Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kampung yang masih asri ~Tugas terakhir (Ambulans) #6


__ADS_3

Keesokan harinya


Setelah Faris memberikan alamat Eko kepada Tazkia sesuai janjinya semalam, Tazkia lantas langsung mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju rumah Eko, Tazkia berangkat ke sana tentu saja tidak sendiri, kali ini ia di temani oleh Aditya. Yap gara gara kemarin yang di ajak penelusuran adalah Prasetia jadilah Aditya merajuk dan meminta gantian menemani Tazkia pergi. Bukan dua orang itu sangat merepotkan? padahal Tazkia sama sekali tidak minta untuk di temani namun Aditya kekeh dan terus mengatakan ingin ikut.


"Dit bangun... kita sudah sampai" ucap Tazkia membangunkan Aditya yang tengah tertidur pulas di kursi penumpang


"Sudah sampai ya? cepat amat" tanya Aditya sambil mengucek matanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Tazkia yang mendengar ucapan Aditya barusan lantas menatap Aditya dengan tatapan tidak percaya. "Perjalanan kita bahkan memakan waktu hampir 2 jaman Dit, lo mengigau apa gimana?" ucap Tazkia kemudian dengan kesal karena ucapan Aditya yang ngelantur.


"Ya biasa aja kali Ki, gue kan cuman tanya." ucap Aditya dengan santainya namun di balas tatapan tajam oleh Tazkia. "Kita jadi turun atau cekcok di sini nih?" tanya Aditya kemudian.


"Lo ngomong sekali lagi gue tampol lo!" ucap Tazkia dengan nada yang kesal sambil melangkah turun dari mobil di ikuti Aditya di belakangnya.


Tazkia menatap ke sekeliling dengan seksama. Kampung ini terlihat masih sangat asri walau letaknya masih berada di ibu kota, begitu nyaman dan teduh tanpa adanya asap kendaraan ataupun bunyi bunyi bising pabrik pembangunan maupun sejenisnya.


"Lo yakin di sini Ki?" tanya Aditya karena merasa aneh dengan kampung ini yang terlihat sangat sepi padahal ini masih sekitaran jam 12 siang.


"Mana gue tahu, gue hanya mengikuti alamat yang di berikan oleh Faris saja selebihnya i don't know." ucap Tazkia sambil mengangkat bahunya pelan tanda tidak tahu.


"Lalu kita harus gimana sekarang?" tanya Aditya.


"Kita coba bertanya ke sana sepertinya di sana ada warung." ucap Tazkia sambil menunjuk ke arah yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Baiklah" ucap Aditya sepakat.

__ADS_1


Keduanya kemudian lantas mulai melangkahkan kaki mereka menuju warung yang tak jauh dari keduanya berada. Perlahan Tazkia dan Aditya berjalan masuk dan hendak bertanya alamat yang tertera pada memo yang tadi di berikan oleh Faris di rumah sakit tadi.


"Permisi bu saya mau tanya tentang alamat ini, apa ibu tahu?" ucap Tazkia dengan sopan kepada ibu ibu penjaga warung.


Ibu ibu itu lantas langsung melihat ke arah kertas memo yang di tunjukkan oleh Tazkia barusan. Raut wajah sang ibu itu berubah tepat ketika Tazkia menunjukkan alamat itu padanya, membuat Aditya dan juga Tazkia yang menyadari hal itu lantas saling pandang satu sama lain.


"Ada apa kalian mencari alamat itu?" tanya ibu ibu itu dengan ketus.


"Kami hanya ingin mengunjungi keluarga pak Eko bu." ucap Tazkia beralasan.


Mendengar jawaban Tazkia ibu ibu itu nampak diam sejenak seperti tengah berpikir.


"Kalian pergilah lurus ke arah jalan setapak itu setelah ada pertigaan kecil kalian belok ke kanan rumah nomor lima dari arah kalian berdiri." ucap ibu ibu itu memberikan patokan menuju ke rumah Eko.


