Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Selamat datang di Desa Tanjung Tari ~ Desa tanjung tari #3


__ADS_3

Sesuai perkataan Ardi beberapa orang warga mulai berdatangan dengan mengendarai motor yang biasanya di gunakan untuk naik gunung mengambil bahan pangan ( kalian tahulah hampir mirip motor trail yang di desain khusus namun dengan bentuk sederhana, bukan motor trail mewah untuk naik naik gunung ya).


Prasetia dan juga yang lainnya nampak tertegun melihat jemputan mereka satu persatu mulai datang, ada 6 motor dengan pengemudinya masing masing berjajar rapi menanti mereka di halaman balai desa, dengan 1 motor yang membawa gerobak cukup besar di belakang.


" Wih keren nih." celetuk Sinta dengan mata yang berbinar.


" Kita seriusan naik ini pak?" tanya Aditya yang masih tidak percaya namun langsung di sikut oleh Tazkia karena takut pak kades akan tersinggung mendengar ucapan Aditya.


" Lalu bagaimana dengan barang barang kami pak?" tanya Prasetia lagi.


" Kalian tenang saja untuk barang barang kalian akan di bawa dengan menggunakan itu." ucap Ardi sambil menunjuk ke arah motor yang sudah di gandeng dengan gerobak di belakangnya untuk menampung barang barang bawaan mereka.


" Waduh nyesel gue bawa koper mahal, tahu gitu gue bawa tas punggung aja kemarin." ucap Sinta dalam hati.


Ketika semua orang sedang berdiskusi masalah keberangkatan, Aldo dan Doni malah langsung mengeluarkan barang barang dari mobil kemudian menatanya di gerobak tersebut membuat teman teman yang lainnya lantas terbengong dengan tindakan mereka berdua.


" Apa mereka selalu seperti itu dit? tanpa berbicara namun langsung bekerja." ucap Tazkia yang menatap ke arah Aldo dan Doni.


" Entahlah gue juga tidak tahu, mereka berdua kan tidak terlalu suka membaur, mana paham gue." ucap Aditya sambil mendengus kesal.


" Ya kali aja lo tahu, lo kan lambe turahnya kampus." ucap Tazkia yang langsung membuat Aditya mendengus kesal.

__ADS_1


" Udah udah jangan ribut, ayo berangkat Aldo dan Doni udah selesai tuh." ucap Sinta sambil melangkah hendak menaiki boncengan motor tersebut." Saya naik ya pak?" ucap Sinta yang di balas anggukan oleh bapak tersebut.


Satu persatu dari mereka mulai menaiki motor tersebut hingga tersisa Prasetia yang masih berpamitan dengan pak kades.


" Saya dan teman teman pamit dulu ya pak sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak atas bantuannya." ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh Ardi. "Oh ya sama titip salam ya pak buat bapak bapak yang tadi pagi bantuin kami." ucap Prasetia kemudian.


" Bapak bapak yang mana ya?" tanya Ardi dengan bingung.


" Bapak bapak yang tadi sholat subuh di surau, beliau memakai baju koko warna putih dengan sarung hijau pak." ucap Prasetia.


Mendengar hal itu Ardi lantas kebingungan, pasalnya Ardi tadi pagi juga melaksanakan sholat subuh di surau namun ia sama sekali tidak melihat bapak bapak yang dimaksud oleh Prasetia.


" Apa kamu yakin dia ke surau?" tanya Ardi lagi memastikan.


" Perasaan gak ada deh bapak bapak dengan ciri ciri yang di bilang pemuda tadi, aku memang melihat mereka ke surau tapi tidak ada tuh bapak bapak yang di maksud pemuda itu. Apa mungkin aku lupa ya? ah sudahlah." ucap Ardi sambil menatap kepergian beberapa mahasiswa tersebut hingga menghilang dari pandangan.


****


Perjalanan kembali mereka lalui, medan yang di tempuh kali ini cukuplah sulit apalagi dengan keadaan yang habis hujan semalam membuat beberapa tanah menjadi licin dan berlumpur, beberapa kali roda ban motor mereka terjebak kedalam lubang atau terkadang terpeleset karena medan yang licin.


