
Arini mengetuk perlahan pintu kamar Tazkia hendak membujuknya kali ini, sudah seminggu lebih Tazkia mengurung diri seperti ini, Arini benar benar takut jika Tazkia terlalu down itu akan mempengaruhi kondisi mentalnya.
"Ki boleh mama bicara?" ucap Arini sambil mengetuk pintu kamar Tazkia.
Cklek
Pintu kamar perlahan terbuka membuat Arini tersenyum setidaknya putrinya masih bisa diajak bicara. Arini melangkahkan kakinya masuk kemudian mengambil duduk di sebelah Tazkia.
"Apa mama mengganggumu?" tanya Arini memulai pembicaraan.
"Tidak"
"Mama sama papa mau minta maaf kalau kami tidak punya waktu yang banyak untuk mu sejak dulu." ucap Arini dengan nada yang sendu sedangkan Tazkia masih diam mendengarkan.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa mama jelaskan sekarang, tapi perlahan mama akan menjelaskan semuanya, mama mengerti kamu ingin seperti gadis normal seusia mu bukan? ingatlah Ki Tuhan memberikan kelebihan pada manusia yang ia rasa mampu menanggungnya, jangan jadikan kelebihan mu sebagai sebuah kutukan ambil sisi positifnya." ucap Arini.
"Lalu Kia harus apa ma? kelebihan ini telah merenggut teman Tazkia begitu juga mbok Ratmi, apa ini tetap bermakna kelebihan?" ucap Tazkia.
"Hidup dan mati seseorang itu sudah takdir Ki, harusnya kamu sedikit bersyukur karena di perlihatkan sesuatu yang berbeda sebelum ajal menjemput mereka. Ada dan tidaknya kelebihan mu mereka yang sudah ditakdirkan meninggal pasti akan meninggal Ki." ucap Arini.
"..."
"Pergilah ke vila nenek, nenek pasti akan senang jika kamu mengunjunginya." ucap Arini kemudian.
"Tapi ma, mama tahu bukan kalau nenek..." ucap Tazkia namun terpotong.
"Sudahlah, besok Faris akan mengantarmu ke sana, berlibur lah dan hilangkan penatmu." ucap Arini sambil tersenyum kemudian bangkit dan melenggang dari sana.
"Bagaimana bisa mama menyuruhku ke sana?" ucap Tazkia dengan nada kesal kemudian berbaring dan langsung menutup dirinya dengan selimut.
****
__ADS_1
Sementara itu di mansion milik Prasetia.
Prasetia berjalan ke arah taman samping dengan membawa beberapa cemilan untuk kedua temannya, ketika sampai di sana tidak ada tawa ceria yang biasa terdengar ketika mereka sedang berkumpul bersama, bahkan Aditya yang biasanya paling heboh kini nampak diam tak bersemangat.
"Gue benar benar merasa bersalah sama apa yang menimpa Tazkia." ucap Sinta dengan nada sendu setelah Prasetia menaruh cemilannya di atas meja.
"Lo apaan sih Sin, jangan terus menyalahkan diri lo, lagipula yang bener tuh ini salah setan kampret berkedok penyanyi itu bukan lo." ucap Aditya dengan nada yang kesal.
"Berkedok penyanyi?" ucap Sinta dengan bingung.
"Iya, habis setiap kali muncul selalu nembang lingsir wengi." ucap Aditya dengan nada datar.
"Kampret lo, gue kira apaan." ucapnya dengan kesal.
"Besok kita ke rumah Kia saja, siapa tahu Kia mau ketemu kita besok." ucap Prasetia memberikan ide.
"Gue setuju"
"Oke deal"
Keesokan paginya Tazkia sudah bersiap untuk pergi ke villa neneknya. Seperti ucapan Arini kemarin, Faris telah menunggu sedari tadi di depan mansion hendak mengantar Tazkia.
"Jaga dirimu baik baik ya Ki." ucap Arini yang di balas anggukan oleh Tazkia. "Anggap saja ini bonus dari mama untuk kamu, kapan lagi bukan berlibur berdua seperti ini? tapi jangan lupa batasan ya Ki mama percaya padamu." ucap Arini lagi namun kali ini dengan nada yang lirih agar tidak terdengar oleh Faris.
"Mama apaan sih?" ucap Tazkia dengan kesal.
