
Setelah selesai dengan urusan rekaman pengawas Faris dan Tazkia lantas melangkah menuju ke halaman belakang mansion bersiap untuk kembali.
Faris menatap kearah dalam mansion dengan tatapan sendu, bayangan demi bayangan kejadian terlintas kembali di benaknya kala melihat setiap sudut ruangan di dalam mansion.
" Apa mungkin jika aku kembali lagi ke waktu ini aku bisa menyelamatkan mama?" ucap Faris dalam hati kemudian menatap ke arah Tazkia yang tengah mengibaskan bajunya karena sedikit kegerahan. " Tidak, aku tidak boleh egois dan serakah, semuanya sudah digariskan aku yakin mama lebih tenang berada di atas sana daripada terus disini dan menerima rasa sakit dari pria itu." tambahnya sambil terus menatap ke arah Tazkia.
" Ada apa dok? apa ada yang ingin dokter katakan?" tanya Tazkia karena sedari tadi Faris hanya menatap ke arahnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
" Jangan panggil aku dokter, panggil aja Faris umur kita tidak jauh berbeda kok." ucap Faris sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala Tazkia yang membuatnya langsung tertegun sebentar karena perlakuan manis Faris padanya.
" Em kalau boleh tahu memangnya dokter eh maksudku Faris usianya berapa?" tanya Tazkia mencoba menutupi rasa gugupnya.
" Kurang lebih 29 lah." ucap Faris dengan santai namun menimbulkan reaksi yang berbeda bagi Tazkia.
" Apa? itu jauh jelas berbeda lah dok." ucap Tazkia.
" Memangnya kamu berapa?" tanya Faris yang penasaran karena melihat reaksi Tazkia.
" Saya 22" ucap Tazkia singkat sambil bergumam namun masih bisa terdengar dengan jelas.
Faris yang melihat tingkah lucu Tazkia lantas tersenyum dengan tipis, kemudian mulai mengacak acak rambut Tazkia saking gemasnya dengan tingkah gadis itu.
" Baiklah kalau begitu adik kecil ini bisa memanggilku dengan kakak hem? apapun juga boleh asalkan bukan om karena kamu bukan keponakan ku." ucapnya lagi sambil tersenyum manis ke arah Tazkia.
__ADS_1
" Ih dokter nyebelin deh, aku tinggal balik sendiri nih." ucap Tazkia dengan kesal sambil memberikan nada ancaman namun tentu saja hanya candaan karena Tazkia tidak akan mungkin meninggalkan Faris di waktu ini.
" Aduh aduh adik kecil marah? ya udah kakak minta maaf ya." ucap Faris lagi. " Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja adik kecil?" imbuhnya lagi dengan menyenggol tangan Tazkia.
" Apa kamu yakin, tidakkah kamu ingin melihat wajah mama mu terlebih dahulu? atau paling enggak mengantarnya hingga peristirahatan terakhirnya." tanya Tazkia.
Mendengar hal itu Faris awalnya hanya terdiam namun detik berikutnya ia tersenyum dan menatap ke arah Tazkia.
" Tidak perlu aku sudah mengikhlaskan mama untuk pergi, jika aku sekarang pergi dan melihat kembali wajahnya aku pasti akan luluh kembali dan mungkin akan meminta mu untuk membawaku kembali ke masa ini dan menyelamatkannya." ucap Faris dengan nada sendu tapi dengan senyum yang terukir di wajahnya membuat dirinya semakin nampak tidak baik baik saja namun berusaha untuk baik baik saja.
" Aku ... aku ..." ucap Tazkia menggantung karena ia bingung harus menanggapi bagaimana perkataan Faris barusan.
" Santai saja kenapa kamu tegang begitu, aku tahu batas kemampuan manusia walau berusaha sekuat apapun jika yang di atas tidak merestuinya kamu hanya akan mendapatkan sakit hati yang berlipat ganda dari kegagalan mu, jadi aku mengambil keputusan untuk membiarkan mama pergi mungkin ia lebih bahagia di sana." ucap Faris lagi.
" Dia benar benar sosok yang sempurna dan juga idaman andaikan saja aku yang berada disisinya." ucap Tazkia dalam hati. " Apa yang sedang ku pikirkan? mana mau dokter Faris dengan gadis ingusan seperti aku ini?" ucapnya lagi sambil tersenyum gak jelas.
" Kalau begitu kita pulang sekarang?" tanya Tazkia lagi kali ini dengan tersenyum ke arah Faris.
" Kita pulang." ucap Faris dengan yakin.
Tazkia kemudian perlahan mulai mengeluarkan liontin itu dan memutarnya sebanyak 24 kali sama seperti kali itu, hanya saja untuk kali ini Tazkia memutarnya ke arah kanan untuk kembali ke masa di mana dirinya berada.
" Faris ikhlaskan mama pergi, semoga mama bahagia di atas sana." ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Keadaan sekitar menjadi hening seketika, detik berikutnya perlahan waktu mulai berjalan maju dengan pergantian siang dan juga malam yang berlalu begitu saja dalam waktu sepersekian detik sampai kemudian barulah semua kembali tampak normal dengan keduanya yang masih tetap berada di mansion belakang.
Prak
Tazkia dan juga Faris yang baru sampai lantas menoleh ke arah sumber suara di mana seperti terdengar benda jatuh dari arah samping, Keduanya lantas terkejut kala mendapati seorang perempuan paruh baya tengah berdiri terbengong sambil menatap ke arah Faris dan Tazkia dengan beberapa pecahan vas bunga di sekitarannya.
" Waduh bisa gawat ini." ucap Tazkia dalam hati.
Faris dan Tazkia lantas langsung saling pandang dan memberi kode isyarat satu sama lain tentang masalah yang tiba tiba terjadi kini. Setelah cukup lama saling pandang Faris kemudian melangkah mendekat ke arah wanita itu hendak memberinya penjelasan.
" Bi, kenapa bibi tidak hati hati hingga vas nya menjadi pecah seperti ini, lain kali perhatikan jalannya terlebih dahulu bi." ucap Faris sambil melangkah mendekat ke arah asisten rumah tangganya itu.
" Ba ... bagaimana bisa aden tiba tiba saja muncul di sana, bibi bibi melihat aden tiba tiba ...." ucap Art tersebut namun menggantung bingung hendak mengatakannya bagaimana kepada Faris.
" Bibi sepertinya salah lihat deh, kami dari tadi ada di sana mungkin karena gelap bibi tidak melihatnya dengan jelas." ucap Faris berkelit dan memberinya penjelasan yang masuk akal.
" Tidak mungkin den saya benar benar melihat aden muncul dengan tiba tiba dari sana." ucap Art tersebut kekeh.
" Bibi ada ada saja, ini kan dunia nyata mana ada manusia bisa menghilang bi? jangan bercanda, lebih baik bibi membersihkannya saya mau mengantar teman saya pulang dulu." ucap Faris lagi kemudian mengajak Tazkia pergi dari sana sebelum ada pertanyaan lain lagi dari art nya itu.
" Aku jelas jelas melihat aden tiba tiba muncul, bagaimana mungkin aku salah lihat? tapi yang lebih tak mungkin lagi aden yang bisa menghilang bukan?" ucap art tersebut. "Sudahlah mungkin aku kecapekan kali ya?" tambahnya lagi kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil sekop dan sapu dan membersihkan pecahan vas tersebut.
Bersambung
__ADS_1