Jalanan yang begitu terjal dan sulit tidak menurunkan semangat keenam mahasiswa itu untuk terus melanjutkan perjalanan, tidak ada terdengar suara rengekan protes sama sekali dari keenamnya, karena apa yang mereka alami termasuk kedalam konsekuensi atau bisa di bilang bagian dari perjalanan yang nantinya akan menjadi sebuah pengalaman bagi mereka jika mereka ingin ke daerah daerah terpencil.

__ADS_1


Perjalanan mereka lewati dengan suka cita hingga bahkan sepatu mereka yang penuh dengan lumpur mereka abaikan tanpa mengeluh sama sekali, perjalanan tersebut memakan waktu hampir satu jam perjalanan, setelah melewati lika liku jalanan yang tajam akhirnya mereka sampai juga di sebuah desa yang masih cukup asri dengan beberapa rumah warga yang masih terbuat dari bambu, sebagian bangunan tersebut memang masih menggunakan bambu namun terdapat juga beberapa rumah yang sudah memiliki tembok atau bangunan seperti rumah rumah pada umumnya meski tidak sebesar yang ada di Jakarta.


Ketika mereka sampai di sana terlihat sebuah gapura besar yang terletak di kanan dan kiri jalan yang bertuliskan " Selamat datang di Desa tanjung tari". Di sana mereka sudah di sambut dengan berbagai tari tarian tradisional disertai beberapa orang yang sudah berkumpul di sana menunggu kedatangan mereka.


Setelah satu persatu dari mereka turun dan membawa barang mereka masing masing, para warga yang mengantar mereka tadi nampak mulai pergi dan meninggalkan mereka, awalnya Prasetia menawarkan kepada salah satu warga untuk mampir beristirahat sebentar namun di tolak dengan alasan mereka sudah di tunggu istri mereka untuk segera pergi ke sawah dan bercocok tanam, Prasetia yang mendengar alasan itu tentu tidak bisa membujuknya lagi selain membiarkan mereka pergi.


Mereka kemudian mendekat ke salah satu orang yang nampak seperti tetua di sana dan satu persatu dari mereka mulai menyalami orang itu sebagai bentuk penghormatan untuknya.


" Selamat datang di desa kami nak, kami senang kalian berkenan membantu pengajaran di desa kami ini." ucapnya dengan senyum yang mengembang.


" Tidak perlu sungkan pak kami juga sangat senang bisa singgah dan memberikan sebagian ilmu kami kepada anak anak di sini." ucap Prasetia. " Oh ya kenalkan pak saya Prasetia, ini Tazkia, di sebelahnya Sinta, kemudian Aditya, itu Aldo sedangkan di sebelahnya lagi Doni." ucap Prasetia memperkenalkan teman temannya.


" Iya salam kenal untuk kalian, saya Harjo penduduk sini biasa memanggilnya saja mbah." ucapnya.


" Aneh bukannya orang ini tidak terlalu tua kenapa harus di panggil mbah?" tanya Sinta dalam hati menerka nerka.


Ketika yang lain sibuk menanyakan ini dan itu sementara Tazkia sibuk memperhatikan beberapa penari yang tengah asyik mengobrol setelah menyelesaikan tariannya. Terdapat empat orang penari yang melakukan pertunjukan tadi, tapi ada satu orang yang membuat Tazkia teramat penasaran dengannya bukan karena penampilan ataupun gerakannya melainkan lebih kepada wajahnya yang pucat serta tatapannya yang seperti tengah menyimpan kesedihan yang mendalam.


Secara perlahan Tazkia mulai mendekat ke arah beberapa gadis muda tersebut berniat untuk menyapa sekaligus bertanya tanya, namun seperti tengah mengetahui isi hatinya gadis itu lantas melangkah pergi dan menghilang dari balik pohon besar.


" Apa rasa kepo ku terlalu terlihat ya?" ucap Tazkia yang menghentikan langkahnya ketika melihat gadis itu pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2