Dari arah depan terlihat Faris berjalan mendekat ke arah keduanya hendak membantu Tazkia sekaligus berpamitan dengan Arini.
"Om kemana tan?" tanya Faris yang tak melihat Irawan sejak tadi.
"Biasalah suami tante itu kegiatannya kalau gak sibuk bekerja pasti ya sedang bertemu klien di lapangan golf, jadilah tante merana seperti ini, tapi khusus untuk kamu kalau sudah menikah jangan terlalu sering meninggalkan istrinya seperti papa Tazkia takutnya akan di culik seseorang." ucap Arini sambil berkedip jahil.
__ADS_1
"Mama gak lucu."
"Tante bisa aja." ucap Faris sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita pamit ya tan." ucap Faris kemudian.
"Iya hati hati di jalan, tante titip Kia ya..." ucap Arini yang di balas keduanya dengan anggukan.
**
Di dalam mobil yang di kemudikan Faris keheningan kembali terjadi di antara keduanya, entah mengapa Tazkia seperti akan ragu dengan semuanya apalagi sejak insiden kematian Ratmi membuat Tazkia sedikit menjaga jarak dengan orang orang terdekatnya termasuk ketiga sahabatnya. Bukan karena egois atau apa, hanya saja cukup Ratmi dan Doni yang pergi dan mengorbankan kehidupan untuknya, Tazkia benar benar tidak sanggup jika melihat orang orang yang dekat dan ia sayangi pergi satu persatu meski itu adalah sebuah takdir.
"Kenapa kamu mengiyakan ucapan mama? bukankah kata kata ku jelas kemarin." ucap Tazkia pada akhirnya.
"Jangan tumpahkan setiap permasalahan dengan kata break, justru harusnya kita makin erat agar hubungan kita semakin kuat dan tidak melemah ketika diterpa badai sekencang apapun." ucap Faris masih dengan senyum yang bisa Kia lihat sekilas dari sudut matanya.
Entah mengapa Faris benar benar sosok yang penyabar dan hangat dalam menghadapi dirinya yang penuh kelabilan. Hal itu terkadang membuat Tazkia berpikir, bagaimana kalau Faris sudah lelah menghadapinya? akankah Faris pergi dan mencari yang lain? pertanyaan demi pertanyaan seperti itu sering sekali terlintas di pikirannya, membuat ia kadang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Faris yang terlalu hangat dan manis, meski sebetulnya Tazkia selalu mendambakannya.
"Ris kamu tahu sendiri bukan? setiap orang yang berada di dekatku pasti akan..." ucap Tazkia namun terhenti.
"Mati!" ucap Faris singkat. "Ki berapa kali ku bilang bahwa kematian adalah takdir, dan jika memang aku ditakdirkan meninggal ketika bersama mu aku siap menerimanya." ucap Faris dengan yakin.
"Bagaimana bisa kamu mengucapkan kata kematian segampang itu?" ucap Tazkia dengan penasaran namun Faris hanya tersenyum lalu mengelus pelan rambut Tazkia, kemudian kembali fokus menatap jalanan sekitar.
"Profesi ku adalah seorang dokter, dan kata kata kematian erat kaitannya dengan dunia medis, kami para dokter dituntut siap mati kapanpun layaknya seorang prajurit yang sedang berperang, kami tidak tahu kapan kami akan terjangkit sebuah virus yang berbahaya dan mematikan yang di derita seorang pasien, jadi ada dan tidak adanya aku disisi mu, bukankah itu sama saja?" ucap Faris dengan nada yang hangat dan bersahabat yang semakin membuat Tazkia jatuh lebih dalam lagi akan pesona dokter tampan satu ini.
Tazkia benar benar tersentuh hingga ia dengan spontan langsung memeluk Faris dari arah samping membuat Faris gemas akan tingkah Tazkia. Faris kemudian lantas mengaktifkan mode autopilot dan melepas kendali setirnya.
"Kemarilah" ucap Faris sambil menepuk bahunya agar Tazkia bersandar di sana.
Tazkia yang melihat hal itu lantas mulai mendekat dan bersandar pada bahu Faris.
__ADS_1
"Lain kali jangan seperti itu ya Ki, sikap mu kemarin benar benar membuatku takut." ucap Faris kemudian mencium kening Tazkia dengan lembut.
Bersambung