
Setelah menyelesaikan semua mata kuliahnya hari ini mereka berempat berencana untuk mampir ke cafe langganan mereka untuk sekedar nongkrong dan juga makan makan. Di saat keempatnya melintasi lorong kampus tiba tiba saja mereka berhenti karena mendapat panggilan dari seseorang.
" Ada apa pak?" tanya Prasetia.
" Baguslah kita bertemu di sini, bapak ingin menambah anggota kelompok kalian dengan dua orang lagi." ucap Reno yang lantas membuat keempatnya saling pandang.
" Bukankah pembagiannya sudah lengkap 4 orang ya pak, jika harus ada yang dipindahkan kami keberatan." ucap Tazkia.
" Kalian tenang saja bapak tidak akan merubah hanya menambahkan dua orang saja, kalian tidak perlu khawatir tentang itu." ucap Reno lagi meyakinkan.
" Memangnya siapa pak?" tanya Sinta penasaran.
" Aldo dan Doni." ucapnya.
" Gak bisa yang lain aja ya pak." protes Aditya sambil bergidik ngeri.
" Sudah tidak ada, bapak titip mereka ya." ucap Reno kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.
" Udah ah cabut yuk, lapar nih gue." ucap Prasetia.
Setelah kepergian Reno mereka melanjutkan langkah kaki mereka seperti rencana awalnya yaitu nongkrong di cafe.
*****
Satu persatu makanan di hidangkan di atas meja mulai dari yang berat, ringan hingga makanan pencuci mulut semua ada di sana. Aditya menatap satu persatu makanan dengan mata yang berbinar kemudian mulai memakannya di ikuti dengan yang lainnya.
" Oh ya memangnya ada apa dengan Aldo dan Doni kenapa lo langsung menolaknya?" tanya Sinta yang sudah penasaran sedari tadi.
Aditya yang mendengar hal itu lantas meletakkan sumpitnya sebentar kemudian meminum jus jeruk di sebelah piringnya.
" Kalian sungguh tidak tahu dengan Aldo dan Doni?" ucap Aditya yang di balas gelengan oleh ketiganya. " Astaga, rumor tentang mereka itu sudah menyebar luas di kampus, bisa bisanya kalian tidak tahu." imbuhnya lagi.
" Emang rumor apaan?" tanya Tazkia.
__ADS_1
" Jadi Aldo dan Doni itu terkenal karena tingkah mereka yang aneh, semua mahasiswa tahu lagi ... mereka itu tidak suka bergaul dengan mahasiswa lainnya, mereka juga sangat senang menyendiri, tidak hanya itu ada beberapa mahasiswa yang mengatakan bahwa mereka pernah melihat Aldo berbicara sendiri di gudang seperti orang stres namun tetap waras." jelas Aditya.
" Jika itu tentang Aldo lalu bagaimana dengan Doni?" tanya Prasetia.
" Doni ya tidak ada, Doni layaknya mahasiswa biasa hanya saja semenjak kenal dengan Aldo ia menjadi berubah dan suka menyendiri, tingkahnya bahkan mulai mengikuti Aldo, entahlah gue hanya mendengar hal itu soal alasan kenapa nya gue juga tidak tahu." ucap Aditya sambil terus mengunyah makanannya.
" Ku kira apaan, orang cuman menyendiri gitu doang, come on geis mereka mungkin juga punya alasan kali, kalian aja para mahasiswa yang suka ambil ribet urusan orang." ucap Sinta dengan entengnya.
" Ya gue setuju dengan ucapan Sinta, siapa tahu Aldo punya kelebihan seperti Tazkia bukan? hanya saja mungkin ia terlalu stres dan tidak bisa mengendalikannya." timpal Prasetia.
" Ya udah kalau kalian gak percaya, lagi pula kalau mereka punya kelebihan seperti Tazkia harusnya di manfaatkan bukannya malah stres dan kayak orang gila." ucap Aditya.
" Ngablak aja lo, gue buka mata batin lo baru tahu rasa, silahkan nikmati sendiri sensasinya ha." ucap Tazkia sambil dengan gerakan ingin menyentuh tangan Aditya.
Aditya yang bisa membaca gerakan tangan Tazkia lantas langsung menurunkan tangannya ke kolong meja dengan gerakan cepat sebelum tangannya berhasil di sentuh oleh Tazkia.