Baik Tazkia maupun Aditya lantas bernafas lega ketika ibu ibu itu mau memberikan mereka patokannya yang jelas.


"Sebaiknya kalian tidak usah ke sana karena keluarga mereka adalah pembawa sial di kampung ini, karenanya kami semua mendapat teror di malam harinya." ucap ibu ibu tersebut tiba tiba yang lantas menghentikan langkah kaki Tazkia dan juga Aditya yang hendak melangkah pergi dari sana.


Tazkia yang mendengar ucapan ibu tersebut lantas langsung berbalik badan dan tersenyum ke arah ibu ibu itu dengan sopan. "Terima kasih banyak atas sarannya bu, kami tidak akan lama hanya mampir sebentar lalu pulang." ucap Tazkia dengan sopan.


"Terserah pada kalian yang terpenting aku sudah memperingatkan kalian!" ucap ibu ibu itu lagi kemudian melenggang pergi masuk ke dalam.


Lagi lagi Tazkia dan Aditya saling pandang satu sama lain, menatap bingung ke arah ibu ibu itu yang kini sudah tidak terlihat lagi di pandangan mata keduanya.


"Apa lo yakin kita lanjut Ki?" tanya Aditya kemudian agak ragu setelah mendengar peringatan dari ibu ibu penjaga warung itu.

__ADS_1


"Tentu saja Dit kita sudah kepalang basah dan tanggung banget kalau harus kembali sekarang." ucap Tazkia dengan nada yakin.


Pada akhirnya keduanya memilih untuk meneruskan langkah mereka mencari rumah Eko sesuai dengan petunjuk ibu ibu penjaga warung tadi.


****


Ruang rawat inap Sinta


Terlihat Prasetia tengah duduk dengan gelisah sambil terus memandangi ponsel miliknya. Sinta yang sadar ada yang tidak beres dengan Pras, lantas mulai mendorong tiang infusnya dan berjalan perlahan mendekat ke arah Prasetia dan ikut duduk di sofa.


"Ada apa dengan muka lo Pras suntuk amat?" tanya Sinta memulai basa basinya.


"Kenapa lo turun? lebih baik lo kembali ke brankar dan istirahat." ucap Prasetia yang melihat Sinta sudah mengambil duduk di sebelahnya.


Sinta yang mendengar hal itu bukannya menuruti ucapan Prasetia malah tersenyum ke arahnya.


"Jangan menipu gue seperti itu, lo itu bukan tipe tipe orang yang pandai dalam berbohong. Lagi pula gue udah mulai mendingan kok hanya tangan gue aja yang masih di gips selebihnya ok." ucap Sinta dengan nada yang santai membuat Prasetia lantas menghela nafasnya panjang karena ternyata ia tidak bisa sama sekali menyembunyikan raut wajahnya yang penasaran karena baik Tazkia maupun Aditya sama sekali tidak ada yang memberinya kabar dari tadi. "Katakan ada apa? ini pasti ada hubungannya dengan Kia dan juga Adit yang sekarang sedang pergi bukan?" tebak Sinta kemudian karena sedari tadi ia hanya melihat Prasetia diam tanpa menjelaskan apapun, membuat Sinta semakin penasaran di buatnya.


"Ya tebakan mu benar, aku sedang mengkhawatirkan Adit dan juga Kia yang tidak memberiku kabar sama sekali sedari tadi." ucap Prasetia pada akhirnya.


"Memangnya mereka pergi ke mana?" tanya Sinta kemudian dengan penasaran.


"Mereka sedang mencari rumah pak Eko supir ambulans rumah sakit ini." ucap Prasetia memberitahu Sinta namun tidak secara gamblang membuat Sinta sedari tadi berpikir keras mencoba merangkai clue clue yang di berikan oleh Prasetia.


"Pak Eko? ngapain?" tanya Sinta lagi karena jujur saja sedari tadi yang di lakukan Prasetia hanya menjawab pertanyaannya saja tanpa menjelaskan alur ceritanya secara langsung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2