakan akan dia gak suka akan kedatangan Kia di mimpi gue." ucap Aditya mengingat ingat kejadian semalam.


" Nah kan nyambung nih habis ngapain lo dit sampek di intilin cewek begitu, jangan jangan tuh cewek jadi jadian lagi hi ngeri amat." ucap Sinta.


" Hus mulut mu, mana ada jadi jadian orang dia cantik kok." ucap Aditya tidak terima dengan ucapan Sinta barusan.


" Cantikan mana sama Kia?" pancing Prasetia karena ia yakin Aditya pasti akan menjawab Tazkia, tidak munafik meski Prasetia ditanya tentang siapa gadis yang paling cantik di kampus pasti Prasetia akan menjawab Tazkia, entahlah tidak ada alasan pada jawaban itu hanya saja wajah Tazkia yang khas dengan hidung mancung serta kulit yang putih bersih menambah daya tarik tersendiri di mata Prasetia.


" Ya tentu saja cantikan Kia,tapi tapi dia juga cantik kok meski masih menang Kia." ucap Aditya dengan nada tinggi kemudian perlahan turun kala menyebutkan nama Tazkia.


Tepat setelah Aditya mengatakan hal tersebut tiba tiba saja angin berhembus kencang entah datang dari mana membuat beberapa gorden dan juga barang yang ringan melayang dan mulai berjatuhan.


Melihat apa yang baru saja terjadi lantas membuat Prasetia, Sinta, Aditya, dan juga Tazkia terkejut, mereka berempat lantas bangkit berdiri dan berlari ke arah balkon hendak menutup pintu kaca karena mengira angin kencang yang berhembus berasal dari luar.


" Cepat tutup pintunya geis." teriak Prasetia.


" Kenapa anginnya tiba tiba jadi besar gini sih." ucap Aditya sambil ikut berlarian hendak menutup pintu kaca yang menuju ke Balkon.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2