" Enak aja lo kagak bisa, gue sudah sangat sangat bersyukur tidak di berikan kelebihan seperti itu, cukup kemaren di villa gila itu aja gue ngelihat penampakan, kalau di sini tidak terima kasih." ucap Aditya sambil bergidik ngeri kala mengingat pengalamannya dulu.
" Dasar" ucap Tazkia yang langsung di iringi tawa pecah dari ketiganya.
Malam harinya Tazkia sedang menunggu dengan perasaan yang gugup, pasalnya malam ini adalah malam dinner pertamanya bersama Faris.
Sedari tadi Tazkia di sibukkan dengan memilih berbagai gaun untuk ia kenakan pada waktu dinner, benar benar menguras tenaga dan pada akhirnya pilihan Tazkia jatuh pada gaun sabrina polos dengan panjang selutut yang membuat kesan sederhana namun tetap terlihat elegan melekat pada diri Tazkia.
Tin tin
Suara klakson mobil mulai terdengar di halaman mansion, dengan langkah yang semangat Tazkia mulai menuruni satu persatu anak tangga dan menuju ke pintu utama.
" Apa kamu sudah menunggu lama?" tanya Tazkia ketika berada di ambang pintu.
Faris yang mendengar suara Tazkia lantas langsung berbalik dan menatap ke arah Tazkia.
Faris benar benar terpesona ke dalam kecantikan yang di miliki Tazkia, Tazkia bahkan tidak memakai mack up tebal dan juga gaun berlebihan seperti gadis gadis pada umumnya bisa di bilang sederhana namun masih terkesan cantik menurut Faris benar benar wanita idaman bagi para lelaki.
__ADS_1
" Apa kamu mendengar ku?" tanya Tazkia karena tidak mendapat jawaban dari Faris selain hanya terdiam menatap ke arahnya.
" Oh tidak terlalu lama, hanya beberapa menit saja." ucap Faris sambil tersenyum.
Faris kemudian melangkah mendekat ke arah Tazkia dan langsung menggantungkan tangan di depan Tazkia ( seperti ala ala hendak berdansa ).
" Mari nona" ucap Faris dengan tersenyum manis.
" Dengan senang hati tuan." balas Tazkia sambil menaruh tangannya di tangan Faris.
Keduanya lantas tertawa dengan aksi mereka barusan sambil terus melangkahkan kakinya memasuki mobil milik Faris dan membelah jalanan ibu kota di malam hari.
Beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi Faris berhenti di sebuah Restoran dengan gaya arsitektur yang unik dengan warna hitam putih sebagai dominan yang memenuhi setiap tembok Restoran tersebut.
Dengan langkah kaki perlahan namun pasti keduanya mulai masuk ke dalam dan langsung menempati meja yang sudah di pesan oleh Faris jauh jauh hari sebelumnya.
" Apa kamu suka? " tanya Faris ketika melihat senyuman terukir di wajah Tazkia sedari tadi.
" Yap, btw kamu tahu dari mana restoran ini?" tanya Tazkia sambil memandangi sekeliling dengan takjub karena keindahan setiap ornamen yang terpasang di Restoran tersebut.
" Aku mencarinya khusus untuk mu, bukankah aku perlu mendapat apresiasi atas semua ini?" ucap Faris.
" Ya sedikit." ucap Tazkia sambil memberi simbol sedikit dengan jari tangannya.
" Sedikit?" tanya Faris sambil mengerutkan keningnya dengan bingung.
" Tidak tidak aku hanya bercanda, aku sangat menyukainya terima kasih banyak." ucap Tazkia kemudian dengan tawa yang terkekeh geli.
" Kamu ya bisa aja ... jadi makin gemes aku." ucap Faris yang langsung membuat wajah Tazkia merona.
" Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu ..." ucap Faris namun terpotong karena ponsel Tazkia yang tiba tiba saja berdering.
" Aku angkat sebentar ya." ucap Tazkia yang di balas anggukan oleh Faris.
__ADS_1
" Yah gagal lagi, padahal tadi udah nyaris aku menembaknya, dasar telpon sialan mengganggu saja." ucap Faris dalam hati sambil menatap ke arah punggung Tazkia dengan kesal.
Bersambung